Benarkah Iran Membantu Rakyat Gaza?

(An-najah) – Isu pembebasan Palestina adalah isu yang mengglobal. Semua perhatian tertuju kepada Al-Quds, khususnya dunia islam dan kaum muslimin. Sebab, apa yang terjadi di Palestina ini adalah satu bentuk penindasan dan pelanggaran atas kebebasan hak asasi manusia dalam memperoleh kemerdekaan.

Tak pelak, isu ini juga menjadi perhatian dunia internasional, hingga orang-orang non muslim pun memberikan perhatian atas penjajahan yang menimpa warga Palestina, mereka semua ingin memberikan bantuan untuk meringankan beban penderitaan rakyat Palestina.

Anggota Parlemen Gaza dari Pemerintahan Hamas, Syaikh Abdurrahman Al-Jamal menjelaskan, perlu diketahui bahwa rakyat Gaza, yang notabene adalah ahlusunnah dengan tangan terbuka menerima semua bantuan. Namun, bantuan yang “kami terima tidak membuat rakyat Gaza tercerai berai”. Pada prinsipnya, rakyat Gaza tidak ingin adanya intervensi dalam perjuangan kami melawan Israel. “Sebab kami mengetahui betul bahwa untuk melawan kekejaman zionis dibutuhkan adanya persatuan,” tegas Syaikh Jamal.

Soal Bantuan Iran di Gaza

Masyarakat dunia harus memahami bahwa saat ini, Gaza berada dalam kondisi yang sulit, rakyat Gaza selain dibombardir, mereka juga ditekan secara fisik dan mental, diblokade perekonomiannya sehingga berada dalam kondisi yang serba sulit. Tidak dapat dipungkiri bahwa Negara Iran ialah salah satu negara yang paling banyak memberikan bantuan kepada rakyat Gaza. Iran membantu pemerintahan Hamas di Gaza baik dari finansial maupun bantuan senjata.

Bantuan yang diterima dari Iran ialah bantuan yang tidak mensyaratkan kondisi apapun, rakyat Gaza tidak akan menerima bantuan apabila dengan adanya bantuan itu rakyat Gaza menjadi target penyebaran paham syiah.

“Kami menutup pintu buat Iran, kami hanya sekedar membuka loket kecil bagi Iran untuk menyalurkan bantuannya kepada rakyat Gaza.Kami berpegang teguh terhadap aqidah ahlusunnah, semua yang terjadi di gaza masih berada di bawah kendali kami,” ujar Syaikh Abdurrahman Al-Jamal dalam satu pertemuan dengan para wartawan media Islam yang tergabung dalam JITU, Kamis (20/06).

Mungkin akan timbul pertanyaan di benak kaum muslimin. Mengapa pemerintahan Gaza menerima begitu saja bantuan dari Negara Syiah Iran? Padahal tentu sudah dipahami bersama bahwa, ‘tidak ada makan siang yang gratis’. Bantuan yang disodorkan Iran tentu menuntut adanya sebuah kompensasi.

Bagi rakyat Gaza, bantuan Iran ini bagai buah simalakama. Keadaan yang serba sulit ditambah lagi tidak adanya bantuan dari negara-negara Teluk yang kaya raya kepada rakyat Gaza membuat mereka terpaksa menerima bantuan Iran. Sekali lagi ditegaskan, bahwa rakyat Gaza menerima bantuan dari siapapun namun mereka tetap konsisten dengan aqidah mereka. Rakyat Gaza tidak akan menerima bantuan yang kemudian menuntut kompensasi dibelakang.

Menariknya, rakyat Gaza pernah menolak bantuan dari Negara Syiah Iran berupa pembangunan sebuah mesjid yang rencananya akan dibangun sebagai mesjid yang terbesar di Palestina. Apa pasal? Sebab Iran memberikan syarat bahwa apabila bangunan mesjid itu sudah berdiri dengan kokoh, Iran meminta masjid itu diberi nama Masjid Imam Khomeini. Rakyat Gaza jelas menolak pelecehan ini.

