Apakah seseorang yang hanya mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh’ tanpa mengamalkan konsekuensi dan tuntutannya tetap akan masuk surga?

Pertanyaan:

Penanya bernama Ahmad Shalih mengatakan pada pertanyaan terakhirnya: “Apakah orang yang mengucapkan Lā ilāha illallāh tanpa melakukan amal apa pun akan masuk surga? Maksudnya, ia hanya mengucapkannya dengan lisannya. Sebab ada sebuah hadits yang maknanya menyebutkan: ‘Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku pasti akan mengeluarkan dari neraka setiap orang yang mengucapkan Lā ilāha illallāh.’ Wallāhu a’lam. Terima kasih banyak.”

Jawaban:

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Kalimat Lā ilāha illallāh adalah kalimat yang sangat agung. Seandainya langit dan bumi ditimbang dengan kalimat ini, niscaya kalimat tersebut lebih berat daripada keduanya.

Makna kalimat ini adalah: “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.”

Maka segala sesuatu yang disembah selain Allah adalah batil. Allah Ta’ala berfirman: “Yang demikian itu karena Allah, Dialah Yang Mahabenar, dan apa yang mereka sembah selain Dia adalah batil, dan sungguh Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Luqman: 30)

Ibadah tidak hanya terbatas pada rukuk atau sujud. Seseorang bisa saja menyembah selain Allah meskipun ia tidak rukuk dan sujud kepadanya, yaitu ketika ia lebih mencintainya daripada Allah, lebih mengagungkannya daripada Allah, atau perkataannya lebih ia utamakan daripada firman Allah.

Karena itu Nabi ﷺ bersabda: “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba pakaian mewah dan permadani. Jika diberi ia ridha, jika tidak diberi ia marah.”

Beliau menyebut mereka sebagai “hamba dinar” dan “hamba dirham”, padahal mereka tidak bersujud kepada dinar dan dirham. Akan tetapi, mereka lebih mengagungkan harta daripada menaati Allah.

Hal ini juga ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala: “Di antara manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Dengan demikian, kalimat Lā ilāha illallāh adalah kalimat yang mengandung pelepasan diri dari segala bentuk kesyirikan serta memurnikan ibadah hanya kepada Allah.

Apabila seseorang mengucapkannya dengan lisan dan hatinya, maka dialah yang benar-benar mengucapkannya.

Oleh sebab itu, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia mendapatkan syafaatmu?”

Beliau ﷺ menjawab: “Orang yang mengucapkan Lā ilāha illallāh dengan ikhlas dari hatinya.”

Dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan Lā ilāha illallāh dengan mengharap wajah Allah.”

Maka keikhlasan adalah syarat yang harus ada.

Adapun orang yang hanya mengucapkannya dengan lisannya, sementara hatinya tidak meyakini kandungannya, maka kalimat itu tidak bermanfaat baginya. Sebab orang-orang munafik juga berdzikir kepada Allah dan mengucapkan Lā ilāha illallāh. Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (QS. An-Nisa’: 142)

Mereka juga bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, sebagaimana firman Allah: “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar Rasul Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya, dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. Al-Munafiqun: 1)

Karena itu, persaksian Lā ilāha illallāh dan persaksian bahwa Muhammad adalah Rasulullah tidak memberi manfaat kepada mereka, sebab mereka tidak mengucapkannya dengan hati yang beriman dan penuh keikhlasan.

Maka, barang siapa mengucapkan kalimat tauhid tanpa keikhlasan, niscaya kalimat itu tidak akan bermanfaat baginya, bahkan tidak menambahnya di sisi Allah selain semakin jauh.

Kita memohon kepada Allah agar mengaruniakan kepada kita dan seluruh kaum muslimin keyakinan yang benar terhadap kalimat tauhid ini, serta kemampuan untuk mengamalkan konsekuensi dan tuntutannya.

Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/ar/voice_library/lessonDetails/