Pakai Dinar Dirham, Bank Indonesia dan RI Hilang, Tinggal La Illa ha Illallah

JAKARTA, muslimdaily.net – “Kita harus mengatakan bahwa uang kertas itu haram, perbankan haram, bank sentral itu haram,” hal ini disampaikan ketua Wakala Nusantara Zaim Saidi, pada Jum’at 21/12 di Masjid Sunda Kelapa Jakarta, dalam Pengajian Akhir Pekan Remaja Islam Sunda Kelapa.

Wakala Nusantara adalah lembaga yang berfungsi mendistribusikan Dinar emas dan Dirham perak Islam. Lembaga ini juga mengkampanyekan agar umat Islam di seluruh Indonesia untuk kembali menggunakan mata uang Dinar dan Dirham dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita semua terlibat dengan riba, karena riba sudah menjadi sistem,” ujar Zaim. Ia melanjutkan, lalu “apakah kita tidak bisa keluar dari itu (riba_red)?” tanya Zaim. Menurutnya mudah sekali untuk keluar dari sistem riba di negeri ini, karena begitu masyarakat mau meyakini bahwa uang kertas adalah haram, maka masyarakat tidak akan menggunakan uang kertas lagi.

Ia mengkiaskan haramnya uang kertas dengan haramnya daging babi. Menurutnya jika umat Islam meyakini daging babi haram dan tidak mau memakannya, maka umat Islam juga harus meyakini haramnya uang kertas seperti daging babi tersebut, sehingga sudi lagi menggunakan uang kertas.

Namun Zaim mengakui bahwa proses meyakinkan masyarakat bahwa uang kertas haram adalah tidak mudah. Zaim sendiri mengaku pihaknya (Wakala Nusantara) sudah selama 10 tahun terakhir mengkampanyekan hal ini, dan diakui masih banyak masyarakat yang tidak tahu.

Direktur Wakala Induk Nusantara ini juga mengaku sudah menggunakan Dirham dalam beberapa transaksi, seperti membayar SPP sekolah anaknya dan belanja sembako.

Beberapa pasar di Jakarta juga sudah menerima transaksi menggunakan Dinar dan Dirham. Di Pasar Tebet Barat, paling tidak ada 13 pedagang yang menerima pembayaran dengan Dinar dan Dirham.

“Pakai Dinar dan Dirham, Rupiah ga ada, Bank Indonesia ga ada dan RI pun ga ada. Tinggal la illa ha ilallah,” tandas Zaim.