Hukum Seputar Ghasab

Ghasab secara bahasa dapat diartikan dengan mengambil sesuatu milik orang lain secara dzalim. Sedangkan menurut istilah para ahli fikih, ghasab adalah penguasaan atas hak milik orang lain secara paksa. Hukum ghasab adalah haram, dan hukum ini merupakan ijma’ kaum muslimin. Allah ta’ala berfirman,

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 188)

Sedangkan ghasab adalah bentuk terburuk dari memakan harta dengan cara batil, hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ

“Sesungguhnya darah kalian, harta-harta kalian dan kehormatan kalian, adalah haram atas sesama kalian.” (Hadits riwwayat Bukhari no. 7078)

Rasulullah juga bersabda,

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِطِيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ

“Tidak halal mengambil harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dirinya.” (HR. Abu Dawud dan Daruquthni, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7662)

Harta yang di-ghasab bisa berupa harta tetap yang tidak bisa berpindah seperti tanah maupun harta yang sifatnya bisa berpindah. Diriwayatkan dari Sa’id bin Zaid, bahwa Nabi Muhammad bersabda,

من اقتطع شبراً من الأرض ظلماً ؛ طوقه من سبع أرضين

“Barangsiapa mengambil sejengkal tanah dengan dzalim, Allah akan mengalungkan kepadanya dari tujuh lapis bumi.” (Hadits riwayat Muslim no. 1610)

Orang yang berbuat ghasab diharuskan untuk bertaubat kepada Allah dan mengembalikan apa yang ia ambil secara paksa kepada pemiliknya yang sah. Ia juga diwajibkan untuk meminta maaf kepadanya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda,

 مَن كانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لأخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْها، فإنَّه ليسَ ثَمَّ دِينارٌ ولا دِرْهَمٌ، مِن قَبْلِ أنْ يُؤْخَذَ لأخِيهِ مِن حَسَناتِهِ، فإنْ لَمْ يَكُنْ له حَسَناتٌ أُخِذَ مِن سَيِّئاتِ أخِيهِ فَطُرِحَتْ عليه.

“Orang yang pernah menzhalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia dhalimi”. (Hadits riwayat Bukhari no. 6534).

Jika barang yang diambil secara dzalim tersebut masih ada, maka harus segera ia kembalikan. Namun jika barang tersebut telah hilang, maka dia harus mengganti dengan barang yang serupa. Berkata Imam Ibnu Qudamah,

 أجمع العلماء على وجوب رد المغصوب إذا كان بحاله، لم يتغير

“Para ulama telah bersepakat atas wajibnya mengembalikan barang yang dighasab jika keadaan barang tersebut msaih sama dan tidak berubah.” (Al-Mughni 5/414)

Begitu pula diwajibkan untuk memberikan tambahan dari barang yang di-ghasab, baik secara langsung maupun terspisah. Karena barang yang di-ghasab mengalami pertumbuhan, dan pertumbuhan tersebut adalah milik si empunya barang.

Apabila orang yang meng-gashab telah membangun atau menanam sesuatu di atas tanah yang di-ghasab, maka ia harus memindahkan atau menghilangkan bangunan dan tanaman tersebut. Ini adalah pendapat Imam Malik yang didasari oleh sabda Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam,

لَيْسَ لِعِرْقٍ ظَالِمٍ حَقٌّ 

“Akar yang dzalim tidak mempunyai hak.” (Riwayat Abu Dawud dan sanadnya hasan.)

Jika terdapat bekas di tanah tersebut, maka orang yang meng-gashab wajib membayar denda untuk setiap kerusakan dan pengurangan kualitas. Selain hal tersebut, orang yang meng-ghasab wajib membayar upah kepada si pemilik dihitung mulai pertama kali ia meng-gashab sampai si pemilik menerima kembali barang yang di-ghasab. Hal ini karena ia telah menghalangi si pemilik untuk memanfaatkan barang tersebut.

Jika barang yang di-ghasab telah bercampur dengan barang yang lain yang masih memungkinkan untuk dipisahkan, maka wajib baginya untuk memisahkan dan mengembalikan hak miliki orang lain. Namun jika barang tersebut telah bercampur dengan barang lain yang sudah tidak memungkinkan untuk memisahkannya, maka ia menggantinya dengan barang yang semisal dari segi timbangan dan harga. Atau dengan cara menjualnya dan memberikan bagian sesuai dengan kadar barang si pemilik.

Jika seseorang meng-ghasab suatu barang dan tidak diketahui oleh si pemilik, sementara barang tersebut tidak dimungkinkan untuk dikembalikan kepada si pemilik, maka ia harus menyerahkan barang tersebut kepada hakim agar barang tersebut ditempatkan di tempat yang benar. Atau ia menyedekahkan barang tersebut atas nama pemilik, singga pemilik mendapatkan pahala, dan orang yang meng-ghasab terlepas dari tanggungan.

Meng-ghasab tidak selamanya diartikan dengan menguasai atau mengambil barang orang lain lewat jalur kekuatan. Tapi setiap penguasaan barang dengan cara perselisihan yang batil dan dengan perjanjian-perjanjian yang fajir. Allah ta’ala berfirman,

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 188)

Wallahu A’lam Bish Shawab

Sumber: Diterjemahkan dan diringkas dari

https://islamqa.info/ar/answers/10323 /باب-في-احكام-الغصب