Anak Sulit Diajak Mengaji? Jangan Langsung Memarahinya

“Sudah berkali-kali disuruh mengaji, kok masih malas?”

Pertanyaan seperti ini mungkin pernah muncul di rumah. Orang tua ingin anak dekat dengan Al-Qur’an, tetapi kenyataannya anak justru lebih tertarik bermain, menonton, atau melakukan aktivitas lainnya.

Tidak jarang, keadaan tersebut membuat orang tua kehilangan kesabaran.

Padahal, mendidik anak agar mencintai Al-Qur’an bukan hanya tentang berapa banyak halaman yang berhasil dibaca, tetapi juga tentang bagaimana kita menanamkan rasa cinta kepada kitab Allah dalam hati mereka.

Anak Tidak Selalu Menolak Al-Qur’an

Ketika anak tidak mau mengaji, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa anak tidak suka Al-Qur’an.

Bisa jadi ia sedang lelah.

Bisa jadi cara belajarnya kurang sesuai.

Bisa jadi ia belum memahami mengapa Al-Qur’an penting. Atau mungkin selama ini pengalaman mengajinya lebih banyak dikaitkan dengan teguran dan kemarahan.

Karena itu, sebelum bertanya: “Kenapa anak saya malas mengaji?”

cobalah bertanya: “Apakah selama ini saya sudah membuat anak merasa nyaman ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an?”

  1. Bangun Rasa Cinta Sebelum Menuntut Banyak

Anak membutuhkan proses. Jangan menjadikan target hafalan, jumlah halaman, atau durasi mengaji sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita memberikan kemudahan dan tidak membuat orang menjauh.

Beliau bersabda:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

“Permudahlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Prinsip ini sangat relevan dalam pendidikan anak.

Tentu bukan berarti anak dibiarkan tanpa aturan. Tetapi proses pendidikan perlu dilakukan dengan cara yang membuat anak semakin dekat dengan kebaikan.

  1. Jangan Hanya Menyuruh, Tunjukkan Contohnya

Anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan. Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Jika orang tua ingin anak mencintai Al-Qur’an, maka salah satu cara terbaik adalah menunjukkan bahwa orang tuanya juga memiliki hubungan yang baik dengan Al-Qur’an.

Misalnya, luangkan waktu membaca Al-Qur’an di hadapan anak. Tidak perlu selalu dalam waktu yang lama.

Anak akan melihat bahwa membaca Al-Qur’an merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Lama-kelamaan, kebiasaan itu bisa menjadi sesuatu yang familiar bagi mereka.

  1. Mulai dari Waktu yang Pendek

Jika anak sudah terlanjur merasa mengaji sebagai sesuatu yang berat, jangan langsung memberikan target besar.

Mulailah dari yang sederhana.

Lima belas menit.

Sepuluh menit.

Bahkan beberapa ayat dengan bacaan yang baik.

Yang penting dilakukan secara konsisten.

Daripada memaksa anak mengaji satu jam tetapi setelah itu ia semakin membenci kegiatan tersebut, lebih baik membangun kebiasaan sedikit demi sedikit.

Nabi ﷺ bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Pilih Waktu yang Tepat

Tidak semua waktu cocok untuk belajar.

Jika anak baru pulang sekolah, lapar, lelah, kemudian langsung diminta mengaji dalam waktu lama, tentu prosesnya akan lebih sulit.

Perhatikan kondisi anak. Pilih waktu ketika ia cukup tenang dan tidak sedang terlalu lelah. Jadikan mengaji sebagai bagian dari rutinitas yang teratur.

  1. Jangan Menjadikan Al-Qur’an sebagai Hukuman

Ini penting. Hindari kalimat seperti: “Kalau nakal, nanti tidak boleh main sampai selesai mengaji.”

Atau menjadikan mengaji sebagai hukuman setiap kali anak melakukan kesalahan.

Jika Al-Qur’an terus-menerus dikaitkan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan, anak bisa memiliki persepsi yang kurang baik terhadap kegiatan mengaji.

