Pelajaran Dari Perjanjian Hudaibiyah #1

 

Perjanjian hudaibiyah merupakan bentuk upaya diplomasi yang dilakukan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam Shuntuk meredakan ketegangan militer antara umat Islam dengan kaum musyrikin quraisy. Kesepakatan bermula ketika 1400 pengikut Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berencana untuk menunaikan ibadah haji. Kaum musyrikin menentang keputusan tersebut. Akhirnya mereka menghalangi umat muslim dengan melancarkan serangan militer yang cukup besar. Akhirnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memutuskan untuk mengadakan perundingan yang menghasilkan perjanjian hudaibiyah. Perjanjian ini diputuskan pada Maret 628 M atau Dzulqaidah 6 H. Dalam rentetan perjanjian Hudaibiyah, banyak sekali mengandung pelajaran; baik yang bersifat akidah, fikih, ushul maupun edukasi. Beberapa pelajaran yang bisa diambil adalah sebagai berikut:

Pertama : Hukum-hukum Berkaitan dengan Akidah

1. Hukum berdiri di Depan Pembesar Yang Sedang Duduk

Misalnya, berdirinya al-Mughirah bin Syu’bah di depan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dengan menggunakan pedang. Sebenarnya ini bukan kebiasaannya untuk berdiri ketika menyambut tamu. Akan tetapi, ini adalah suatu tradisi yang patut ditiru ketika kedatangan delegasi dari pihak musuh karena ini merupakan bentuk rasa hormat kepada pemimpin dan bukti ketaan bawahan kepada atasannya. Ini juga kebiasaan yang berlaku ketika delegasi orang mukmin datang kepada orang kafir, dan begitu juga sebaliknya. Dan ini bukanlah termasuk hal yang dicela oleh Rasulullah dalam sabdanya, “Barang siapa senang dihormati orang lain dengan berdiri, hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR Abu Dawud no. 5229 dan at-Tirmidzi no. 2755)

Bersikap bangga dan sombong dalam peperangan juga tidak termasuk perbuatan tercela seperti dalam keadaan tidak berperang. Ini seperti yang dilakukan oleh Abu Dujanah dalam perang Uhud. Semua tindakan yang mengandung unsur kesombongan bahkan hanya dalam gaya berjalan secara syari’at hukumnya haram. Akan tetapi, dalam peperangan hal ini diperbolehkan secara khusus. Dalilnya adalah sabda Rasulullah ketika mengomentari gaya berjalannya Abu Dujanah, “Itu adalah gaya berjalan yang dibenci oleh Allah kecuali dalam keadaan seperti ini (perang).” (HR ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 6508)

2. Anjuran Bersikap Optimis

Ketika Suhail bin Amru datang kepada Rasulullah untuk urusan negoisasi, Rasulullah bersabda, “Semoga Allah memudahkan urusan kalian.” Dalam hadits ini terdapat anjuran bersikap optimis. Hal ini bukanlah mempercayai kesialan yang dicela dalam Islam. (Zad al-Ma’ad 3/305)

Banyak hadits Nabi yang menjelasakan makna optimis. Di antaranya, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada perasaan sial (setelah mendengar suara burung tertentu) dalam Islam. Yang terbaik adalah optimis.” (Ghazwah al-Hudaibiyyah, hal. 303)

3. Meyakini Bahwa Bintang Tertentu Mempunyai Pengaruh Dalam Menciptakan Hujan Adalah Kafir.

Khalid al-Juhani bercerita, “Rasulullah menjadi imam kita pada waktu shalat Subuh di Hudaibiyah. Malam itu turun hujan lebat hingga masih terlibat bekasnya sampai waktu fajar. Setelah selesai shalat, Rasulullah menghadap arah para sahabatnya, lalu bersabda, ‘Tahukah kalian apa yang Rabb katakana kepada kalian?’ Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Rasulullah bersabda, ‘Allah berfirman, ‘Di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Barang siapa berkata kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah, maka dia adalah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun orang yang berkata kami diberi hujan karena bintang ini dan ini, maka dia adalah orang yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.’” (HR. Bukhari no. 846 dan Muslim no. 71)

Maksud kufur di disini menurut Imam asy-Syafi’i dalah kufur berupa kayakinan. Maka barang siapa yang meyakini bahwa hujan turun lantaran bintang, maka ia telah melakukan hal yang merusak keimanan. (Ghazwah al-Hudaibiyah, Al-Hakami, hal. 304)

4. Mencari Berkah dari Bekas Orang-orang Saleh

Dari Hadits Urwah bin Mas’ud ketika menceritakan para sahabat Rasul, dia berkata, “Demi Allah, apabila Rasullah Shallallahu alaihi wa sallam meludah, niscaya jatuh ke telapak tangan salah seorang di antara mereka, kemudian mereka mengusapkannya ke wajah dan kulit mereka. Apabila Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berwudhu, para sahabat hampir saling beebut untuk mengambil bekas wudhu beliau.”

Imam asy-Syathibi mengomentari hadits ini dan hadits-hadits lainya yang sejenis. Dia berkata, “Secara tekstual, Tindakan seperti ini disyariatkan untuk orang yang terbukti mempunyai kewalian dan mengikuti sunnah Rasulullah. Yaitu tindakan mencari berkah dengan sisa air wudhu beliau, mengusapkan ludah beliau, dan memakai semua sisanya sebagai obat. Akan tetapi, hal itu dilakukan oleh para sahabat hanya ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam masih hidup. Setelah Rasulullah wafat, para sahabat tidak melakukan hal tersebut kepada seorangpun diantara mereka. Rasulullah tidak meninggalkan seorang pun yang lebih baik sepeninggal beliau melebihi Abu Bakar ash-Shidiq. Dia adalah khalifah beliau. Akan tetapi, tidak seorang pun sahabat yang melakukan perbuatan tadi kepada Abu Bakr. Tidak pula kepad Umar ibnu Khattab yang merupakan orang terbaik setelah Abu Bakr. Demikian juga Utsman, Ali, dan semua sahabat dimana tidak seorang pun dari kalangan umat ini yang lebih utama dan lebih mulia. Mereka hanya mengikuti tindakan, perkataan, dan perjalanan hidup seperti yang mereka lakukan terhadap Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam . Jadi, ini adalah ijma’ para sahabat untuk tidak melakukan tabaru’ (mengambil barakah) dari selain Nabi Muhammad. (Ghazwah al-Hudaibiyah, Al-Hakami, hal. 205)

Referensi:  Shirah Nabawiyyah versi terjemahan, Prof. Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi,  hal. 891-894