Potensi Konflik Tinggi, Pembangunan Gereja HKBP Cinere Harus Ditunda

Meski pembangunan gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) tengah berjalan, namun penolakan masih terjadi oleh umat muslim setempat yang menamakan diri Forum Solidaritas Umat Muslim (FSUM) Cinere. Untuk mencegah kejadian di Ciketing Bekasi, sejumlah pihak termasuk polisi pun terus bertindak cepat untuk mengamankan situasi. Permintaan penundaan ini berasal dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Depok. Sekretaris FKUB Depok Syaifudin mengatakan pihaknya meminta pihak gereja HKBP untuk menunda pembangunan di tengah situasi penolakan pembangunan gereja yang tengah memanas di Bekasi. “Kami dukung sikap Pemerintah Kota yang meminta pembangunan gereja ditunda dulu, tolong kami minta kepada panitia pembangunan untuk mempertimbangkan kembali situasi di lapangan yang berpotensi mengganggu kerukunan umat beragama,” ujarnya, Minggu (19/9/2010).

Pasalnya, kata Syaifudin, sejak awal pihaknya memang memberikan rekomendasi kepada pihak pemerintah kota khususnya Wali Kota untuk mencabut Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang sudah dikantongi pihak gereja sejak tahun 1998 dari Pemerintah Kabupaten Bogor. Wali Kota, lanjut Syaifudin, tidak bertindak sendiri namun sesuai rekomendasi dari Departemen Agama dan FKUB.

“Kami sudah survei, investigasi ke lapangan kalau di sana potensi konfliknya tinggi, jadi dari tahun lalu kami memang yang merekomendasikan ke Wali Kota agar izin pembangunan dicabut,” tegasnya.

Sementara itu pihak gereja HKBP menolak permintaan FKUB dan pemerintah kota untuk menunda pembangunan. Pihak gereja mengklaim telah memenangkan gugatan di PTUN dan Mahkamah Agung dan berhasil merebut IMB mereka kembali

Penolakan dari Umat Islam Cinere, Bukan FPI

Sementara itu, terkait tuduhan Front Pembela Islam (FPI) sebagai dalang penolakan pembangunan gereja HKBP, Forum Kebebasan Umat Beragama (FKUB) memastikan penolakan pembangunan gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Cinere bukan berasal dari FPI. Namun penolakan murni berasal dari umat muslim setempat yang menamakan diri Forum Solidaritas Umat Muslim (FSUM) Cinere.

Sekretaris FKUB Depok Syaifudin mengatakan penolakan berasal dari gabungan puluhan majelis taklim, kelompok pengajian, maupun jamaah masjid. Pihaknya, kata Syaifudin khawatir kejadian di Ciketing Bekasi dapat terulang jika pihak gereja tidak menunda pembangunan.

“Bukan FPI, mereka bercampur-baur dari umat Islam di masjid-masjid di Cinere, kami minta juga media beritakan secara berimbang agar tidak memicu konflik,” tegasnya, Minggu (19/9/2010).

FKUB, kata Syaifudin, menyesalkan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTUN) yang memenangkan pihak gereja HKBP tanpa mengecek kondisi di lapangan yang berpotensi konflik. Syaifudin meminta kedua belah pihak dapat menjaga situasi kerukunan umat beragama yang telah lama tercipta di Depok.

“Kami awalnya berharap PTUN akan survei ke lapangan, tetapi nyatanya PTUN tidak tinjau ke lapangan, harusnya lihat kondisi di lapangan, kami khawatirkan mereka tidak transparan,” jelasnya.

Sementara itu FPI Depok membantah penolakan pembangunan juga berasal dari mereka. Bahkan FPI tidak akan bertanggung jawab jika terdapat anggotanya yang terlibat dalam kasus gereja HKBP Cinere. (voa-islam)