Tak Disangka, Mesir Halangi Kapal Bantuan Kemanusiaan ke Gaza

Setelah Kapal Marvi Marmara gagal membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza, kini untuk kedua kalinya, Kapal Salam yang mengangkut bantuan serupa, dihalang-halangi Mesir untuk berlabuh di Pelabuhan El-Arish.

Hingga saat ini, kapal yang membawa delapan aktivis dari berbagai negara ini terapung-apung di lepas pantai El-Arish sejauh 3 mil. Ditahannya kapal Salam oleh Mesir menyebabkan para aktivis kemanusiaan yang mengikuti misi ”Asian Caravan to Gaza” tersebut kehabisan logistic selama 24 jam. Mereka betul-betul tidak menduga Mesir akan bertindak seperti ini.

Merespon Mesir yang tidak koperatif itulah yang mendorong kelompok solidaritas kemanusiaan yang tergabung dalam Asian People Solidarity For Palestine, melakukan aksi unjuk rasa di depan Kedubes Mesir, Jalan Teuku Umar Menteng, Jakarta Pusat, Selasa siang (4/1/2011).

Koordinator lapangan (korlap) Mustaqim, dalam orasinya menjelaskan, meskipun otoritas Mesir telah memberikan izin Kapal “Salam”, namun sampai saat ini, kapal tersebut belum diizinkan untuk berlabuh di Pelabuhan El–Arish. Tindakan Mesir ini tidak disangka-sangka oleh para aktivis. Padahal izin telah diperoleh sebelum kapal diberangkatkan dari pelabuhan Latakia Syria.

Para aktivis mencarter pesawat dari Damaskus ke El-Arish telah memasuki Gaza pada tanggal 2 Januari 2011, pukul 23.54 malam waktu setempat. Sementara itu, kapal berangkat dari Latakia tanggal 1 Januari, dan seharusnya sudah berlabuh di El-Arish pada tanggal 2 Januari pukul 20.00 malam. Namun hingga berita ini ditulis, kapal tersebut tidak diperbolehkan berlabuh di El-Arish. Kini keberadaan kapal Salam berada di 3 mil lepas pantai El –Arish.

Delapan aktivis yang berada di kapal tersebut, antara lain: Brigadier Sudhier Sawant, Ajit Sahi (wartawan senior), Sheheen Kattiparambil (aktivis Jemat Eslami), Aslam Khan (Student Leader Association) – keempatnya aktivis dari India. Kemudian, Hakim Alizae (aktivis Azarbaijan), Muhammad Husein (Al Aqsa Working Group Indonesia), Nurazli bin Musa (aktivis Malaysia), Koichi Sakaguchi (aktivis antiperang Jepang).

Ada 11 aktivis delegasi dari Indonesia dari berbagai organisasi yang turut mengikuti ”Asia Caravan to Gaza” dan berada di Kapal Salam tersebut. Mereka di antaranya dari Voice of Palestine, Mer-C, Hilal Ahmar, AWG (Al Aqsa Working Group), PB HMI dan dua jurnalis dari TV One.

Selama perjalanan menuju pelabuhan El-Arish, dua kapal Israel dan satu helikopter tempur telah mengganggu dan menginterogasi awak kapal Salam. Namun kapal kemanusiaan terus melaju ke El Arish. ”Yang pasti, kami sangat menyayangkan otoritas pelabuhan Mesir yang sampai saat ini tidak mengizinkan kapal yang memberi bantuan kemanusiaan merapat di Pelabuhan el Arish.

”Perlu diketahui, di antara bantuan yang akan diberikan adalah berupa buku tulis dan mainan untuk anak-anak Palestina. Kami menyesalkan Mesir yang masih saja memblokade aktivis kemanusiaan yang hendak memasuki Gaza,” ujar Mustaqim kepada voa-islam.com.

Mengingat solidaritas kemanusiaan ini legal, para aksi unjuk rasa menuntut dan meminta Otoritas Mesir untuk segera memberikan izin Kapal Salam berlabuh dan merapat di El-Arish dan mengizinkan para aktivis kemanusiaan yang membawa bantuan ke Gaza. (voa-islam)