500 Ulama Pakistan Berikan Pujian kepada Pembunuh Gubernur Sekuler Pakistan

Seorang politisi Pakistan yang ditembak mati atas penentangannya terhadap hukum penghujatan terhadap Islam dimakamkan pada hari Rabu kemarin (5/1), setelah pembunuhan ini mungkin tindakan serupa akan berlanjut bagi orang yang mendorong untuk sebuah visi yang lebih liberal dan sekuler di masyarakat Pakistan.

Lima ratus ulama Pakistan mengatakan bahwa siapa pun yang mengungkapkan kesedihan atas pembunuhan terhadap Salman Taseer, gubernur provinsi Punjab, bisa mengalami nasib yang sama dengan gubernur tersebut.

Taseer, politisi liberal yang dekat dengan Presiden Asif Ali Zardari, telah memperjuangkan kebebasan bagi seorang wanita Kristen yang harus dihukum mati di bawah undang-undang penghujatan.

Taseer dibunuh oleh salah seorang penjaganya, yang mengatakan ia marah karena politisi tersebut menentang hukum penghujatan terhadap Islam.

Para ulama memuji “keberanian” dan semangat keagamaan dari pembunuh itu, dengan mengatakan tindakan itu telah membuat umat Islam di seluruh dunia bangga. Para pejabat Pakistan mengatakan mereka sedang menyelidiki apakah pembunuhan itu adalah bagian dari konspirasi yang lebih luas.

Hukum penghujatan memiliki dukungan luas di negara yang lebih dari 95 persen penduduknya adalah Muslim, dan politisi kebanyakan enggan untuk terlalu ikut campur mengomentari hal itu. Taseer, bagaimanapun, adalah seorang kritikus vokal.

“Lebih dari 500 ulama dari Jamaat-e-Ahl-e-Sunnah telah menyarankan umat Islam untuk tidak melakukan doa di pemakaman Gubernur Punjab Salman Taseer ataupun mencoba untuk memimpin doa,” kata kelompok Sunni dalam sebuah pernyataan.

“Juga, seharusnya tidak ada ekspresi kesedihan atau simpati pada kematian gubernur itu, pada saat mereka yang mendukung penghujatan Nabi itu sendiri terlibat dalam penghujatan.”

Taseer telah membela seorang ibu Kristen, Aasia Bibi, yang akan dihukum mati pada bulan November dalam kasus sengketa yang berasal dari desanya. Mengatakan bahwa Bibi telah dituduh dengan tuduhan palsu, dan Taseer telah berjanji untuk mengajukan grasi ke presiden.

Menteri Dalam Negeri Rehman Malik mengatakan, pengawal yang membunuh Taseer, diidentifikasi sebagai Mumtaz Hussain Malik Qadri, mengakui dan telah ditangkap. Dia adalah anggota pasukan polisi elit.

Setelah meninggalkan pengadilan, Qadri berteriak: “Dalam melayani Nabi, kematian dapat diterima.” Taseer ditembak 14 kali dari jarak sekitar enam meter, kata seorang juru bicara rumah sakit tempat ia dirawat. (erm/fani)