Muslim Uighur Hadapi Diskriminasi di Lapangan Kerja

CHINA, muslimdaily.net, – Karena pengusaha lebih menyukai etnis mayoritas Han, Muslim Uighur China menghadapi diskriminasi di pasar kerja, bekerja pada pekerjaan berstatus rendah dan bergaji kecil, sebuah studi baru mengemukakan.

“Ada kecenderungan yang jelas untuk Uighur untuk memegang (bekerja) pada posisi rendah dan bergaji rendah,” ungkap Dr Reza Hasmath dari Faculty of Arts, Melbourne University dalam hasil penelitiannya yang ditampilkan di situsnya, sebagaimana dilansir onislam.net, Senin 26 November.

“Jadi mereka umumnya bertahan pada tingkat lapangan kerja dan upah yang lebih rendah daripada rekan-rekan Han mereka.”

Penelitian, yang diterbitkan secara resmi oleh University of Melbourne, menemukan kombinasi dari pasar pekerjaan yang menguntungkan kelompok Han yang merupakan etnis mayoritas di China.

“Dimana orang Han China lebih terwakili dalam status tinggi dan pekerjaan mdengan bayaran tinggi seperti di bidang pendidikan, kesehatan dan manajemen publik, Uighur lebih terwakili di bidang pertanian, di mana lebih dari 80 persen dari populasi ada di dalamnya,” kata Hasmath.

Uighur, minoritas etnis Turki yang berjumlah delapan juta, telah lama mengeluhkan diskriminasi di pasar kerja yang dikuasai etnis Hans. Meskipun mereka adalah minoritas kecil di wilayah Xinjiang, etnis Hans mengontrol pasar kerja di daerah itu.

Perkiraan mengatakan bahwa terdapat 1,5 juta pekerja Uighur – setara dengan setengah laki-laki dewasa di Xinjiang – menganggur.

Pada tahun 2009, setidaknya 184 orang tewas ketika polisi China meluncurkan tindakan keras untuk memadamkan protes muslim Uighur. Penindasan mematikan itu menarik kecaman dari seluruh dunia, dengan Turki menyuarakan protes yang paling keras yang menyebut bahwa muslim Uighur adalah korban genosida.

Penelitian ini juga menyalahkan pemerintah China karena gagal untuk mengatasi meningkatnya diskriminasi terhadap Muslim Uighur di pasar kerja.

“Dari sudut pandang pemerintah, konflik tinggi di Xinjiang bukan sesuatu yang ingin mereka tangani, karena (Xinjiang) salah satu cadangan gas alam dan minyak terbesar di negara itu, dan menduduki seperenam dari total yang ada di China,” Dr Hasmath mengatakan. [rah]