Awas! SMS Provokator Beredar di Ambon Mencatut Jamaah Islamiyah (JI)

VOA-ISLAM – Di tengah beredarnya banyak rumor panas tentang akan adanya kerusuhan susulan di Ambon jelang Natal, kini muncul pesan singkat atau SMS provokatif. Tak tanggung-tanggung, pengirim SMS gelap itu mengaku sebagai bekas anggota Jamaah Islamiyah (JI) yang telah keluar karena tidak setuju dengan rencana JI yang akan mengadakan aksi teror di Ambon.

Sms provokator itu tak hanya menyebar ke kalangan Islam dan Kristen, tapi juga beredar ke ponsel aparat TNI dan Polri. Beberapa anggota TNI yang ditemui voa-islam.com, memperingatkan agar tidak terpancing dengan SMS provokatif tersebut.

SMS provokatif yang dikirim dari telepon genggam dengan nomor 085243228254 itu berbunyi sebagai berikut:

“Mulai rabu tanggal 07 Des 2011 hingga Natal agar waspada dan hati-hati,terutama buat pegawai Pemprov maluku dan Kota Madya,keuangan dan PLN karena ada gerakan pemboman menggunakan alat canggih berupa remote tombol yang didatangkan dari pilipina moro melalui Sultra,rencana biadab ini membuat saya keluar dari JI…Waspada demikian.”

Liciknya, pengirim SMS hanya menyebut keluar dari JI tanpa menyebut JI wilayah mana, dengan pimpinan siapa dan juga tidak menyebut identitas namanya siapa.

Anehnya, SMS provokasi tersebut ternyata lebih banyak beredar di kalangan umat Kristen, sedangkan di kalangan warga Muslim relatif sedikit.

Berkaca dari kasus-kasus kerusuhan Ambon sebelumnya, SMS provokasi semacam ini perlu diwaspadai dikarenakan dalam insiden kerusuhan tanggal 11 September 2011, sehari sebelumnya beredar SMS provokasi kepada komunitas muslim dan Kristen. Dalam siaran persnya, Mabes Polri mengaku telah mengetahui pengirim SMS provokasi tersebut dan akan segera menangkap pelaku pengirim SMS tersebut (12/9/2011). Namun sampai saat ini sudah 3 bulan berlalu, tapi Kepolisian tidak pernah menangkap pengirim SMS provokasi tersebut, seolah lupa dengan janjinya.

Semoga kaum muslimin Ambon tetap waspada tidak terpancing oleh provokasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang menginginkan terjadinya bencana menimpa kaum muslimin. (Arbi)