Sanjungan Bagi Kaum Muhajirin Dengan Sifat-Sifat Terpuji#2

Kaum muhajirin adalah mereka yang telah mengorbankan harta, kampung halaman, dan keluarga untuk berhijrah di jalan Allah dalam rangka menolong-Nya dan Rasul-Nya. Mereka telah menunjukkan rasa cinta mereka kepada Allah dan Nabi Muhammad melebih cinta mereka terhadap apapun didunia ini. Mereka ridha dengan Allah dan Rasul-Nya dan merekapun diridhai-Nya. Bahkan Allah menyanjung mereka dengan sifat-sifat yang terpuji. Diantara sifat-sifat tersebut adalah:

Tawakkal kepada Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ فِى ٱللَّهِ مِنۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا۟ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ ٱلْءَاخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ. ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ.

“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.” (an-Nahl :41-42)

Allah Ta’ala memuji kaum muhajirin sebagai orang-orang yang bertawakal kepda Allah; bukan kepada selain-Nya. Tawakal kepada Allah adalah adalah ciri khusus dan tanda adanya keimanan. Tawakal kepada Allah adalah konsekuensi dari keimanan. Allah Ta’ala berfirman,

“Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (al-Maidah : 23)

“Berkata Musa: ‘Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri’.” (Yunus: 84)

Rasulullah dan para sahabat yang mulia adalah contoh yang bisa dijadikan panutan sepanjang zaman mengenai penerjemahan tawakal dalam realitas kehidupan pada peristiwa hijrah. Oleh karena tawakal mereka kepada Allah yang sangat tinggi, maka Allah memuji mereka dan memberi mereka sebaik-baik pahala. (lihat al-Hijrah fi al-Qur’an al-Karim, hal. 114-117)

 

Berharap kepada Allah

Diantara sifat mulia kaum muhajirin yang dipuji oleh Allah adalah selalu berharap kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 218)

Allah berfirman “mereka mengharapkan” menunjukkan bahwa Allah memuji mereka. Sebab, tidak seorangpun didunia ini yang mengetahui bahwa dia akan berada di surga meskipun telah melakukan ketaatan kepada Allah dengan sebaik-baiknya. Hal ini karena dua perkara. Pertama, dia tidak mengetahui akhir hidup yang diberikan Allah. Kedua, agar tidak sepenuhnya bergantung dengan amalnya. Kaum muhajirin adalah orang-orang yang telah diampuni oleh Allah. Meskipun demikian, mereka tetap mengharapkan rahmat Allah. Hal itu untuk menambahkan keimanan mereka. (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an juz 3/50)

 

Mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam

Diantara yang menunjukkan bahwa hijrah mempunyai posisi agung didalam al-Qur’an adalah bahwa Allah menyifati kaum muhajirin dan kaum anshar sebagai orang-orang yang mengikuti Rasulullah. Allah berfirman,

لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِىِّ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِى سَاعَةِ ٱلْعُسْرَةِ مِنۢ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُۥ بِهِمْ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (at-Taubah: 117)

Kaum muhajirin dan anshar adalah orang-orang yang mengikuti Rasul dalam perkataan maupun perbuatan bahkan dalam saat-saat yang sempit. Hal ini menunjukkan bahwa mereka layak mendapatkan kedudukan agung dan penerimaan taubat dari Allah Ta’ala.

Ayat ini diturunkan saat perang Tabuk. Saat itu, mereka berangkat pada musim panas, paceklik, serta sulit mendapatkan bekal dan air. Qatadah berkata, “Mereka berangkat ke Syam menuju Tabuk saat terik matahari sedang berada pada puncaknya. Seakan-akan Allah ingin melihat bagaimana mereka menghadapi keadaaan yang berat ini. Dikisahkan ada dua orang membelah sebuah kurma untuk dibagi keduanya. Kemudian yang lain bergiliran mencicipi kurma itu, dihisap lalu mengecapnya, kemudian dihisap lagi lalu mengecapnya. Allah lantas menerima taubat mereka dan mengembalikan mereka dari pengan itu dalam keadaan selamat.” (Tafsir al-Qur’an al-Adzim 2/397)

Sikap mengikuti Rasulullah menunjukkan kebenaran iman dan agama. Sikap itu dengan jelas memisahkan antara keimanan dan kekufuran. Sikap itu juga merupakan bukti kecintaan kepada Allah. Cinta kepada Allah bukan hanya pengakuan dengan lisan dan kegandrungan dengan perasaan. Cinta kepada Allah harus disertai sikap mengikuti Rasulullah, menemouh petunjuknya, dan melaksanakan manhajnya dalam kehidupan. Sesungguhnya iman bukanlah kata-kata yang diucapkan, perasaan-perasaan yang dikobarkan, maupun slogan-slogan yang diviralkan. Akan tetapi, iman adalah menaati Allah dan Rasul-Nya serta melaksanakan manhaj Allah yang dibawa oleh Rasulullah. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.  قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ.

Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian,’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali ‘Imran : 31-32)

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya mengenai ayat diatas, “Ayat yang mulia ini menyatakan bahwa semua orang yang mengaku cinta kepada Allah namun tidak mengikuti jalan Muhammad adalah dusta. Pengakuannya baru diterima apabila dia mengikuti syariat dan agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dalam semua perkataan dan perbuatannya. (Tafsir al-Qur’an al-Adzim 3/466)

 

Keimanan Hakiki

Diantara sifat mulia kaum muhajirin yang dipuji Allah dalam kitab-Nya adalah bahwa mereka memiliki keimanan yang hakiki. Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَوا۟ وَّنَصَرُوٓا۟ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.(al-Anfal: 74)

Ini adalah kesaksian dari Allah  Yang Maha Mengetahui terhadap kaum muhajirin bahwa mereka adalah orang-orang mukmin sejati. Kaum muhajirin adalah contoh yang hakiki yang memberikan teladan dalam masalah keimanan. Mereka juga menjadi panutan yang baik bagi orang-orang yang datang setelah mereka dan gambaran konkret dalam menerjemahkan sifat-sifat mulia dalam realitas kehidupan. Oleh karena itu, mereka layak mendapatkan pujian dari Allah bahwa mereka adalah orang-orang mukmin sejati.

 

Sumber : Sirah Nabawiyah, Prof. Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi