Sanjungan Bagi Kaum Muhajirin Dengan Sifat-Sifat Terpuji#1

 

Hijrah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam  yang diberkati dari  Mekah ke Madinah dianggap sebagai peristiwa penting dalam sejarah dakwah Islam. Ia merupakan titik perubahan dalam sejarah kaum muslimin. Kaum muslimin sebelum hijrah adalah umat dakwah. Mereka menyampaikan dakwah Allah kepada manusia tanpa memiliki eksistensi politik yang melindungi para pendakwah atau membela mereka dari siksaan musuh-musuhnya.

Setelah berhijrah, berdirilah pemerintahan dakwah. Pemerintah ini memikul diatas bahunya penyebaran Islam didalam maupun diluar Jazirah Arab. Para pendakwah diutus keberbagai negeri. Mereka dibela dan dilindungi oleh pemerintahan ini dari segala bentuk permusuhan yang bisa menimpa mereka meskipun untuk itu dapat menyebabkan terjadinya perang.

Disamping itu, hijrah Nabi memiliki kedudukan dalam memahami al-Qur’an dan ilmu-ilmunya. Para ulama’ membaginya antara Makkiyah dan Madaniyah. Makkiyah adalah ayat-ayat yang diturunkan sebelum hijrah meskipun tidak turun dikota Mekah, sedangkan Madaniyah adalah ayat-ayat yang diturunkan setelah hijrah meskipun tidak turun dikota Madinah.

Mengenai urgensi hijrah Nabi, kita melihat bahwa al-Qur’an menyeru kaum mukmin untuk berhijrah di jalan Allah dengan cara yang bermacam macam. Terkadang dengan sanjungan kepada kaum muhajirin dengan sifat-sifat terpuji atau dengan janji dan ganjaran bagi muhajirin. Kadang pula dengan ancaman dan peringatan bagi yang meninggalkan hijrah.

Allah memuji kaum muhajirin di dalam al-Qur’an dengan menggambarkan mereka sifat-sifat mereka yang mulia dan istimewa. Hal itu karena mereka diusir dari negeri dan kehilangan harta juga keluarga. Mereka terpaksa keluar karena disiksa, dianiaya, dan tidak diakui oleh keluarga mereka. Mereka diusir tidak lain karena mengatakan Tuhan kami adalah Allah. Dianatara sifat mulia mereka adalah sebagai berikut:

 

Ikhlas

Allah Ta’ala berfirman,

لِلْفُقَرَآءِ ٱلْمُهَٰجِرِينَ ٱلَّذِينَ أُخْرِجُوا۟ مِن دِيَٰرِهِمْ وَأَمْوَٰلِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا وَيَنصُرُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ

          “(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar”. (al-Hasyr :8)

Firman Allah, “(karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya”, menunjukkan bahwa mereka meninggalkan tempat tinggal dan harta mereka dengan benar-benar ikhlas karena Allah serta mencari karunia dan keridhaan-Nya.

 

Sabar

Di anatara sifat dan akhlak istimewa kaum muhajirin yang dipuji oleh Allah adalah kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ فِى ٱللَّهِ مِنۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا۟ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ ٱلْءَاخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ. ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ.

          “Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.” (an-Nahl :41-42)

          “Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (an-Nahl: 110)

 

Jujur

Diantara sifat mulia kaum muhajirin yang terpuji, adalah kejujuran yang dijunjung tinggi oleh mereka. Allah Ta’ala berfirman,

          “(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar”. (al-Hasyr :8)

Al-Baghawi mengatakan dalam tafsirnya, “mereka adalah orang-orang yang benar”, yakni dalam keimanan mereka. Sementara itu, Qatadah mengatakan, “Mereka adalah kaum muhajirin yang meninggalkan negeri, harta, dan keluarga mereka. Mereka keluar dari sana karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, serta memilih Islam meskipun harus mengalami penderitaan. Dalam sebuah kisah, sampai-sampai disebutkan bahwa seseorang menikatkan batu ke perutnya agar tulangnya bisa tetap tegak menahan lapar. Orang lain menggunakan tikar untuk menutupi badannya pada musim dingin karena tidak mempunyai selimut selain tikar tersebut.” (Tafsir al-Baghawi juz. 4/318)

