Menimbang Konfik Suriah dan Pelanggaran HAM

Hidayatullah.com — Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Surakarta, Ust Aris Munandar, Lc menilai kerusuhan di Suriah harus menjadi perhatian kita semua sebagai seorang Muslim. Ia mengatakan, Syiah di Suriah ada beberapa macam aliran, salah satunya adalah Syiah Nushairiyah, golongan ini yang melakukan penyerangan di Suriah tersebut, ujarnya saat diskusi publik di PUSHAM UII Yogyakarta pada, Selasa, (11/12/ 2012).

Menurut Aris, ada istilah pembantaian perkemahan Terzaktam, yakni pembantaian oleh orang-orang Syiah kepada para pengungsi dari golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Suriah. Para pengungsi itu berasal dari Palestina karena sedang diserang oleh Israel, katanya.

Aris mengatakan, “dosa terbesar yang dilakukan oleh orang-orang syiah nusairiyah adalah membantai para ahlus sunnah wal jama’ah di dalam penjara sebagai tahanan.” Kata dia, ada sekitar 700 orang yang ada di dalam penjara tersebut tewas dalam pembantaian itu. Selain itu, kata dia, ada sekitar 88 masjid dan 17 kampung di bombardir dengan rudal. Jumlah keseluruhan korban yang tewas ada 40.000 orang dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Suriah.

Lebih lanjut ia menjelaskan, dalam pembantaian tersebut, dilakukan juga kepada wanita-wanita dan anak-anak. “Setiap hari terjadi pembunuhan sekitar 80-100 orang, ini dilakukan oleh orang-orang Syiah Nushairiyah di Suriah, ungkapnya.

Aris menghimbau, agar kita perlu waspada datangnya Syiah Nushairiyah di Indonesia. “Syiah ketika sudah memiliki senjata, maka kita harus hati-hati,” kata Aris.

Aris menilai, di balik perang Suriah, ternyata tentara Iran yang secara tidak resmi membantu Bashar al-Asaad untuk membantu misinya, yakni melawan orang Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Suriah.

Menurut Aris, Amerika secara langsung tidak terlibat dalam masalah ini. Tapi bukan berarti diam, mereka sudah mengadakan tindakan-tindakan di Yordania. Tindaan tersebut dengan tema memerangi para teroris dengan tuduhan Suriah diidentfiksikan memiliki senjata kimia yang berbahaya.

Dalam diskusi publik ini, hadir pula M. Sofyan selaku dari kalangan intelektual Muslim Yogyakarta. Sofyan megatakan, jika kekerasan Bashar al-Asaad itu benar, maka sungguh dahsyat kekejaman Syiah di Suriah. Selain itu menurutnya, ketika mengkaji Timur Tengah maka tidak bisa lepas dari Amerika dan Israel, ujarnya.

“Kofi Annan kenapa mundur menangani kasus tersebut, ini perlu dianalisis sebagai salah satu cara mengidetifikasi masalah tersebut. Karena beliau selaku Sekjen PBB yang ditugasi secara langsung untuk mengurus masalah Suriah ini,” kata Sofyan.

Menurut Sofyan, bisa jadi masalah ini menyangkut ideologi. Israel dan sekutunya ingin menguasai, atau bisa jadi karena otoritas kepala Negara Suriah itu sendiri. Menurutnya, ini perlu didudukkan sebagai variabel penting. Faktanya bahwa Amerika dan Israel terlibat, pungkasnya.

Sebuah konstruksi subyektif menurut dia adalah rezim harus ada reformasi politik di Suriah. Selain itu, faktor konflik ini harus menyelamatkan sipil, tambahnya.*/Muhsin, Jogjakarta