Surah Al-Baqarah Ayat 150, 154, 158, 159 dan 164

Ayat 150, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan ni’mat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.” (al-Baqarah: 150)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur as-Suddi dengan sanad-sanadnya, dia berkata, “Ketika kiblat shalat Rasulullah dipindahkan ke arah Ka’bah setelah sebelumnya ke arah Baitul Maqdis, orang-orang musyrik Mekah berkata, “Muhammad bingung dengan agamanya sehingga kiblatnya mengarah kepada kalian. Dia tahu bahwa kalian lebih benar darinya dan dia pun akan masuk ke dalam agama kalian.’ Maka Allah ta’ala menurunkan firman-Nya,

‘….agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu),…'” (al-Baqarah: 150)

Ayat 154, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup , tetapi kamu tidak menyadarinya.” (al-Baqarah: 154)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Mandah meriwayatkan dalam Ma’rifatush Shahabah dari jalur as-Suddi ash-Shaghiir dari al-Kalbi dari Abu Shaleh dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Tamim ibnul-Hammam terbunuh pada Perang Badar, dan padanya serta pada yang lainnya turun firman Allah ta’ala,

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati….” (al-Baqarah: 154)

Abu Nu’aim berkata, “Para ulama sepakat bahwa yang terbunuh itu adalah Umair binul-Hammam dan as-Suddi melakukan kesalahan ketika menuliskan namanya.”

Ayat 158, yaitu firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah . Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 158)

Sebab Turunnya Ayat

Imam Bukhari, Imam Muslim, dan yang lainnya meriwayatkan dari Urwah, dia berkata, “Saya katakan kepada Aisyah istri Nabi saw., ‘Perhatikanlah firman Allah,

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah . Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya….” (al-Baqarah: 158)

Saya kira tidak ada dosa bagi orang yang tidak melakukan sai di antara keduanya.’

Maka Aisyah berkata, ‘Buruk sekali apa yang kau katakan itu wahai anak saudariku. Seandainya arti ayat itu seperti yang engkau pahami, maka artinya, ‘Maka tidak ada dosa baginya untuk tidak melakukan sai di antara keduanya.’ Akan tetapi ayat itu turun karena orang-orang Anshar sebelum masuk Islam, melakukan sai di antara keduanya sambil menyebut-nyebut nama patung Manat sebagai sebuah prosesi ritual. Setelah masuk Islam, mereka merasa keberatan untuk melakukan sai antara Shafa dan Marwa.

Maka mereka bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami merasa tidak suka melakukan sai antara Shafa dan Marwah pada masa jahiliyah.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah….” (17)

Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Ashim bin Sulaiman, dia berkata, “Saya bertanya kepada Anas tentang bukit Shafa dan Marwa. Maka dia menjawab, ‘Dulu keduanya adalah bagian dari ritual jahiliah. Ketika Islam datang, kami pun tidak melakukannya lagi. Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah….” (18)

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Pada masa jahiliah, setan-setan bernyanyi di seluruh malam di antara Shafa dan Marwa. Dan dulu di antara keduanya terdapat sejumlah berhala yang disembah oleh orang-orang Musyrik. Ketika Islam datang, orang-orang Muslim berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak akan melakukan sai di antara Shafa dan Marwa karena kami melakukan itu pada masa jahiliah.’ Maka Allah menurunkan ayat 158 surah al-Baqarah.” (19)

Ayat 159, yaitu firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati.” (al-Baqarah: 159)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Sa’id atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Mu’adz bin Jabal, Sa’ad bin Muadz dan Kharijah bin Zaid bertanya kepada beberapa pendeta Yahudi tentang beberapa hal di dalam Taurat. Namun para pendeta Yahudi itu tidak mau memberi tahu mereka tentang hal-hal yang ditanyakan itu. Maka Allah menurunkan firman-Nya pada mereka,

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk,….'”

Ayat 164, yaitu firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (al-Baqarah: 164)

Sebab Turunnya Ayat

Sa’id bin Manshur dalam sunannya, al-Faryabi dalam tafsirnya dan al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman meriwayatkan dari Abudh Dhuha, dia berkata, “Ketika turun firman Allah, ‘Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 163)

Orang-orang musyrik pun terheran-heran, lalu mereka berkata, ‘Satu Tuhan? Kalau benar apa yang dikatakannya, coba datangkan kepada kami sebuah ayat.’ Maka turunlah firman Allah,

‘Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi,…. bagi orang-orang yang mengerti.'” (al-Baqarah: 164)

Saya katakan, “Hadits ini adalah mu’dhal, akan tetapi ada riwayat lain yang menguatkannya yaitu yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abusy Syekh di dalam kitab al-Azhamah dari Atha’, dia berkata, ‘Ketika turun firman Allah,

‘Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 163)

Rasulullah masih berada di Mekah. Mendengar ayat itu orang-orang kafir Quraisy berkata, ‘Bagaimana satu Tuhan cukup untuk semua orang?’

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi,…. bagi orang-orang yang mengerti.'” (al-Baqarah: 164)

Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dengan sanad yang baik dan bersambung dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Orang-orang Quraisy berkata kepada Nabi saw., ‘Mintalah kepada Allah untuk mengubah bukit Shafa dan Marwah menjadi emas untuk kita jadikan bekal menghadapi musuh kami.’ Maka Allah mewahyukan kepada Rasulullah, ‘Aku akan memberikan apa yang mereka minta, akan tetapi jika mereka kafir setelah itu, maka Aku akan mengazabnya dengan azab yang belum pernah diturunkan kepada seorang manusia pun.’ Namun Rasulullah berdoa, ‘Ya Allah, biarlah aku berdakwah kepada kaumku hari demi hari secara perlahan.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya, ‘Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang….,’ hingga akhir ayat.”

Bagaimana mereka memintamu agar bukit Shafa dan Marwah menjadi emas, sedangkan mereka telah melihat bukti-bukti kebesaran Allah yang lebih besar?

17. HR Bukhari dalam Kitaabush Tafsiir, No. 4495 dan Muslim dalam Kitaabul Hajj, NO. 1277.

18. HR Bukhari dalam Kitaabut Tafsiir, No. 4496.

19. HR al-Hakim dalam al-Mustadrak, Vol. 2, No. 298.

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 58 – 63.

Baca Juga