Kupas Tuntas Syiah di Muhammadiyah Bekasi: Iman-Islamnya Syiah Memang Beda

BEKASI (voa-islam.com) – Doktrin Syi’ah menyimpang dari akidah Islam, sehingga keduanya mustahil disatukan. Syi’ah meyakini Al-Qur’an tidak lengkap dan melaknat shahabat Nabi. Rukun iman dan Islam versi Syi’ah pun lain.

Berbagai fakta dan data penyimpangan akidah Syi’ah itu dipaparkan Ustadz Farid Achmad Okbah MA djalam Kajian ilmiah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Bekasi bertajuk “Kupas Tuntas Aliran Sesat,” Sabtu siang (25/2/2012). Untuk memperkuat validitas dan akurasi datanya, Farid membawakan bukti-bukti belasan kitab Syi’ah sendiri.

Dari berbagai penyimpangan dalam belasan kitab Syi’ah yang dibawanya itu, Ustadz Farid menyimpulkan bahwa berdasarkan fatwa para ulama, akidah Syi’ah telah keluar dari Islam.

Salah satu buktinya, Farid membacakan kitab “Al-Kafi fil-Ushul” yang menjadi rujukan utama kaum Syi’ah. Jilid kedua kitab tersebut menyebutkan bahwa Abu Abdillah, salah satu imam Syi’ah berkata: “Al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril alaihissalam kepada Nabi Muhammad SAW itu berjumlah 17.000 ayat.”

Dengan keyakinan ini, jelas Farid, berarti Syi’ah menuduh Al-Qur’an yang ada sekarang ini telah kehilangan belasan ribu ayat. Keyakinan ini jelas telah keluar dari Islam karena meyakini Al-Qur’an sudah tidak asli. “Menuduh Al-Qur’an sudah tidak otentik membuat seseorang murtad dari Islam. Karena Allah Ta’ala telah menggaransi keaslian Al-Qur’an dalam ayat: ‘inna nahnu nazzalnadz-dzikraa wa innaa lahu lahafizhun,” jelas direktur Islamic Centre Al-Islam itu.

Selain itu, lanjut Farid, perbedaan Islam dengan Syi’ah bisa ditemui dengan mudah dalam buku-buku resmi Syi’ah terbitan dalam negeri. Salah satunya adalah buku “40 Masalah Syi’ah” karya Emilia Renita AZ yang diterbitkan oleh Ijabi.

Pada Bab 18 ‘Rukun Iman dan Rukun Islamnya Berbeda,’ jelas Farid, istri Prof Dr Jalaluddin Rakhmat itu mengakui bahwa Rukun Islam dan Rukun Iman Syi’ah berbeda dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah. “Dalam bab ini, disebutkan bahwa rukun iman Syi’ah ada lima yaitu Tauhid (percaya kepada keesaan Allah yang mutlak), ‘Adalah (percaya kepada keadilan ilahi), Nubuwwah (kenabian), Imamah (percaya kepada para imam setelah Nabi SAW) dan Al-Ma’ad (percaya kepada hari Akhir). Sedangkan rukun Islamnya Syi’ah ada sebelas: shalat, puasa, zakat, khums, haji, jihad, amar ma’ruf nahi munkar, tawalla, tabarra, dan amal shaleh,” paparnya.

Doktrin Syi’ah ini, lanjut Farid, jelas sangat berbeda dengan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah yang meyakini rukun iman dan rukun Islam berdasarkan hadits Shahih Bukhari riwayat Umar Bin Khatthab RA. Rukun Iman yang benar menurut hadits Nabi ada enam, yaitu: iman kepada Allah SWT, iman kepada para malaikat, iman kepada Kitab-kitab Suci, iman kepada para rasul
Allah, iman kepada hari Kiamat, dan iman kepada Qadha dan Qadar. Sedangkan rukun Islam ada lima, yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji.

Membaca uraian rukun iman dan rukun Islam versi Syi’ah itu, Farid merasa heran karena jauh dari standar ilmiah. Jika rukun iman dan rukun Islam ada rujukannya, yaitu Al-Qur’an dan Hadits Nabi, namun versi Syi’ah yang diedit Prof Dr Jalaluddin Rakhmat ini sama sekali tidak mencantumkan dalil maupun referensi apapun.

“Kita sangat heran. Buku ini kan diedit oleh Djalaluddin Rahmat yang bertitel professor doktor. Tapi anehnya ketika menulis rukun iman dan rukun Islam sama sekali tidak mencantumkan referensinya. Ini rendah sekali,” tukas pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) itu.

Penyimpangan Syiah lainnya yang dibeberkan Ustadz Farid, antara lain: mengafirkan para shahabat Nabi. Bahkan kebencian terhadap para shahabat itu dituangkan dalam selebaran Doa Ziarah Asyura yang melaknat para shahabat. “Doa melaknat para shahabat ini dibagikan kepada para peserta peringatan Hari Asyura di Puri Garini, Halim Perdana Kusumah Jakarta hari ini Selasa 6 Desember 2011 lalu,” tutupnya. (fayyadh)