Surah Al-Baqarah Ayat 170, 174, 177, 178, 184 dan 186

Ayat 170, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?.” (al-Baqarah: 170)

Sebab Turunnya Ayat

Ibu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Sa’id atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Rasulullah mengajak dan mendorong orang-orang Yahudi untuk masuk Islam. Beliau juga memperingatkan mereka akan siksa Allah. Maka Rafi’ bin Huraimalah dan Malik bin Auf berkata, ‘Kami hanya akan mengikuti apa yang dipahami nenek moyang kami karena mereka lebih tahu dan lebih baik dari kami.’ Maka pada peristiwa itu Allah menurunkan firman-Nya,

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,….” (al-Baqarah: 170)

Ayat 174, yaitu firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api , dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (al-Baqarah: 174)

Sebab Turunya Ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ikrimah tentang firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab,….”

Dan tentang ayat dalam surah Ali Imran,

“Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji….” (Ali Imran: 77)

Ibnu Jarir berkata, “Keduanya turun pada orang-orang Yahudi.”

Ats-Tsa’labi meriwayatkan dari jalur al-Kalbi dari Abu Shaleh dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Ayat di atas turun kepada para pembesar dan para agamawan Yahudi yang mendapatkan hadiah-hadiah dan pemberian-pemberian dari rakyat jelata di kalangan mereka. Mereka berharap agar nabi yang akan diutus adalah dari kalangan mereka. Ketika Rasulullah diutus dari kaum selain mereka, mereka pun takut sumber kehidupan dan kedudukan mereka hilang. Maka, mereka mengubah isi Taurat yang menyebutkan tentang sifat-sifat Nabi Muhammad. Kemudian mereka memperlihatkan isi Taurat yang sudah diubah itu kepada orang-orang Yahudi lainnya dan mereka berkata, ‘Sifat nabi yang akan turun di akhir zaman tidak sesuai dengan sifat orang yang mengaku nabi itu.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab,….”

Ayat 177, yaitu firman Allah ta’ala,

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 170)

Sebab Turunnya Ayat

Abdurrazaq berkata, “Muammar memberi tahu kami dari Qatadah, dia berkata, ‘Orang-orang Yahudi melakukan sembahyang ke arah barat, sedangkan orang-orang Nasrani sembahyang menghadap ke arah timur, maka turunlah firman Allah,

‘Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat,...'”

Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan dari Abul Aliyyah seperti riwayat di atas.

Ibnu Jarir dan ibnul-Mundzir meriwayatkan dari Qatadah, dia berkata, “Kami diberitahu bahwa seorang lelaki pernah bertanya kepada Nabi saw. tentang kebajikan, maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat,…'”

Kemudian beliau memanggil lelaki yang bertanya tadi dan beliau membacakannya. Ketika orang itu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, kewajiban menunaikan ibadah-ibadah fardhu sebelum turun. Kemudian orang itu meninggal dunia. Rasulullah pun mengharapkan kebaikan untuk-nya, maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat,…'”

Dan ketika itu, orang-orang Yahudi bersembahyang menghadap ke barat, sedangkan orang-orang Nasrani bersembahyang menghadap ke arah timur.”

Ayat 178, yaitu firman Allah ta’ala,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih .” (al-Baqarah: 178)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sa’id ibnuz-Zubair, dia berkata, “Pada masa jahiliah, penduduk dua perkampungan Arab pernah berperang karena sesuatu yang sepele. Dan di antara mereka banyak yang mati dan terluka. Namun ketika mereka membunuh budak-budak dan para wanita, mereka tidak mempermasalahkannya hingga mereka masuk Islam. Ketika itu salah satu perkampungan mempunyai persenjataan dan harta yang lebih banyak dibanding dengan kampung lainnya sehingga mereka bertindak sewenang-wenang terhadap yang lain. Mereka bersumpah apabila budak mereka terbunuh, mereka akan menganggap impas jika mereka telah membunuh orang merdeka dari pihak pembunuh. Maka turunlah firman Allah pada mereka yang menyatakan bahwa orang merdeka dihukum dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita.”

Ayat 184, yaitu firman Allah ta’ala,

“(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan , maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (al-Baqarah: 184)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Sa’ad dalam kitab ath-Thabaqaat meriwayatkan dari Mujahid, dia berkata, “Ayat ini turun pada tuan saya, Qais ibnus-Saa’ib. Lalu dia pun tidak berpuasa dan memberi makan kepada orang miskin untuk setiap harinya.” (20)

Ayat 186, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih, Abusy Syekh, dan yang lainnya meriwayatkan dari beberapa jalur dari Jarir bin Abdul Hamid dari Ubadah as-Sijistani dari ash-Shilt bin Hakim bin Mu’awiyah dari ayahnya dari kakeknya, dia berkata, “Pada suatu hari seorang Arab Badui mendatangi Nabi saw., lalu berkata, ‘Apakah Tuhan kita dekat sehingga kita cukup berbisik saat memohon kepada-Nya, atau-kah Dia jauh sehingga kita perlu berteriak memanggilnya?’ Rasulullah pun terdiam, lalu turun firman Allah,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat…'”

Abdurrazaq meriwayatkan dari Hasan al-Bashri, dia berkata, “Beberapa orang sahabat bertanya kepada Rasulullah, ‘Di manakah Tuhan kita?’ Maka turunlah firman Allah,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat…””

Riwayat ini mursal. Namun ada jalur-jalur lain untuk riwayat ini.

Pertama, Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ali, dia berkata, “Rasulullah bersabda,” ‘Janganlah kalian putus asa untuk berdoa. Sesungguhnya Allah telah menurunkan firman-Nya kepadaku,

‘Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu….'” (al-Mu’min: 60)

Lalu seseorang bertanya kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, Tuhan kita mendengarkan doa atau bagaimana?’

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat….””

Kedua, Ibnu Jarir meriwayatkan dari Atha’ bin Abi Rabah bahwa ketika turun firman Allah,

‘Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu….'” (al-Mu’min: 60)

Orang-orang bertanya, “Kami tidak tahu pada waktu apa hendak-nya berdoa kepada Allah?”

Maka turunlah firman Allah,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186)

20. Ibnu Sa’ad dalam kitab ath-Thabaqaat Vol. 5, hlm. 446.

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 63 – 69.