Aktivis Islam Menghadapi Tantangan Global: Solusi dan Jalan Keluar Menghadapi Tantangan Sekuler

Alislamu.com — Ada dua hal penting yang mendasa dalam menghadapi tantangan sekuler:

1. Menyebarkan tashawur yang benar tentang Islam.
Yakni memberikan keterangan yang memuaskan batin dan akal kepada setiap orang yang menyerukan sekulerisme, atau orang yang terpengaruh dengannya; bahwa Islam dengan prinsip-prinsip dan hokum yang terkandung di dalamnya adalah suatu perundang-undangan yang lebih kuat dan berkemampuan dibanding perundang-undangan manapun.

Mampu memberikan solusi (berbagai macam problematika kehidupan) seiring dengan kemajuan peadaban, relevan dengan perkembangan zaman dan mampu memenuhi berbagai tuntutan hidup manusia di setiap waktu dan tempat.

Dalam pembahasan ini saya menambahkan hakikat persepsi Islam yang menyingkap realita bagi orang yang mempunyai akal dan bashirah bahwa Islam dan syari’atnya yang syumul dan lengkap telah membukakan bagi manusia kunci-kunci gerbang kemajuan dan peradaban, memperlihatkan kepada mereka jalan menuju ilmu dan pengetahuan serta mengajak mereka untuk mengenal hakikat alama semesta dan kehidupan. Kunci-kunci tersebut terletak pada prinsip ajaran Islam sebagai berikut:

a. Syumuliyah Islam dalam ilmu

Sebelum saya membicarakan masalah ini, ada baiknya saya kemukakan terlebih dahulu mengenai pemuliaan Islam terhadap ilmu dan ulama.

Di antara bukti nyata pemuliaan itu adalah bahwa Allah memuliakan ilmu, bacaan dan qalam (pena) pada permualaan ayat yang turun:

“Bacalah dengan menyebut nama Rabb-mu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mulah Yang Maha Pemurah. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya,” (Al-‘Alaq: 1-5).

Di antara bukti nyata Islam memuliakan ilmu adalah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla menghubungkan antara imana dan ilmu sebagai isyarat yang menunjukkan bahwa orang-orang alim itu ketika mereka beriman, maka mereka adalah golongan yang paling tinggi maqamnya, paling atas posisinya dan paling mulia kedudukannya di dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala berfirman:

…Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat..,” (Al-Mujadilah: 11).

Dan di antara bukti kongkrit dari pemuliaan itu adalah bahwasanya Nabi saw. Telah menjadikan seorang thalibul ‘ilmi (penuntut ilmu) pada kedudukan seorang mujahid fie sabilillah dari segi pahal, tingkatan dan keutamaannya.

At-Tirmidzi meriwayatkan hadits Nabi saw. Bahwasanya beliau pernah bersabda:

“Barangsiapa yang keluar (pergi) untuk menuntut ilmu, maka dia berjuang fie sabilillah hingga dia kembali.”

Dan di antara bukti nyata bahwa Islam memuliakan ilmu adalah bahwasanya Rasul saw. Mengindentikkan jalan yang dilewati oleh orang yang menuntut ilmu sebagai jalan yang membawa ke Jannah.

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju Jannah.”

Di bawah penerangan taujihat Islam dalam mengangkat menara ilmu dan semboyan pengetahuan ini, kita mendapati bahwa ketika Al-Biruni dekat dengan saat ajalnya, tengah berlangsung suatu pembicaraan di majlisnya seputar masalah warisan yang sangat pelik. Lalu Al-Biruni meminta kepada salah seorang yang hadir untuk menjelaskan permasalahan tersebut. Lalu salah seorang yang mengatakan, “Dalam keadaan bagaimana Anda sehingga Anda harus menanyakan persoalan ini?” Al-Biruni menjawab, “Pergi menjumpai Allah dalam keadaan aku mengetahuinya lebih baik bagiku daripada aku tidak mengetahuinya.”

Ilmu itu dalam pandangan Islam mencakup setiap ilmu yang bermanfaat, baik ilmu diniyah maupun ilmu dunia, teori maupun praktek, fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah, sepanjang ilmu itu ditujukan untuk berkhidmat kepada agama dan dunia, memperbaiki alam, kehidupan dan manusia.

