Sebut 12 Yayasan Islam Sebagai Teroris, Said Aqil Siradj Dituding Penyebar Fitnah

KIBLAT.NET, Surabaya – Mantan Ketua Yayasan Nida’ul Fithrah, KH Ainul Haris menilai sinyalemen KH Said Aqil Siraj tentang adanya 12 yayasan beraliran keras yang patut diwaspadai, sebagai pernyataan salah kaprah.

“Secara data apa yang dinyatakan oleh Kiai Said itu sudah salah kaprah dan memfitnah. Ironisnya, kesalahan data itu diulang-ulang Kiai Said sejak awal menghembuskan isu tersebut beberapa tahun yang lalu,” katanya dalam pernyataan tertulis yang tiba di redaksi Kiblatnet, Senin (09/09).

Hal itu dikemukakan Haris yang alumni Gontor ini membantah pernyataan KH Said Aqil Siraj seusai melantik pengurus baru PWNU Jawa Timur. Saat itu, Said Aqil mengatakan pihaknya mensinyalir adanya 12 yayasan Salafi-Wahabi penebar benih radikal, cikal bakal teroris di tanah air dan mengajarkan doktrin pengeboman di Indonesia. Di antaranya ia juga menyebut nama yayasan al-Fitroh, beralamat di Perumahan Galaxi Ruko 26-30, Jl, Arif Rahman Hakim, Surabaya yang diketuai oleh Ainul Haris.

Yang benar, lanjut Haris, nama yayasan tersebut adalah Yayasan Nida’ul Fithrah, beralamat di Ruko Galaxi Bumi Permai Blok G6-16 Jl, Arif Rahman Hakim No. 20-36 Surabaya. Haris juga menegaskan bahwa saat ini dirinya bukanlah Ketua yayasan Nida’ul Fithrah. Ketua yayasan Nida’ul Fithrah sekarang adalah Muhammad Nur Yasin.

“Di awal meruyaknya isu terorisme, yayasan Nida’ul Fithrah termasuk salah satu yayasan yang getol mendakwahkan kepada masyarakat bahwa terorisme bukanlah ajaran Islam. Nida’ul Fithrah beberapa kali menyelenggarakan kajian dan ceramah umum, di antaranya di radio, membagikan buku-buku secara cuma-cuma berisi fatwa ulama yang mengecam keras tindakan terorisme dan menegaskan bahwa terorisme bukanlah ajaran Islam,” papar Kyai Haris.

Selain itu, lanjut dia, Nida’ul Fithrah juga membantu pemerintah membentengi anak-anak mahasiswa dari berbagai penyimpangan tersebut dengan mengelola Pondok Mahasiswa Thaibah Putra dan Putri. Santrinya adalah mahasiswa ITS, Unair, Unesa, dan berbagai perguruan tinggi swasta yang ada di Surabaya. “Oleh karena itu, apa yang disampaikan Kiai Said adalah tuduhan yang tidak berdasar bahkan suatu fitnah,” tegas Haris.

Ainul Haris mengajak semua pihak untuk berhati-hati dalam mengeluarkan statemen yang belum jelas dan tanpa klarifikasi. Apalagi menyangkut isu yang sangat sensitif, seperti isu terorisme dan wahabi. Ia mengajak semua pihak untuk bersikap ilmiah, berbicara berdasarkan data dan mendudukkan setiap masalah secara benar.

Khusus tentang Wahabi yang oleh sebagian kelompok dituding sebagai biang terorisme, Haris menegaskan itu semua tidak benar. Ainul Haris mengajak umat Islam untuk mempelajari ajaran Muhammad Ibn Abdul Wahhab langsung dari karya beliau sendiri, bukan berdasarkan kata orang yang cenderung membenci bahkan menfitnah.

Hal itu dikatakan Ainul Haris, karena ia telah melakukan penelitian doktoralnya tentang ajaran Muhammad Ibn Abdul Wahhab langsung dari berbagai sumber primer terutama karya Muhammad Ibn Abdul Wahhab yang berjumlah belasan jilid. Ia menegaskan, dari penelitiannya tersebut, ia tidak mendapati ada satu pun ajaran Ibn Abdu Wahhab yang menyimpang. sebaliknya, puluhan ulama diberbagai belahan dunia menganggapnya sebagai mujaddid (pembaharu Islam). Ia mempertahankan penelitian doktoralnya tersebut di hadapan tujuh professor di IAIN Surabaya dan ia dinyatakan lulus doktor dengan predikat cumlaude .

Ainul Haris menegaskan, seharusnya kaum muslimin Indonesia, terutama para pemimpinnya berusaha keras mengajak umatnya memahami dan mendalami agamanya secara benar, membangun pekerjaan-pekerjaan besar di berbagai bidang yang bermanfaat untuk umat dan berusaha untuk membangun kesatuan dan persatuan umat di atas kebenaran untuk mencapai kejayaannya, bukan dengan lontaran statemen-statemen yang tidak perlu bahkan destruktif, sehingga merugikan berbagaik pihak, dan kaum muslimin secara umum.

Menurut Haris yang menyelesaikan S-1nya di Fakultas Syari’ah LIPIA Jakarta, data keduabelas yayasan yang disebut Said Aqil juga banyak yang salah kaprah. Di antaranya menyebut ketua yayasan al-Sofwa Maman Abdurrahman dan Farid Uqbah. “Padahal yang benar ketuanya adalah Abu Bakar Altway,” jelas Ainul Haris, yang 10 tahun silam aktif menulis di majalah Panji Masyarakat itu.

Haris, yang bersama Yayasan Nida’ul Fithrah masuk dalam salah satu Profil Top Jawa Timur terbitan Pusat Profil dan Biografi Indonesia, menegaskan, bahwa Yayasan Nida’ul Fithrah adalah yayasan resmi yang memiliki legalitas hukum dari Kemenkumham. Kegiatan Nida’ul Fithrah meliputi dakwah, sosial dan pendidikan. Dalam seluruh kegiatannya, Nida’ul Fithrah selalu meniti di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagaimana yang dipahami dan diteladankan oleh as Salafush Shalih yaitu sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Yayasan Nida’ul Fithrah kini membina ratusan masjid, pondok pesantren, perguruan tinggi, sekolah, majlis taklim, instansi pemerintah dan swasta di berbagai wilayah di Indonesia yang telah bekerjasama dengan yayasan di bidang dakwah, sosial dan pendidikan. Di antaranya pelatihan aqidah untuk guru-guru Pondok Modern Gontor, pelatihan da’i se-Kalimantan bekerjasama dengan Hidayatullah Pusat, pelatihan para imam masjid bekerjasama dengan masjid-masjid di lingkungan TNI AL Surabaya. Ainul Haris sampai saat ini juga tercatat sebagai penasihat Masjid Ibrahim bin Muhammad yang terletak di Kompleks Angkatan Laut Semolowaru Bahari, Surabaya.

Dalam kegiatan sosial, Nida’ul Fithrah di antaranya pernah membagi-bagikan sembako untuk masyarakat tidak mampu di Bangkalan bekerjasama dengan TNI AL Surabaya dan Pemkab Bangkalan. Hadir dalam acara tersebut di antaranya Wakil Bupati Bangkalan, Ketua dan beberapa anggota DPRD Bangkalan, Kiai Alawi Muhammad dan beberapa pimpinan Pondok Pesantren di Madura.