Langkah-Langkah Membangun Masyarakat Baru Ala Rasulullah

Setelah Rasulullah berhijrah ke Madinah, beliau singgah di Bani An Najjar, tepatnya di rumah sahabat mulia Abu Ayyub Al Anshari. Dan mulai membangun masyarakat baru di kota Madinah tersebut.

Langkah pertama yang diambil oleh Rasulullah dalam membangun masyarakat baru adalah membangun masjid. Tepat di tempat menderumnya unta Rasul, beliau membeli tanah tersebut dari dua anak yatim yang menjadi pemiliknya. Beliau terjun langsung dalam pembangunan masjid itu, memindahkan bata dan bebatuan, seraya bersabda, “Ya Allah, tidak ada kehidupan yang lebih baik kecuali kehidupan akhirat. Maka ampunilah orang-orang Anshar dan Muhajirin.”

Setelah mendengar sabda Rasulullah, semangat para sahabat semakin terpompa dalam bekerja, hingga salah satu dari mereka berkata, “Jika kita duduk saja sedangkan Rasulullah bekerja, itu adalah tindakan orang tersesat.”

Sementara di tempat tersebut ada kuburan orang-orang musyrik, puing-puing reruntuhan bangunan, pohon kurma dan sebuah pohon lain. Maka beliau memerintahkan untuk menggali kuburan-kuburan itu, meratakan puing-puing bangunan, memotong pohon dan menetapkan arah kiblatnya yang saat itu masih menghadap ke Baitul Maqdis. Panjang bangunannya ke arah kiblat hingga ke ujungnya ada seratus hasta dan lebarnya juga hampir sama. Adapun pondasinya kurang lebih 3 hasta.

Beliau juga membangun beberapa rumah di sisi masjid, yang terbuat dari batu dan bata, dan atapnya dari daun kurma. Dan itu adalah bilik-bilik untuk istri-istri nabi. Setelah semuanya beres, maka beliau pindah dari rumah Abu Ayyub ke rumah itu.

Dan masjid yang dibangun oleh Rasulullah ini memiliki fungsi yang sangat penting, diantaranya, melaksanakan sholat fardhu, tempat belajar bagi orang-orang muslim agar mendapat pengajaran islam dan bimbingannya, sebagai balai pertemuan dan persatuan berbagai unsur kekabilahan dari sisa-sisa pengaruh perselisihan semasa jahiliyah, dan sebagai tempat untuk mengatur segala urusan. Di samping itu semua, masjid tersebut juga berfungsi sebagai tempat tinggal orang-orang Muhajirin yang miskin, yang datang ke Madinah tanpa memiliki harta, kerabat dan masih bujangan atau belum bekerja.

Pada masa-masa awal hijrah itu, disyariatkan adzan. Panggilan kaum muslim untuk melaksanakan shalat, dikumandangkan 5 kali sehari.

Kemudian langkah yang ditempuh Rasulullah setelah membangun masjid adalah mempersaudarakan di antara sesama orang-orang muslim. Peristiwa ini sangatlah monumental dalam sejarah. Ibnul Qoyyim menuturkan “Kemudian Rasulullah mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin di rumah Anas bin Malik. Yang dipersaudarakan ada 90 orang, setengahnya dari Muhajirin dan setengahnya dari Anshar. Beliau mempersaudarakn agar mereka saling tolong-menolong, saling mewarisi harta jika ada yang meninggal. Waris-mewarisi ini berlaku hingga perang Badr. Tatkala turun ayat Al Anfal: 75, maka hak saling mewarisi menjadi gugur tetapi ikatan saudara masih tetap berlaku.

Rasulullah menjadikan persaudaraan ini sebagai ikatan yang benar-benar harus dilaksanakan, bukan sekedar isapan jempol belaka, harus menjadi tindakan nyata yang mempertautkan antara harta dan dunia. Dan memang begitulah yang terjadi. Dorongan perasaan untuk mendahulukan kepentingan yang lain, saling mengasihi dan saling memberi pertolongan benar-benar mewarnai masyarakat yang baru dibangun ini yang mampu menimbulkan keheranan dan decak kekaguman.

Salah satu peristiwa yang menjadi ikon dalam persaudaraan Anshar dan Muhajirin adalah persaudaraan antara Abdurrahman bin Auf dan Saad bin Rabi’. Al Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya, Saad berkata kepada Abdurrahman, “Sesungguhnya aku adalah orang paling banyak hartanya di kalangan Anshar. Ambillah separuh hartaku, dan aku juga memiliki dua istri, lihatlah mana engkau pilih, agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis, maka nikahilah ia!”

Abdurrahman berkata, “Semoga Allah memberkahi bagimu dalam keluarga dan hartamu. Lebih baik tunjukkan saja di mana pasar kalian?”. Maka orang-orang menujukkan pasar Bani Qainuqa’. Tak seberapa lama kemudian dia sudah mendapatkan sejumlah samin dan keju. Jika pagi hari dia sudah pergi untuk berdagang. Suatu hari dia datang dan agak pucat.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Rasulullah. “Aku sudah menikah.” Jawabnya. “Berapa banyak mas kawin yang engkau berikan pada istrimu?”. Dia menjawab, “Beberapa keping emas.”

Ini menujukkan seberapa jauh kemurahan hati Anshar terhadap saudara mereka dari Muhajirin. Mereka mau berkorban, lebih mementingkan kepentingan saudaranya, mencintainya, dan menyayanginya.

Pertautan persaudaraan ini benar-benar merupakan tindakan yang sangat tepat dan bijaksana, karna bisa memecahkan sekian banyak problem yang sedang dihadapi orang-orang muslim.

Dengan 2 hal ini, Rasulullah mampu membangun sebuah masyarakat yang baru di Madinah, suatu masyarakat yang mulia lagi mengagumkan yang dikenal dalam sejarah.

Sumber: Ar Rahiqul Makhtum, Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Pustaka kautsar, cetakan 1 1414 H, hal 210-213