Di antara yang menunjukkan kesyumulan tersebut ialah bahwa ketika Islam memerintahkan untuk mempelajari ilmu, maka Islam tidak membatasi dengan ilmu diniyah atau ilmu kauniyah saja, teori atau praktek saja, akan tetapi Islam memutlakkan lafadz ilmu guna mencakup setiap ilmu yang bermanfaat bagi manusia baik dalam urusan dien maupun dunia; sebagaimana firman Allah:

…dan katakanlah, Ya Rabb-ku tambahkanlah kepadaku ilmu,” (Thaaha: 114).

Dan di antara yang menunjukkan kesyumulan Islam adalah bahwa I’dad (persiapan) yang dimaksud dalam firman Allah:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi…
” (Al-Anfal: 60).

Meliputi persiapan materi, phisik dan mental dalam kadar yang sama. Maka dari itu setiap ilmu tertentu yang dimaksudkan untuk persiapan ini, mempelajarinya dalam pandangan Islam adalah fardhu kifayah hukumnya.

Berdasarkan keterangan di atas, maka mempelajari ilmu teknik, fisika, kimia, kedokteran, pengobatan, ilmu atom dan listrik termasuk fardhu kifayah dalam masyarakat Islam. Bila telah ada sebagian masyarakat Islam yang mengerjakannya, maka gugur kewajiban tersebut atas yang lain, akan tetapi jika tidak ada satu orangpun yang mengerjakannya, maka semuanya berdosa dan akan dimintai pertanggung jawaban.

Dan di antara yang menunjukkan kesyumulan Islam adalah bahwa setiap ayat Al-Qur’an yang mendorong manusia untuk merenungkan dan memikirkan penciptaan langit dan bumi pada hakikatnya adalah dorongan untuk mempelejari ilmu empiris dalam setiap bentuk dan macamnya. Yang demikian itu karena ketika seorang muslim merenungkan rahasia alama, mendalami rahasia-rahasia semesta dan mengenal rahasia-rahasia kehidupan, maka bertambahkan keimanannya terhadap keagungan Sang Pencipta Yang Maha Agung dan dengan ciptaan-ciptaan-Nya yang demikian mengagumkan dan dengan kemampuan yang sangat luar biasa hebatnya.

Maka dari itu kita mengetahui firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”

Yakni, orang-orang yang berilmu yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah.

Oleh karena yang alim itu, semakin bertambah ilmu pengetahuannya terhadap rahasia alam semesta, akan bertambah keimanannya terhadap Allah, bertambah kepercayaannya dan bertambah takut kepada-Nya.

Dari sini kita mengetahui bahwa prinsip kesyumulan ilmu pengetahuan di dalam Islam adalah kunci pembuka gerbang peradaban dari sejak munculnya Islam hingga Allah mempusakai bumi dengan seluruh makhluk yang ada di atasnya.

b. Pemuliaan Allah terhadap manusia.

Al-Qur’anul Karim telah menetapkan dengan jelas dan gamblang prinsip pemuliaan Allah atas manusia. Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan,” (Al-Israa’: 70).

Apa wujud pemuliaan Allah terhadap manusia?

Allah memuliakan manusia dengan akal pikiran dan indera, oleh karena keduanya adalah wasilah untukmencapai ma’rifat dan mengungkap kebenaran dan hakikat, serta menyingkap kebesaran Allah pada kesumpurnaan alam semesta dan penciptaan kehidupan.

Allah berfirman:

“Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan dan hati, agar kalian bersyukur,” (An-Nahl: 70).

Allah memuliakan manusia dengan menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana hal tersebut diketahui dengan jelas dalam firman Allah Ta’ala:

Dan ingatlah tatkala Rabb-mu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’,” (Al-Baqarah: 30).

Sedangkan pengertian manusia sebagai khalifah adalah agar manusia berjalan menurut apa yang dikehendaki oleh Sang Pencipta yang telah menitipkan dan mewakilkan pengelolaan bumi kepadanya.

