Dua Ulama Sunni Libanon Serukan Jihad di Suriah

Hidayatullah.com–Dua ulama Islam (Sunni) di Libanon menyerukan jihad di Suriah untuk membela saudara-saudara mereka di sana. Pernyataan ini muncul setelah ikut campurnya kelompok Hizbullah dalam konflik berdarah di Suriah, dengan dalih melindungi desa-desa Syiah dari serangan Tentara Pembebasan Suriah, terutama di daerah Brive Homs yang berdekatan dengan perbatasan Libanon.

Syaikh Ahmad al-Asir al-Husaini mengumumkan pendirian “Brigade Perlawanan Pembebasan” di Sidon. Ia meminta kepada semua ulama dan para agamawan untuk yakin atas fatwanya itu, hingga pada pembentukan kelompok rahasia bersenjata untuk melindungi diri.

Dalam pernyataanya yang dirilis pada Senin (22/4/2013) lalu, seperti yang dilansir Aljazeera (24/4/2013), Syaikh al-Asir menyerukan kewajiban jihad di Suriah, terutama bagi rakyat Libanon.

Dia menyebut pemerintah Libanon tidak peduli dan tidak berdaya, meskipun sekedar dalam bentuk ucapan yang mengatakan bahwa intervensi militer akan mengancam perdamaian dalam negeri.

“Kami di Libanon saat ini antara ancaman Zionis dan Hizbullah sekutu Iran. Maka dari itulah kami wajibkan kepada setiap Muslim, baik di Libanon maupun di luar Libanon untuk memenuhi seruan dan menolong sudara-suadara yang lemah di Suriah,” tegas Syaikh al-Asir.

Sementara itu Syaikh Salim al-Rafi’i, anggota Asosiasi Ulama Muslim di Libanon, pada Selasa (23/4/2013), juga mengatakan bahwa intervensi Hizbullah di Suriah telah menyeret negara ke dalam fitnah dan perselisihan internal.

Sehari sebelumnya, Hizbullah mengumumkan untuk melakukan mobilisasi umum guna menolong saudara-saudara Syiah mereka yang dianggapnya sebagai orang-orang yang terzhalimi di wilayah Brive Homs di perbatasan Suriah-Libanon.

Dalam wawancaranya dengan Aljazeera, Syaikh al-Rafi’i mengatakan bahwa Hizbullah telah membawa banyak masalah kepada Libanon, karena Tentara Pembebasan Suriah akan menyerang wilayah Syiah di Libanon sebagai respon atas tindakan Hizbullah.

Lebih lanjut Syaikh al-Rafi’i menuduh Hizbullah sebagai perwakilan agenda Iran di wilayah tersebut, di bawah kendali Iran yang ingin mendirikan negara sektarian yang akan menguntungkan Israel.*