Aktivis Islam Menghadapi Tantangan Global: Tarbiyah Ruhiyah

(Alislamu.com) — Untuk melengkapi pembahasan sebelumnya, pada pembahasan kali ini penulis akan menjelaskan lebih detil tentang tarbiyah ruhiyah.

Tarbiyah Ruhiyah

Yakni mencemerlangkan hati dengan aqidah, membersihkan ruhani dengan ibadah dan meninggalkan jiwa menuju pendakian kesempurnaan yang tertinggi.

Sesungguhnya jalan menuju ruhaniyah (spiritual) adalah taqwa, yaitu jangan sampai Allah melihatmu melakukan larangan-Nya dan jangan sampai Dia melihatmu meninggalkan perintah-Nya.

Adapuan di antara jalan menuju taqwa adalah:

1. Mu’ahadah

Yakni seorang muslim menyendiri dengan Rabbnya dan ia memberikan pada-Nya janji selamanya untuk tidak menyembah kepada selain-Nya dan tidak akan meminta pertolongan kecuali kepada-Nya dan tidak akan berpegang teguh kecuali kepada jalan-Nya yang lurus.

2. Muhasabah

Yakni seorang muslim mengintropeksi dirinya setelah melakukan suatu amal, apakah amalannya itu telah dimaksudkan untuk mencari keridhaan Allah? Apakah ketaatannya bercampur unsur riya? Apakah ia telah melakukan dosa sepanjang siang? Apakah ia telah menunaika hak Allah dan hak manusia? Sahabat Umar bin Khatthab r.a. berkata:

“Hisablah dari kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang dan bersiap-siaplah utuk menghadapi penampakan amal terbesar.”

3. Mujahadah

Yakni seorang muslim berjuang melawan diri sendiri untuk senantiasa memperbaiki amal ketaatan yang dapat mendekatkannya kepada Allah serta menambah amal ketaatan lebih banyak dari yang telah dikerjakannya, sehingga amal ketaatannya kepada Allah menjadi lebih afdhal, dan ibadah-ibadah nafilah yang dikerjakannya menjadi lebih banyak. Allah berfirman:

“Dan orang-orang yang berjihad sungguh-sungguh di jalan Kami, sungguh Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami,” (Al-Ankabuut: 69).

Ada pilar-pilar penopang rohani, yang memberikan makanan, menumbuhkembangkan, mengokohkan dan menguatkannya, yaitu:

a. Senantiasa melakukan muraqabah (mendekatkan diri) kepada Allah.

Yakni dengan menumbuhkan perasaan sepenuh hati bahwasanya Allah senantiasa mendengarnya, melihatnya, mengetahui apa yang ia rahasiakan dan apa yang nampakkan, dan mengetahui pandangan mata yang khianat serta apa yang tersembunyi di dalam dada.

b. Menyongsong datangnya maut dan kehidupan sesudahnya

Yakni dengan menumbuhkan sepenuh hati perasaan bahwa kematian pasti akan menjemputnya, dan dia kelak akan ditanya dalam kesendiriannya, dan sesungguhnya kubur bagi orang yang telah mati mungkin menjadi satu taman dari taman-taman Jannah atau menjadi kawah dari kawah-kawah Neraka.

c. Menyongsong datangnya hari akhir dan keadaannya

Yakni dengan menumbuhkan sepenuh hati perasaan terhadap apa yang bakal ditemui oleh penghuni padang Mahsyar berupa ketakutan dan kesengsaraan yang dahsyat tak terperkirakan, dan tentang bagaimana keadaan mereka saat ditimbang amal perbuatannya, dibagi-bagikan catatan amal, dan menyeberang Ash-Shirath, serta nasib yang bakal mereka alami setelah Allah memutuskan perkara hamba-hamba-Nya.

Rasulullah saw. Pernah bersabda, “Adapun di tiga tempat, maka tak seorang pun yang ingat akan orang lain: yakni saat mizan hingga ia tahu apakah timbangannya ringan atau berat; saat berterbangan catatan amal, hingga ia tahu dimana buku catatan amalnya akan jatuh, di sebelah kanan atau kirinya atau dibelakang punggungnya; dan saat menyeberang ash-shirath, saat ia berada di atas dua permukaan jahannam hingga ia melewatinya…”

d. Memperbanyak membaca Al-Qur’anul Karim disertai dengan perenungan yang khusyu’.

Rasulullah saw. Bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali yang semisalnya. Aku tidak mengatakan “alif laammim” adalah satu huruf, akan tetapi “alif” satu huruf, “laam” satu huruf dan “mim” satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)

“Bacalah olehmu sekalian Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at pada orang-orang yang membacanya,” (HR Muslim).

e. Menjadikan Nabi saw. Sebagai panutan dengan mengenal sirah kehidupannya yang harum.

Itu karena Rasul adalah sosok panutan yang sempurna, contoh hidup dalam ibadahnya, kezuhudannya, kelembutannya, ketawadhuannya, keteguhannya, keberaniannya, spritualnya dan pengaruhnya bagi generasi-generasi mukmin di setiap zaman dan tempat. Firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasululullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian yaitu bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah,” (Al-Ahzaab: 21).

f. Menggauli orang-orang pilihan dari golongan Ash-haabul quluub dan ahlu ma’rifah billah.

Yang demikian itu dikarenakan dua sebab utama:
Pertama: Syari’at memerintahkan untuk mempergauli mereka dan mengikuti mereka, berdasarkan firman Allah:

“Hai orang-orang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang benar,” (At-Taubah: 119).

Nabi saw. Bersabda, “Janganlah kamu berkawan, kecuali dengan orang mukmin dan jangan sampai makan (jamuan) makanmu kecuali orang yang bertakwa,” (HR At-Tirmidzi dan Abu Dawud).

Kedua: Untuk memperoleh ketakwaan, spiritual dan nasihat mereka.
Berdasarkan sabda Nabi saw, “Seseorang itu mengikut agama kawan karibnya, maka hendaklah setiap orang diantara kalian melihat kepada siapa dia berkawan,” (HR Ibnu Hibban).

g. Senantiasa mengingat Allah setiap waktu dan keadaan.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
“Hai orang-orang beriman, berdzikirlah dengan menyebut asma Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang,” (Al-Ahzaab: 41-42).

h. Menangis karena takut kepada Allah saat berkhalwat.

Nabi saw. Bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari dimana tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya, seseorang yang senantiasa mengingat Allah dalam keadaan menyendiri hingga mencucurkan air mata,” (HR Bukhari dan Muslim).

i. Menyiapkan bekal dengan ibadah nafilah ang kontinyu.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan pada sebagian malam hari bertahajudla kamu sebagai suatu ibadah nafilah (tambahan) bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji,” (Al-Israa’: 79).

Sumber: Diringkas dari kitab Asy-Syabab al-Muslimu Fii Muwaajahati at-Tahaddiyaati, atau Aktivis Islam Menghadapi Tantangan Global, karya: Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan, terj. Abu Abu Abida al-Qudsi (Pustaka Al -‘Alaq, 2003), hlm. 218-230.