Larangan Memakan Bangkai, Darah dan Babi

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (Al-Baqarah: 173).

Allah berfirman, “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (Al-Maidah: 3).

Allah juga berfirman, “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (Al-An’aam: 145).

Kandungan Bab:

  1. Haram hukumnya memakan bangkai, pengertian bangkai adalah hewan yang mati secara wajar tanpa disembelih atau diburu. Bangkai diharamkan karena di dalamnya terdapat mudharat yaitu darah yang tertahan keluar. Bangkai membawa mudharat bagi agama dan kesehatan badan. Oleh karena itu Allah mengharamkannya, lihat Tafsiir al-Qur’aanil ‘Adzim (II/8).

    Ada beberapa jenis bangkai:

    1. Al-Munkhaniah yaitu hewan yang meti tercekik sengaja maupun tidak sengaja, misalnya menarik tali kekangnya sehingga tercekik lalu mati. Termasuk di dalamnya hewan yang diterkam anjing berburu. 
    2. Al-Mauqudzah, yaitu hewan yang mati terpukul dengan benda keras yang tidak tajam atau tersengat listrik. Termasuk di dalamnya adalah hewan yang dilempar dengan lembing namun tidak merobek tubuhnya dan hanya terkena gagangnya. 
    3. Al-Mutaraddiyah, yaitu hewan yang mati karena jatuh dari tempat yang tinggi atau jatuh ke dalam sumur. 
    4. An-Nathiihah, yaitu hewan yang meti karena ditanduk. 
  2. Dikecualikan darinya bangkai ikan dan belalang. Berdasarkan hadits Abu Hurairah r.a. yang shahih bahwa Rasulullah saw. ditanya tentang air laut. Beliau bersabda, “Laut itu suci dan halal bangkainya.”

    Dan hadits Abdullah bin Umar r.a. yang shahih, “Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai adalah bangkai ikan dan belalang. Adapun dua darah adalah hati dan limpa.” 

  3. Pengharaman darah yaitu darah yang mengalir. Dikecualikan darinya hati dan limpa serta darah yang tersisa pada hewan sembelihan. 
  4. Haram hukumnya memakan daging babi, baik babi piaraan maupun babi liar. Daging yang dimaksud mencakup seluruh bagian tubuhnya termasuk lemahnya. Rasanya tidak perlu membahas pendapat kaum zhahiriyah yang bersikap jumud dan seenaknya dalam berhujjah dengan firman Allah, “Sesungguhnya itu adalah kotor dan kefasikan,” (Al-An’aam: 145).

    Yang mereka maksud adalah firman Allah, “Kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya itu adalah kotor…” (Al-An’aam: 145).

    Mereka kembalikan kata ganti ayat di atas menurut paham mereka kepada babi sehingga meliputi seluruh bagian tubuhnya. Takwil ini sangat jauh dari sisi bahasa, Karena kata ganti tidak boleh dikembalikan kecuali kepada mudhaf bukan kepada mudhaf ilaih. Yang paling zhahir adalah daging mencakup bagian tubuhnya sebagaimana yang dipahami dalam kaidah bahasa Arab dan kaidah ‘urfiyah.

    Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Buraidah bin al-Hashib al-Aslami r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa bermain dadu maka seolah ia mencelukan tangannya ke dalam daging dan darah babi’.”

    Apabila ancaman ini jatuh hanya kerena memegangnya maka bagaimana pula ancamannya terhadap yang memakannya? Hadits ini menunjukkan bahwa daging disini mencakup seluruh bagian tubuhnya, seperti lemak dan lainnya. 

  5. Hewan yang diterkam oleh binatang buas, seperti singa, macan, harimau, serigala atau anjing dan hanya memakan sebagian tubuhnya sehingga terluka lalu mati karena lukanya maka haram dimakan. Meskipun darahnya mengalir dari bagian tubuh yang disembelih, dagingnya tetap haram dimakan berdasarkan ijma’ ulama. 
  6. Al-Mauqudzah, al-Mukhaniqah, al-Mutaraddiyah, an-Nithihah dan hewan yang diterkam binatang buas apabila didapati masih hidup, misalnya tangan atau kakinya masih bergerak atau masih ada nafasnya lalu sempat disembelilh maka silakang makan dagingnya. Ia termasuk hewan yang disembelih, dan setelah disembelih dagingnya menjadi halal.

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 3/119-123.