Bagaimana Hukumnya Shalat Dan Kepada Siapa Diwajibkan?

Jawaban:

Shalat termasuk salah satu rukun Islam, bahkan shalat adalah rukun kedua setelah dua syahadat. Shalat merupakan salah satu amal anggota badan dan tiang agama, seperti yang dijelaskan dalam hadits Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam yang bersabda, “Tiangnya adalah shalat.”{Ditakhrij oleh Imam Ahmad, V,231, At-Tirmidzi, kitab Al-Iman, bab “Ma Ja’a fi Hurmati Ash-Shalah”, [2616], An-Nasai dalam Al-Kubra, kitab At-Tafsir, bab “Firman Allah Tatajaafa Junubuhum

Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”(An-Nisa’:103)

Makna kata ‘kitaban’ adalah ‘diwajibkan’ atau ‘difardhukan’.

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam berkata kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu ketika beliau mengutusnya ke Yaman:

“Ajarilah mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu setiap hari dan malam.”{Ditakhrij oleh al-Bukhori, kitab Az-Zakah, bab “Wujub Az-Zakah”, [1395], dan Muslim, kitab Al-Iman, bab “Ad-Du’z Ila Asy-Syahadatain wa Syara’I Al-Islam”.}

Kaum muslimin sepakat bahwa mengerjakan shalat hukumnya wajib, maka dari itu para ulama berkata, “Sesungguhnya menusia jika menentang kewajiban shalat lima waktu atau salah satu dari kewajiban shalat itu maka dia adalah kafir yang keluar dari Islam, halal darah dan hartanya kecuali jika dia bertaubat kepada Allah, kecuali orang yang baru masuk Islam dan belum mengetahui syariat Islam, maka dia dimaafkan karena kebodohannya, kemudian difahamkan, namun jika dia tetap menentang kewajiban itu setelah mengetahuinya maka dia adalah kafir.”

Shalat diwajibkan kepada setiap orang Islam yang telah baligh, berakal, baik laki-laki maupun perempuan.

Kebalikan dari orang Islam adalah kafir, maka orang kafir tidak wajib shalat, artinya dia tidak wajib mengerjakan shalat pada saat kekafirannya dan tidak wajib mengqadha’nya ketika dia masuk Islam, tetapi dia akan dihukum pada hari kiamat, seperti yang difirmankan Allah di dalam Al-Qur’an, “Kecuali golongan kanan, berada di dalam syurga, mereka tanya menanya ,tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasukorang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan.”(Al-Mudatstsir:39-46)

Perkataan mereka, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat” menunjukkan bahwa mereka disiksa karena meninggalkan shalat, kekafiran dan ketidakpercayaan mereka kepada hari kiamat.

Sedangkan orang yang telah baligh, yaitu orang yang telah memenuhi salah satu dari tanda-tanda kebalighan; yaitu tiga tanda bagi laki-laki dan empat tanda bagi perempuan:

1. Telah berusia lima belas tahun.

2. Merasakan enaknya keluar mani baik ketika dalam keadaan sadar ataupun tidur.

3. Keluarnya rambut di sekitar kemaluan. Ketiga hal itulah yang menandakan anak laki-laki dan perempuan telah akil baligh.

4. Telah mengalami haid (bagi perempuan)

Sedangkan orang yang berakal lawannya adalah orang gila yang tidak berakal. Di antara orang seperti ini ada yang sudah besar, baik laki-laki maupun perempuan, tetapi walaupun sudah besar secara fisik, dia tidak memiliki kecerdasan akal. Orang seperti ini biasa kita kenal dengan orang idiot, maka dia tidak wajib mengerjakan shalat karena dia tidak berakal.

Haid atau nifas adalah penggugur kewajiban shalat. Jika seorang wanita mendapati dirinya sedang haid atau nifas, maka gugurlah kewajiban shalatnya, karena Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda tentang wanita, “Bukankah jika wanita itu haid dia tidak wajib shalat dan puasa?”{Op.cit}

Sumber: Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm. 279