Yang dikehendaki Allah dari hal itu adalah adalah agar manusia menjadi tuan di bumi, menjaga dan mengelolanya, mengeluarkan harta simpanannya, mengungkap berbagai rahasia yang ada di dalamnya. Dan yang demikian itu tak mungkin terwujud kecuali dengan menempuh jalan ilmu dan pengetahuan serta mencari; dengan bekal tekad dan kejujuran, segala sesuatu yang berhubungan dengan hokum alam dan peraturan hidup.

Allah Ta’ala memuliakan manusia dengan menundukkan alam semesta bagi kepentingan manusia, dan menjadikan alam seluruhnya di bawah pengaturannya. Dan inilah yang telah dijelaskan oleh Al-Qur’an Karim dalam keterangan yang amat gamblang.

Allah Ta’ala berfirman:

Allah-lah yang menundukkan lautan untuk kalian, supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seidzin-Nya dan supaya kalian dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kalian bersyukur. Dan dia menundukkan untuk kalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Selama alam semesta masih ditunddukkan dan dimudahkan bagi kepentingan manusia, maka hendaknya digunakan untuk berkhidmat pada kemanusiaan, untuk kepentingan peradaban dan untuk meingkatkan kehidupan.

Dari sini kita tahu bahwa prinsip pemuliaan Allah terhadap manusia adalah kunci utama untuk membuka gerbang peradaban dan factor pendorong kuat untuk mengungkapkan fakta-fakta ilmiah di sepanjang perjalanan sejaran dan peredaran masa.

c. Pada pengakuan prinsip persamaan

Yang demikian itu telah dicanangkan oleh Al-Qur’anul Karim pada empat belas abad yang lalu, dalam firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian,” (Al-Hujuraat: 13).

Dan telah ditetapkan oleh Nabi saw. Dalam khotbahnya pada haji wada’, “Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu, dan sesungguhnya bapak kalian adalah satu. Kalian semua berasal dari Adam, dan Adam itu diciptakan dari tanah. Tak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang Ajam, dan tidak ada kelebihan warna kulit putih atas warna kulit hitam kecuali dengan takwa.”

Nash-nash di atas menegaskan bahwa setiap-setiap golongan mnausia yang tergabung di bawah bendera Islam telah memberikan andil yang sangat positif di dalam membangung peradaban manusia, bahkan person-personnya menjadi tokoh termasyhur dalam hal keunggulan ilmu pengetahuannya dan keunggulan peradabannya, seperti Abu Hanifah, Subaweh, Al-Biruni, Al-Khawarizmi, Ar-Razi dan Ibnu Sina, serta ratusan tokoh-tokoh lain yang mengusung kepada umat manusia panji-panji syari’at, kedokteran, ilmu pasti, sejarah, social, astronomi, geographi, dan ilmu-ilmu pengetahuan yang lain. Dan jangkauan pengaruh mereka dan jejak-jejak peninggalan mereka.

Dari sini kita tahu bahwa prinsip persamaan di dalam Islam adalah salah satu kunci besar pembuka peradaban umat manusia, dan sebagai sarana pendorong kuat kebangkitan dan kecemerlangannya selama berabad-abad lamanya sepanjang perputaran roda sejarah.

d. Pada prinsip ta’aruf antar bangsa

Adapuan yang menjadi prinsip dasar dalam prinsip ini ialah firman Allah Ta’ala:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal,” (Al-Hujuraat: 13).

Dienul Islam telah menetapkan serta mengukuhkannya di banyak tempat. Di antara sendi-sendi pendukung dari prinsip keterbukaan serta ta’aruf (saling kenal mengenal) ini adalah mengambil manfaat (hal-hal positif) dari kemajuan bangsa-bangsa lain. At-Tirmidzi dan Al-‘Askari meriwayatkan dari Nabi sabuah hadits:

“Hikmah itu adalah barang yang hilang dari setiap orang bijak, apabila ia menemukannya, maka ialah yang paling berhak memilikinya.”

Di antara sendi-sendi pendukung bagi prinsip ini ialah: berbuat baik dan santun kepada orang-orang yang tidak menunjukkan sikap pemusuhan terhadap kaum muslimin. Allah berfirman:

“Allah tiada melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kalian karena agama dan tidak pula mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,” (Al-Mujaadilah: 9).

