Meski Buta, Bikin al Quran Braille Untuk Sesama

Kekurangan fisik tidak menjadikan penghalang seseorang untuk beramal sholeh. Inilah yang dilakukan Anik Indrawati. Meski mengalami keterbatasan, perempuan kelahiran Surabaya 1976 ini mampu berprestasi dengan keahliannya membuat al-Quran braille untuk sesama penyadang tuna netra. Anik, demikian sapaan akrabnya membuat al-Quran Braille di kediamannya di Simo Pomahan Baru, Gang 12 no 15, Surabaya.

“Alhamdulillah, meski dengan kondisi seperti ini, tapi saya bisa bermanfaat bagi sesama penyandang cacat. Saya bisa membuat al Quran braille,” katanya, Rabu (20/07/2011).

Saat ini, Anik sedang menggarap pesanan dari Kodam Surabaya dan rekanan suaminya, Soeharto dari Tuban. Cukup banyak jumlahnya. Dari Kodam saja ada 10 juz sedangkan dari Tuban Anik harus menggarap buku doa-doa, surat Yaasin dan tahlil.

“Saya baru selesai buat 5 juz pesanan dari Kodam. Agak lama memang buatnya,” terangnya. Upah yang didapat Anik per lembar Rp 1000. Per hari, perempuan yang pandai mengaji dan hafal beberapa surat pendek di juz 30 ini sekitar sepuluh halaman. Setiap halaman berisi 27 kotak yang terdiri seperti titik-titik.

Dalam membuat al-Quran braille, Anik dibantu suaminya, Soeharto. Bila selesai dibuat, Soeharto akan mengoreksinya. Soeharto yang menikahinya 2004 lalu adalah sama-sama murid di Yayasan Pendidikan Tuna Netra Karunia (YAPTUNIK) Surabaya juga bisa membaca al Quran braille.

“Saya paham. Jadi kalau ada yang salah, saya betulkan,” ujar Soeharto yang sejak lahir telah menjadi tuna netra ini.

Sepasang suami ini memang sengaja ingin mengabdikan dirinya lewat al-Quran braille.

Menurut Soeharto, di Surabaya, masih banyak penyandang tuna netra yang belum punya al-Quran braille, apalagi bisa membacanya. Karena itu, ia ingin mencetaknya sebanyak-banyaknya.

“Tapi belum banyak pihak yang tergerak hatinya untuk membantu penyadang tuna netra untuk bisa baca al Quran,” terangnya.

Hal itu dilakukan Soeharto tidak lain agar penyandang tuna netra juga bisa baca al Quran dan spiritualnya terisi. Ia tidak mau, para tuna netra tidak kenal agama. “Jangan sampai matanya buta, tapi hatinya ikut buta,” harapnya. (Fani/hdt)