Ekstrimisme Budha Tengah Menjamur di Myanmar

MYANMAR, muslimdaily.net, – Gambar ataupun video dari orang-orang Bdha yang mengamuk dan membawa pedang terhadap desa-desa Muslim dan ceramah-ceramah keras oleh para biarawan, telah mencerminkan tren kenaikan ekstremisme Budha di Myanmar.

“Anda bisa penuh kebaikan dan kasih, tetapi Anda tidak bisa tidur di samping anjing gila,” kata Ashin Wirathu, seorang biksu Budha yang terkenal karena anti Islam, dalam sebuah ceramah yang merujuk kepada Muslim, The New York Times melaporkan pada hari Jumat , 21 Juni, demikian sebagaimana dilansir onislam.net,

“Saya menyebut mereka pembuat onar, karena mereka adalah pembuat onar,” kata Wirathu.

“Saya bangga disebut Budha radikal.”

Budhisme sering didefinisikan denga citra dan kata-kata lembut oleh penganutnya sebagaimana juga disebutkan oleh tokoh Tibet dipengasingan, Dalai Lama.

Tapi gambaran itu benar-benar berubah atas meningkatnya serangan oleh Buddha radikal terhadap Muslim di Myanmar serta Sri Lanka.

Sudah diketahui bersama bahwa telah terjadi beberapa kali kerusuhan di Myanmar dengan jatuhnya korban paling besar adalah dari minoritas muslim.

Lebih dari 200 orang tewas dan ribuan Muslim mengungsi dari rumah mereka setelah serangan terhadap Muslim di Myanmar Barat tahun lalu atau tepatnya di wilayah Rakhine. Sementara itu lebih dari 42 orang juga tewas dalam serangan baru terhadap Muslim di Myanmar tengah pada bulan April tahun ini.

Wirathu, yang bangga menyebut dirinya sebagai seorang Budhis Bin Laden, memiliki ribuan pengikut di Facebok dan video ceramahnya di YouTube telah ditonton puluhan ribu kali.

Dia juga memimpin gerakan “969”, mendorong umat Budha untuk membeli atau berdagang dengan orang Budha saja, tampaknya dengan tujuan menciptakan sebuah negara apartheid.

Stiker dengan logo gerakan ini sekarang dapat dijumpai di mana-mana secara nasional pada mobil, sepeda motor dan toko-toko.

Gagasan ekstremis baru Buddhisme di Burma tak luput dikritik oleh suara langka dari biarawan di negara-negara tetangga.

“Biarawan Myanmar cukup terisolasi dan memiliki hubungan tidak erat dengan umat Buddha di bagian lain dunia,” kata Phra Paisal Visalo, seorang rohaniawan Budha dan biksu terkemuka di negara tetangga Thailand.

Visalo percaya bahwa gagasan “kami dan mereka” yang dipromosikan oleh biarawan radikal Myanmar bertentangan dengan Budhisme. Dia juga menyesalkan kritik dari Budha di negara lain memiliki dampak yang sedikit. [ahd]