Menurut informasi dari relawan Indonesia yang kini menetap di Gaza, Abdillah Onim. Rakyat Gaza juga pernah menolak bantuan berupa alat tulis dan perlengkapan sekolah bagi anak-anak Gaza senilai milyaran rupiah. Bantuan itu ditolak oleh rakyat Gaza sebab ada syarat di masing-masing tas sekolah yang akan dibagikan itu tercetak foto Hasan Nasrallat, Pemimpin Syiah Hizbullah di Lebanon.

Menurut Syaikh Abdurrahman Al-Jamal, “Inilah posisi kami, disaat kami dalam keadaaan serba sulit, dan tidak ada negara Arab yang membantu, hanya ada Iran yang mengulurkan bantuan. Bantuan yang kami terima dari Iran pun sangat kami batasi.”

Ada beberapa kondisi yang patut dipahami mengenai rakyat Gaza. Pertama, Syiah Iran butuh publisitas di mata dunia untuk menarik simpati masyarakat, di sisi lain rakyat Gaza memang butuh bantuan mengingat kondisinya serba sulit.

Kedua, Tidak ada satupun negara Arab maupun negara Islam yang secara terang-terangan berani memberikan bantuan baik finansial maupun senjata, justru yang ada malah negara-negara tersebut menangkapi orang-orang yang memberikan bantuan ataupun untuk berjihad di Palestina.

“Ada beberapa kemaslahatan yang diraih dari bantuan Iran, meski kami menyadari ada sisi-sisi negatifnya,” ujar Syaikh Abdurrahman.

Tidak dipungkiri bahwa bantuan Iran kepada rakyat Palestina ada sisi negatifnya, dalam beberapa kesempatan akan berdampingan didepan publik antara Khalid Mesy’al dengan Ahmadinejad yang Syiah, untuk menjaga hubungan baik kedua negara atas pemberian bantuan dari pihak mereka. Namun, inilah dilematisnya tatkala Pemerintahan Hamas harus memikirkan kebutuhan hidup sekira 1.800.000 penduduk Gaza. Belum lagi untuk operasional kegiatan pemerintahan di Gaza menghabiskan sekira $20 juta US dolar perbulan. Jelas hal ini merupakan kendala yang menyulitkan rakyat Gaza.

“Kami membutuhkan uluran bantuan berupa ide maupun materi, sebab apabila kami memutuskan hubungan dengan Iran, maka kami harus mencari pengganti untuk menutupi kebutuhan rakyat Gaza,” lanjut Syekh Abdurrahman.

Urusan Palestina adalah urusan kaum muslimin, sejatinya bantuan Iran kepada rakyat Gaza disaat kaum muslimin ahlusunnah lainnya masih berdiam diri dan belum mampu berbuat banyak adalah satu PR besar bagi umat Islam saat ini.

“Apakah kalian akan mengikat tangan kami dan menyuruh kami untuk berenang di laut? Apakah kalian menyuruh rakyat Gaza untuk memutuskan hubungan dengan Iran tetapi sengaja membiarkan mereka kelaparan?” tanyanya tegas.

Saat pemerintahan Hamas beserta seluruh komponen rakyat Gaza mengeluarkan sikapnya yang tegas berada di belakang rakyat Suriah untuk menggulingkan pemerintahan rezim Bashar Assad, tensi hubungan antara Hamas dan Iran meningkat. Bahkan, Iran sempat menghentikan bantuannya terhadap rakyat Gaza. Namun, saat ini Iran kembali mengalirkan bantuannya terutama pasca perang 8 Hari melawan Israel pada tahun 2012 lalu.

Inilah yang perlu digarisbawahi, meski Hamas dibantu Iran. Mereka tetap tidak menjual aqidahnya untuk mendukung Iran membantu rezim Assad. Hamas tegas dengan sikapnya bahwa mereka mendukung perjuangan rakyat dan mujahidin Suriah untuk melepaskan diri dari cengkraman Syiah dan Zionis penjajah bumi Islam.