Di antara sendi-sendi pendukung bagi prinsip ini ialah: menjaga dan menepati isi perjanjian, meski orang yang terikat perjanjian adalah orang-orang musyrik. Allah berfirman:

“Kecuali orang-orang musyrik yang kalian telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatuupn (dari isi perjanjian) kalian, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang bertaqwa,” (At-Taubah: 4).

Dan di antara sendi-sendi pendukung bagi prinsip ini ialah: memberikan perlindungan kepada orang non muslim, meski ia adalah seorang musyrik, hingga Nampak jelas baginya kebenaran, dan masuk jaminan keamanan orang-orang muslim. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan jika seorang di antara orang –orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui,” (At-Taubah: 6).

Dan di antara sendi-sendi pendukung bagi prinsip ini ialah: dibolehkannya memakan sembelihan golongan ahli kitab, dan menikahi wanita-wanita mereka. Allah Ta’ala berfirman:

“Pada hari ini dihalalkan bagi kalian (makanan) yang baik-baik. Dan makanan sembelihan orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagi kalian, dan makanan kalian halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kalian, bila kalian telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak pula menjadikannya sebagai gundik-gundik,” (Al-Ma’idah: 5).

Maka berdasarkan prinsip ta’aruf ini dan sendi-sendi pendukung yang telah mengukuhkannya, kaum muslimin bersikap terbuka kepada yang lain, mereka berta’aruf dengan banyak bangsa yang tidak menganut millah mereka. Dan sebagai hasil dari sikap keterbukaan tersebut, maka mereka dapat mengambil manfaat dari berbagai kemajuan umat lain dan berbagai macam bentuk peradaban mereka, sehingga terbentuklah bagi kaum muslimin berbagai pengalaman yang demikian luas pada berbagai bidang ilmu pengetahuan. Maka kemudian datanglah peradaban Islam setelah itu dan telah tercetak dengan cetakan Islam dan telah tercap dengan stempelnya, yang berbeda dengan semua bentuk kemajuan dan peradaban di sepanjang perjalanan masa dan sejarah.

Supaya kalian mengetahui bagaimana pengaruh Islam terhadap pemikiran mereka dan bagaimana Islam telah mendorong mereka untuk membangung keagungan ilmu pengetahuan dan penciptaan peradaban Islam sepanjang sejarah, berikut contohnya:
1. Ibnu Khaldun: pakar sejarah dan ilmu social dan demografi.
2. Abu Zakariya Ar-Razi: pakar ilmu kedokteran
3. Abu ‘Ali Ibnu Sina: pakar filasafat dan ilmu mantiq (kaidah-kaidah debat).
4. Asy-Syarif Al-Idrisi: pakar ilmu geografi.
5. Abu Bakar Al-Khawarizmi: pakar ilmu pasti dan ilmu falaq (matematika dan astronomi).
6. Ali bin Haitsam: pakar ilmu alam dan optic.
7. Abul Qasim Az-Zahrawi: pakar ilmu bedah.
8. Abu Zakariyah Al-‘Awwam: pakar ilmu batani.
9. Abul Banna (pakar ilmu hitung).
10. Abu Araihan Al-Biruni: pakar ilmu tarikh dan peninggalan sejarah.
11. Al-Imam Al-Ghazali: pakar tarbiyah dan terapi obat penyakit hati.
12. Dan para Imam: Malik, Abu Hanifah, Asy-Syafi’I, dan Ibnu Hanbal sebagai pakar ilmu fiqh dan syari’at.

Telah dikemukakan bagaimana orang-orang Barat dan Timur yang obyektif, para pakar ilmu social, para ahli filsafat dan para pakar hokum yang mengakui akan kebesaran peradaban Islam dalam berbagai bidang da pengaruhnya terhadap kebangkitan bangsa-bangsa Eropa dan kemajuannya di abad modern; dan bagaimana muncul di kalangan kaum muslimin para ilmuwan yang telah mempengaruhi peradaban umat manusia dengan ilmu dan pengetahuan mereka dan telah memperkaya khasanah peradaban tersebut dengan kegeniuasan da kebrilianan akal pikiran mereka dan para spesialis ilmu pengetahuan di Barat dan Timur tak pernah berhenti mengakui kelebihan mereka dan terus menyebut nama-nama mereka.

