Makna Firman Allah: ﴾وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ﴿

Pertanyaan:

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ﴾
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah (syukurilah).” (QS. Adh-Dhuha: 11)

Apabila seseorang memiliki kemampuan untuk hidup berkecukupan, apakah ayat yang mulia ini berlaku baginya? Dan apakah makna firman Allah,

﴿وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ﴾

Jawaban:

Makna ayat ini adalah bahwa Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk menceritakan nikmat-nikmat Allah. Yakni, beliau bersyukur kepada Allah dengan ucapan sebagaimana beliau bersyukur dengan perbuatan.

Menceritakan nikmat Allah misalnya seorang muslim mengatakan, “Alhamdulillah, kami berada dalam keadaan baik. Kami memiliki banyak kebaikan dan banyak nikmat. Kami bersyukur kepada Allah atas semua itu.”

Ia tidak mengatakan, “Kami lemah, kami tidak memiliki apa-apa,” dan semisalnya. Akan tetapi, ia bersyukur kepada Allah, menyebut nikmat-nikmat-Nya, serta mengakui berbagai kebaikan yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Ia tidak berbicara seolah-olah hidup dalam kekurangan dengan mengatakan, “Kami tidak punya harta, tidak punya pakaian,” dan sebagainya. Sebaliknya, ia menyebut nikmat Allah dan bersyukur kepada Rabbnya ‘Azza wa Jalla.

Allah Subhanahu wa Ta’ala, apabila memberikan suatu nikmat kepada hamba-Nya, menyukai jika bekas nikmat tersebut tampak pada dirinya, baik pada pakaiannya, makanannya, maupun minumannya. Maka, janganlah ia berpenampilan seperti orang fakir padahal Allah telah memberinya harta dan melapangkan rezekinya. Hendaknya nikmat Allah tampak pada makanan, minuman, dan pakaiannya.

Namun, hal ini tidak boleh dipahami sebagai anjuran untuk berlebih-lebihan, bersikap melampaui batas, boros, atau menghambur-hamburkan harta.

Sumber: Diterjemahkan dari https://binbaz.org.sa/fatwas/639/