Zuhud adalah sifat mulia yang senantiasa menjadi ciri utama para ulama salaf. Mereka memandang dunia bukan sebagai tujuan, tetapi sebagai jalan menuju Allah. Sikap ini tidak berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, namun tidak menjadikan dunia sebagai penguasa hati.
Dalam Hilyatul Awliya’, Abu Nu’aim menggambarkan banyak kisah dan ucapan para salaf yang menunjukkan betapa kuatnya sikap zuhud mereka dalam menjaga hati dari tipu daya dunia.
Hakikat Zuhud Menurut Para Salaf
Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Zuhud adalah mengosongkan hati dari dunia, bukan mengharamkan yang halal.” (Hilyatul Awliya’)
Maknanya: seorang Muslim tetap makan, bekerja, dan memiliki harta, tetapi hatinya tidak tergantung pada itu semua.
Hasan al-Bashri berkata: “Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal, atau menyia-nyiakan harta. Zuhud adalah yakin sepenuhnya kepada apa yang ada di sisi Allah lebih daripada apa yang ada di tanganmu.” (Hilyatul Awliya’)
Contoh Zuhud Seorang Salaf
Dalam Hilyatul Awliya’, salah satu kisah yang disebutkan adalah tentang Sufyan ats-Tsauri, seorang ulama besar yang sangat wara’: “Tidak ada sesuatu yang lebih aku takutkan selain dari harta. Jika ia datang kepadaku, aku khawatir hatiku akan condong kepadanya.” (Hilyatul Awliya’)
Kekhawatirannya bukan karena harta itu haram, tetapi karena ia takut hatinya rusak.
Tanda-tanda Zuhud
Para ulama salaf menyebutkan tanda-tanda orang yang zuhud:
- Tidak mengagumi dunia yang ia miliki
Karena ia tahu dunia hanyalah titipan. - Tidak bersedih karena kehilangan
Karena hatinya tidak menggantungkan diri pada dunia. - Selalu merasa cukup (qana’ah)
Sebagaimana ucapan Ibrahim bin Adham: “Barang siapa tidak qana’ah, tidak akan tenang hidupnya.” (Hilyatul Awliya’)
Mengapa Zuhud Penting?
- Menenteramkan hati
Orang yang tidak digantungkan pada dunia akan hidup lebih damai. - Menjaga dari maksiat
Cinta dunia adalah awal dari berbagai dosa. - Mendekatkan kepada Allah
Karena hati yang ringan dari dunia lebih mudah beribadah.
Pelajaran untuk Kita Saat Ini
- Zuhud tidak berarti miskin, tetapi tidak diperbudak oleh harta.
- Tetap bekerja, namun jangan menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
- Jagalah hati dari iri, tamak, dan cinta harta berlebihan.
Penutup
Para salaf memberi contoh bahwa ketenangan hidup bukan datang dari berapa banyak yang kita miliki, tetapi dari seberapa jauh hati kita terkait dengan Allah dan tidak bergantung pada dunia.
Zuhud adalah kebersihan hati, bukan kemiskinan;
kekuatan jiwa, bukan pelemahan usaha.
Sumber: Hilyatul Awliya’ – Abu Nu’aim Al-Ashfahani