Maka tidak ada pilihan lain bagi kalian, setelah kalian tahu hakikat Islam yang abadi dan setelah kalian mengetahui kunci-kunci pembuka peradaban manusia yang kekal, selain menjalankan peranan kalian yang besar dan dalam memberikan keterangan tentang persepsi Islam yang benar kepada orang-orang sekuler dan menyadarkan mereka serta meyakinkan mereka bahwa Islam yang agung ini adlaah agama peradaban dan ilmu pengetahuan serta syari’at yang amat kontributif dan dinamis. Mudah-mudahan mereka mengetahui hakikat agama mereka dan menyambut dengan rasa patuh dan kerelaan hati terhadap petunjuk Tuhan mereka dan mudah-mudahan meluruskan keislaman dan tashawur mereka tentang Islam serta nurani mereka dapat merespon kebenaran dan semoga mereka memerintah Negara dan rakya dengan hokum dan aturan yang telah diturunkan Allah dan semoga pula mereka mau mengemban risalah Islam ke dunia sekali lagi!

2. Menempuh aktifitas yang sistimatis dan terfokus.

Ini merupakan salah satu sarana penting yang menentukan kesuksesan aktifitas dakwah, memberikan dorongan yang besar ke depan, serta menentukan kelangsungannya dari waktu ke waktu; bahkan dengan perantaranya maka para du’at bisa mencapai hasil-hasil terbaik dan bisa memetik buah dakwah yang termatang.

Coba tunjukkan kepada saya satu jama’ah Islam di masa lalu maupun di masa sekarang yang bisa mencapai tujuannya dalam menegakkan pemerintahan Islam dengan tanpa melalui persiapan yang matang, hanya bermodalkan semangat dan bertindak secara reaksioner dan bekerja secara serampangan tanpa kendali?

Coba tunjukkan kepada saya suatu kelompok aktifis Islam yang berhasil menghantarkan kepada kejayaan bagi kaum muslimin dan telah menegakkan bagi mereka sebuah daulah hanya bermodalkan beberapa puluh pemuda tanpa mengambil asbaabun nashr (factor-faktori penyebab kemenangan), tanpa mengamalkan langkah-langkah terprogram serta menyiapkan sarana-sarana kekuatan?!

Coba tunjukkan kepada saya sekelompok pemuda mukmin, mukhlis dan pemberani yang berhasil menggulingkan pemerintah kafir dan menyingkirkan pemerintah Atheis tanpa melakukan persiapan yang matang, tanpa bersandar pada suatu basis (wilayah dan kekuatan) dan tanpa perencanaan kedepan?!

Jika jawabannya: Tidak ada!, maka mengapa jama’ah-jama’ah Islam bertindak tergesa-gesa, para pemuda Islam menggebu-gebu dan para pemimpin kelompok Islam dengan tanpa perhitungan masuk ke dalam peperangan melawan musuh mereka, padahal jumlah mereka tak lebih dari ratusan orang dan belum sama sekali menyiapkan kekuatan senjata?!

Tidakkah mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu bisa menyeret negeri dan rakyat pada suatu tragedi bencana yang menyakitkan, tak ada yang tahu batas ujungnya kecuali Allah.

Tidakkah mereka melihat bahwa lantaran tindakan mereka yang tanpa perhitungan itu, maka mereka telha menggiring umat ke arah penumpahan darah, perusakan kehormatan dan perampasan harta benda?!

Tidakkah mereka mengetahui bahwa dengan semangat yang meggebu-gebu mereka yang tanpa perhitungan itu maka mereka dapat menghentikan roda perkembangan Islam ke depan?!

Tidakan mereka memahami bahwa dengan ketergesa-gesaan mereka untuk mengangkat senjata, maka mereka telah memberikan pelua kepada musuh-musuh Islam untuk menjalankan rencana-rencananya menyebarluaskan kerusakan ke-mulhidan-an?!