 

Jihad dan Pengorbanan

Allah Ta’ala berfirman,

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ

          “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”  (at-Taubah : 20)

Dakwah para rasul dibangun diatas pengorbanan. Dakwah mereka senantiasa menghadapi penentangan, pengingkaran, dan permusuhan yang kuat. Semua ini harus dihadapi dengan soliditas, kekuatan iman, keteguhan aqidah, dan pengorbanan yang besar. Hidup dibawah naungan akidah adalah hidup untuk jihad dan perjuangan. Semenjak permulaan dakwah, turunnya Jibril untuk menyampaikan wahtu merupakan pemberitahuan kepada Rasulullah mengenai rintangan yang akan dilancarkan oleh kaumnya. Waraqah bin Naufal pernah berkata kepada beliau, “Dia adalah Namus yang pernah diturunkan kepada Musa. Aduhai, seandainya aku masih muda dan kuat pada saat yang akan tiba itu! Aduhai seandainya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu.” Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya. Setiap orang yang datang membawa risalah sepertimu pasti akan dimusuhi. Seandainya aku masih hidup pada saat itu terjadi, nisacaya aku akan menolongmu dengan sungguh-sungguh. (Hadits Riwayat Bukhari no. 3 dan Muslim no. 160)

Peristiwa hijrah mencakup berbagai macam pengorbanan serta pencurahan jiwa dan harta di jalan Allah. Barangkali penekanan yang layak diperhatikan dalam sisi ini bahwa pengorbanan merupakan sebuah keharusan dalam jihad di jalan Allah. Sebab, bukanlah jihad jika tanpa pengorbanan. (lihat al-Hijrah fi al-Qur’an al-karim, hal. 104.)

 

Mereka menolong Allah dan Rasul-Nya

Allah Ta’ala berfirman,

          “(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar”. (al-Hasyr :8)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah memuji kaum muhajirin sebagai orang-orang yang menolong Allah dan Rasul-Nya. Hal itu karena mereka keluar meninggalkan Mekah dengan membuat orang-orang kafir marah. Mereka lalu berhijrah ke Madinah tidak lain adalah untuk menolong Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Menolong Allah adalah syarat untuk meraih kemenangan dan stabilitas. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad :7)

Sayyid Quthub Rahimahulla berkata, “Bagaimana cara orang-orang beriman menolong Allah agar mereka bisa menunaikan syarat serta meraih kemenangan dan stabilitas sebagai hasil dari syarat tersebut? Hendaknya jiwa mereka terfokus hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun; baik sekutu yang nampak maupun tidak nampak. Hendaknya Allah menjadi pihak yang paling dicintai daripada diri sendiri dan setiap perkara yang dicintai dan disenangi oleh jiwa. Hendaknya Allah menjadi hakim dalam keinginan, keengganan, gerakan, dan diamnya jiwa. Inilah makna menolong Allah yang dilakukan oleh jiwa.

Sesungguhnya Allah mempunya syariat dan metode kehidupan yang berdiri diatas kaidah-kaidah, timbangan-timbangan, nilai-nilai, dan konsepsi khusus terhadap semua entitas dan kehidupan. Wujud menolong Allah adalah menolong syari’at dan metode-Nya serta berusaha menerapkannya salam semua bidang kehidupan tanpa terkecuali. Demikianla makna menolong Allah dalam relitas kehidupan. (lihat Fie Dzilali al-Qur’an juz. 6/3288)

 

Sumber : Sirah Nabawiyah, Prof. Dr. Ali Muhammad Ahs-Shallabi