Prof.Yunahar Ilyas: Liberalisme Lebih Berbahaya Daripada Radikalisme

Solo, RDS FM – Ancaman pemikiran liberalisme di kampus jauh lebih berbahaya daripada pemikiran radikal. Sayangnya, selama ini pemerintah justru lebih fokus memberangus pemikiran radikal, sementara pemikiran liberal dibiarkan bahkan didukung dengan pendanaan.

Penilaian itu disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Prof.Dr.Yunahar Ilyas, Lc dalam seminar nasional bertajuk “Meniti dan Mencegah Gerakan Radikalisme di Kampus” yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, di Auditorium UNS, Sabtu (3/03).

“Saya mengamati, radikalisme tidak banyak di kampus. Sedikitlah. Tapi justru yang lebih banyak itu adalah liberalisme,” katanya.

Menurut Prof.Yunahar, radikalisme muncul akibat beberapa faktor, diantaranya adalah kelemahan dalam memahami fiqh dakwah dan ushul fiqh. Faktor lainnya yang juga sangat berpengaruh adalah adanya ketidakadilan.

“Seperti Amerika. Ada yang menyebut orang Amerika itu dajjal. Dajjal itu besar, raksasa dan bermata satu, artinya double standard. Kalau Israel dikatakan bela diri, tapi kalau Hamas disebut teroris. Di Timur Tengah munculnya kekerasan itu karena melihat ketidakadilan dan tidak bisa dilawan dengan cara yang benar, akhirnya dilawan dengan cara-cara yang luar biasa,” jelasnya.

Doktor Ilmu Agama Islam lulusan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu berpendapat, ancaman radikalisme tak begitu tampak di kampus. Sementara, liberalisme sudah begitu menjangkiti para sarjana dan pengkaji ilmu Islam.

“Mereka katakan kebenaran relatif, tidak absolut. Kita sering mendengarkan orang-orang seperti ini kalau Majelis Ulama mengatakan kelompok ‘A’ itu sesat, mereka mengatakan, Majelis Ulama tidak berhak menyatakan siapapun sesat. Sesat atau tidaknya itu urusan Allah. Seolah-olah mereka patuh sekali kepada Allah,” paparnya.

Kaum liberal, menurut salah satu pengurus pimpinan pusat Muhammadiyah itu, selalu membahas dan menyoroti tema-tema yang sangat prinsip dalam Islam, seperti kritik terhadap otentitas dan validitas wahyu.

“Selama Belanda jajah Indonesia, tak berani Belanda otak-atik ini. Tapi sekarang oleh anak-anak bangsa sendiri dan para sarjana agama, mereka dengan enaknya tidak mengakui validitas dan otentitas mushaf Utsmani,”tambahnya.

Pemahaman ini muncul, kata Yunahar, karena lemahnya penguasaan ilmu Qur’an dan Hadits serta ushul fiqh. Dengan minimnya pengetahuan Islam seperti itu, para pelajar Islam tampak silau dengan apa yang ditawarkan oleh Barat yang notabene bukan orang beriman dalam memahami Islam.

“Usul fiqh nggak nguasai, ulumul qur’an nggak nguasai, ulumul hadits nggak nguasai tapi belajar agama ke Sorbonne, belajar ke McGill, Leiden. Disana profesor doktornya nguasai qur’an, hadits, bahasa arab, dan metodologi. Nah, nggak usah ditendang, disenggol aja jatuh (pemahamannya, red),” tegasnya.

Faktor lainnya yang turut berpengaruh adalah adanya ghozwul fikri (perang pemikiran) yang dilancarkan kaum orientalis dan Barat terhadap kaum Muslimin. Perang berupa pemikiran itu menjadikan beberapa orang diantara kaum Muslimin yang tidak memiliki pemahaman dan aqidah yang kuat merasa rendah diri (inferiority complex).

“Mereka bertindak atas nama ilmu pengetahuan, akademik, tapi sebenarnya sedang berupaya melakukantasykik, membuat anak-anak Islam ragu terhadap kebenaran agamanya sendiri. Ini inferiority terhadap barat,” jelasnya.

Hal lainnya yang turut mendasari munculnya pemahaman seperti ini, kata Prof. Yunahar, karena adanya kepentingan ekonomi dan politik.

“Kalau kita bikin acara-acara dauroh, pelatihan mubaligh, mana ada yang mau kasih sponsor. Tapi kalo masalah demokratisasi, masalah gender, dan segala macamnya, donaturnya banyak. Jadi ini persoalannya logistik saja,” tutupnya. (fayyadh)