Tidakkah mereka berpikir bahwa dengan masukkan mereka ke dalam ajang pertempuran tanpa (focus) sasaran dan persiapan, maka mereka telah menggoyahkan kayakinan umat terhadap dakwah, juru dakwah dan mujahidin dan jihad.?!

Ingatlah! Hendaklah para juru dakwah Islam di setiap tempat mengambil pelajaran dari upaya perlawanan bersenjata yang tidak terfokus dan tanpa persiapan yang telah dicoba berulang kali selama ini, hendaknya mereka tidak tergesa-gesa mengobarkan revolusi seperti yang telah dilakukan (saudara-saudara mereka) sebelumnya. Jika mereka menginginkan dakwah mereka mencapai tujuannya meraih kemenangan besar dan jika mereka ingin membangun kejayaan bagi negeri mereka dan mendirikan daulah Islam bagi negeri mereka!!

Ya tidak mengapa jika para thaghut yang tak Bergama itu melakukan pemberangusan dan penumpasan terhadap dakwah dan para aktifisnya tanpa sebab dan dosa kecuali karena mereka mengatakan “Rabb kami adalah Allah”..maka boleh bagi mereka menurut pandangan syar’I untuk melakukan perlawanan terhadap musuh sebagai upaya membela diri dan menolak permusuhan. Maka sulit dibayangkan untuk bersikap pasrah dalam keadaan seperti ini, sementara parapemuda aktifis dakwah berdiri terbelenggu kedua tangannya dan musuh-musuh Allah memainkan pedang mereka di atas leher-leher mereka, menyiksa dan membunuh. Bahkan tidak ada pilihan lain bagi para pemuda, dalam keadaan seperti ini kecuali menghadapi permusuhan dengan permusuhan, membalas perlawanan dengan perlawanan pula, maka jika mereka gugur, mereka pulang megadap tuhan mereka sebagai syuhada’, dan jika mereka sukses, maka cukuplah bagi mereka bahwa mereka tidak menjalankan perintah Tuhan mereka untuk melawan pengkhianatan dan permusuhan.

Akan tetapi, apa sebenarnya sarana-sarana utama bagi aktifitas terfokus?

Sarana-sarana positif yang seyogyanya di tempuh oleh para aktifiis dakwah di dalam menghadapi pemerinah sekuler dan untuk meraih kemenagan bersandar pada langah-langkah berikut:

1. Membentuk qiyadah jama’iyah
2. Terjun ke medan ta’iyyah (penyadaran)
3. Pemfokusan upaya tarbiyah dan I’dad
4. Memperbanyak qaidah (basisa-basus dajwah.
5. Perencanaan yang matang dan terfokus.

Langkah-langkah dan sarana-sarana haruslah bejalan seiring dan terpandu, lantaran banyaknya jenis pekerjaan yang mesti di tangani; harus ada pembagian tugas, dan harus ada koordinasi antara satu pekerjaan dengan pekerjaan yang lain. Ada da’I yang mengenalkan dakwah Islam dan menyeru manusia kepadanya, yang kedua membina dan mengkader, yang ketika mengumpulkan dan menyatukan, yang keempat gigih berjuang menggalang berbagai potensi yang ada; sehingga apabila semuanya telah yakin bahwa dakwah Islam telah tersebar luas, dan basis-basis dakwah telah kuat dan kokoh, maka mereka menanti dan menunggu perintah apa yang harus mereka kerjakan. Tanggung jawab apa yang mesti mereka jalankan. Dan jika rencana telah matang dan perintah telah diturunkan, maka mereka harus melangkah maju degan berkah Allah, mantap menjalankan perintah tanpa rasa takut ataupun rasa enggan.

Dan pada umumnya, jika mereka berlaku benar terhadap Allah dan berlaku ikhlas, maka kemenangan akan berada di pihak mereka. Dan Allah berkuasa atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Sumber: Diringkas dari kitab Asy-Syabab al-Muslimu Fii Muwaajahati at-Tahaddiyaati, atau Aktivis Islam Menghadapi Tantangan Global, karya: Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan, terj. Abu Abu Abida al-Qudsi (Pustaka Al -‘Alaq, 2003), hlm. 171-208.