Al-Qur’an seharusnya diperkenalkan sebagai petunjuk, sumber kebaikan, dan sesuatu yang dekat dengan kehidupan seorang Muslim.

  1. Berikan Apresiasi atas Kemajuan Kecil

Anak berhasil membaca satu halaman dengan lebih lancar? Berikan apresiasi.

Hafal satu ayat? Berikan pujian.

Mulai mengingat adab sebelum membaca Al-Qur’an? Hargai usahanya.

Pujian yang tepat dapat membuat anak merasa bahwa usahanya diperhatikan.

Namun, jangan sampai seluruh motivasi anak hanya bergantung pada hadiah.

Ajarkan juga bahwa membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang dilakukan karena Allah.

  1. Cari Tahu Apa yang Membuat Anak Kesulitan

Terkadang masalahnya bukan malas. Anak mungkin kesulitan membaca huruf Arab.

Bisa jadi ia merasa malu karena teman-temannya sudah lebih lancar. Mungkin metode pembelajaran yang digunakan terlalu sulit baginya. Atau ia takut dimarahi ketika salah membaca.

Jika kita menemukan penyebabnya, kita bisa mencari solusi yang lebih tepat. Karena itu, sesekali tanyakan dengan lembut:

“Bagian mana yang paling sulit ketika mengaji?”

Pertanyaan sederhana seperti ini bisa membuka banyak hal.

  1. Jangan Bandingkan dengan Anak Lain

“Lihat temanmu, sudah hafal banyak.”

“Adikmu saja bisa.”

“Anak orang lain rajin mengaji.”

Kalimat seperti ini mungkin dimaksudkan untuk memotivasi, tetapi bisa membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik.

Setiap anak memiliki kemampuan dan proses perkembangan yang berbeda.

Lebih baik bandingkan anak dengan dirinya sendiri: “Sekarang bacaanmu sudah lebih baik daripada minggu lalu.”

Itu jauh lebih membangun.

  1. Doakan Anak

Selain ikhtiar dalam mendidik, jangan pernah melupakan doa.

Orang tua memiliki harapan besar terhadap anak-anaknya. Maka, mintalah kepada Allah agar anak diberi kecintaan kepada iman, Al-Qur’an, ilmu, dan kebaikan.

Di antara doa yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an adalah:

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali ‘Imran: 38)

Doa orang tua tidak boleh diremehkan.

Jangan Menyerah Hanya Karena Hari Ini Anak Belum Mau

Pendidikan anak adalah perjalanan panjang. Hari ini mungkin anak sulit diajak mengaji.

Besok mungkin lebih mudah. Hari ini mungkin hanya mampu membaca beberapa ayat. Beberapa tahun kemudian, bisa jadi ia menjadi orang yang dekat dengan Al-Qur’an.

Tugas orang tua adalah terus membimbing, memberi contoh, mendoakan, dan mencari cara terbaik. Jangan mengubah proses pendidikan menjadi pertengkaran setiap hari.

Penutup

Mendidik anak mencintai Al-Qur’an membutuhkan kesabaran.

Bukan berarti kita membiarkan anak tanpa aturan. Justru kita tetap perlu membiasakan mereka dengan Al-Qur’an, tetapi dengan cara yang bijak dan penuh perhatian.

Jangan hanya bertanya, “Berapa halaman yang sudah dibaca?”

Sesekali tanyakan juga: “Apakah anak kita sudah merasa bahwa Al-Qur’an adalah sesuatu yang ia cintai?”

Karena tujuan akhirnya bukan sekadar membuat anak bisa membaca Al-Qur’an, tetapi membentuk generasi yang hidup bersama Al-Qur’an dan menjadikannya petunjuk dalam kehidupannya.

Sumber:
Tarbiyah al-Aulad fi al-Islam, Abdullah Nashih ‘Ulwan.
Tuhfat al-Mawdud bi Ahkam al-Mawlud, Ibnu al-Qayyim.