Bersungguh-sungguh dan Istiqamah dalam Menuntut Ilmu (Pelajaran dari Bab 4 Kitab Ta’limul Muta’allim)

Xr:d:dafsbq8slxa:363,j:1029475159730026738,t:23091204

Dalam bab sebelumnya, kita belajar tentang adab menghormati ilmu dan guru. Setelah murid menata adab, langkah berikutnya adalah bersungguh-sungguh (al-jidd) dan terus-menerus (al-muwāẓabah) dalam menuntut ilmu.
Imam Az-Zarnuji dalam Ta’limul Muta’allim menjelaskan bahwa ilmu tidak akan diraih oleh orang yang malas, plin-plan, atau setengah hati. Banyak orang punya niat belajar, tapi sedikit yang benar-benar istiqamah.

1. Mengapa Kesungguhan Itu Wajib bagi Penuntut Ilmu?
Imam Az-Zarnuji menegaskan bahwa kesungguhan adalah ruhnya thalabul ‘ilmi. Tanpa kesungguhan, seseorang hanya akan berpindah dari satu niat ke niat lain tanpa hasil yang jelas.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-‘Ankabūt: 69)
Ayat ini memberi isyarat, petunjuk Allah itu datang setelah adanya kesungguhan. Termasuk dalam hal menuntut ilmu: ketika seorang murid betul-betul bersungguh-sungguh, Allah bukakan baginya pemahaman, hafalan, dan keistiqamahan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Menempuh jalan ilmu di sini bukan sekadar “pernah ikut kajian”, tapi proses yang terus dijalani: datang, duduk, mendengar, mencatat, mengulang, dan mengamalkan.

2. Tanda Orang yang Bersungguh-sungguh dalam Menuntut Ilmu
Dalam penjelasan para ulama yang mensyarah Ta’limul Muta’allim, kesungguhan seorang penuntut ilmu bisa dilihat dari beberapa hal, di antaranya:

a. Menjaga Waktu Belajar
Penuntut ilmu yang sungguh-sungguh punya jadwal belajar yang jelas, bukan belajar kalau “kebetulan sempat”. Ia menempatkan ilmu sebagai prioritas, bukan sisa waktu.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku tidak pernah menyesali sesuatu sebagaimana penyesalanku terhadap satu hari yang mataharinya tenggelam, sementara amalku pada hari itu tidak bertambah.”
Penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh akan bertanya pada dirinya setiap hari:
“Hari ini, ilmu saya bertambah atau tidak?”

b. Tekun Mengulang, Bukan Sekadar Menghadiri Majelis
Imam Az-Zarnuji menyinggung pentingnya muraja’ah (mengulang pelajaran). Beliau memberi isyarat bahwa ilmu itu “liar” seperti hewan buruan: kalau tidak diikat dengan pengulangan dan catatan, ia akan lepas begitu saja.
Diriwayatkan, Az-Zuhrī rahimahullah berkata: “Barang siapa yang tidak menjadikan ilmu sebagai pengulangan, maka ilmu itu akan hilang darinya.”

Artinya, hadir di kajian saja tidak cukup. Kesungguhan ditunjukkan dengan membuka kembali catatan, mengulang pelajaran, dan bertanya bila ada yang belum paham.

c. Rela Bersabar Mengalahkan Rasa Malas dan Kantuk
Penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh tidak menunggu mood. Justru ia melawan rasa malas dan kantuk.
Rasulullah ﷺ berlindung dari sifat malas: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa malas adalah musibah yang perlu dimintakan perlindungan kepada Allah. Penuntut ilmu harus sadar, ketika rasa malas datang, itu bukan sekadar “perasaan”, tapi bisa menjadi penghalang antara dia dan petunjuk Allah.

3. Pentingnya Kontinuitas: Sedikit tapi Rutin
Salah satu pelajaran penting dalam bab ini adalah lebih baik sedikit tapi terus-menerus (istiqamah), daripada banyak namun putus di tengah jalan.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling kontinu (rutin), meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini bisa diterapkan dalam menuntut ilmu:

  • Lebih baik baca satu atau dua halaman kitab setiap hari, daripada baca setebal-tebalnya tapi cuma sebulan sekali.
  • Lebih baik hafal 1 ayat per hari, daripada hafal satu halaman lalu berhenti total.

Imam Az-Zarnuji mendorong murid untuk punya wirid ilmu: kegiatan rutin yang terus dikerjakan setiap hari, seperti:

  • Membaca sekian lembar kitab,
  • Menghafal beberapa baris matan,
  • Mengulang pelajaran yang lalu,
  • Membaca ulang catatan (ringkasan) pelajaran.

4. Menghindari Penghalang Kesungguhan
Dalam Ta’limul Muta’allim, dijelaskan bahwa ada hal-hal yang bisa menghalangi murid dari kesungguhan, di antaranya:

a. Terlalu Banyak Bersibuk dengan Dunia
Bekerja, berusaha, dan mengurus dunia itu perlu. Tapi jika semua itu menghabiskan energi hingga tidak ada sisa untuk ilmu, maka sedikit demi sedikit semangat ilmu akan padam.
Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah…” (QS. Al-Munāfiqūn: 9)
Ilmu syar’i adalah bagian dari dzikrullah. Jika harta, pekerjaan, dan kesibukan membuat seseorang jauh dari ilmu, maka itu tanda bahaya.

b. Berteman dengan Orang yang Tidak Serius
Lingkungan sangat memengaruhi semangat. Teman yang hobinya menghabiskan waktu untuk hal sia-sia, akan menarik penuntut ilmu ke arah yang sama.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Seseorang itu tergantung agama (kebiasaan) teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Penuntut ilmu yang serius akan mencari teman yang:

  • Suka mengingatkan waktu kajian,
  • Mengajak muraja’ah bersama,
  • Senang berdiskusi tentang ilmu, bukan sekadar gossip atau hal sia-sia.

5. Cara Praktis Melatih Kesungguhan dan Istiqamah

Agar pelajaran dari bab ini tidak hanya jadi teori, berikut beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan penuntut ilmu:

  1. Tetapkan Niat Ulang Setiap Hari
    Sebelum mulai belajar, biasakan membaca doa: “Allāhumma innī as’aluka ‘ilman nāfi’an, wa rizqan ṭayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan.” “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.”
    Ini mengingatkan bahwa belajar bukan sekadar ‘tugas’, tapi ibadah.
  2. Buat Target Kecil tapi Jelas
    Contoh:
    • Setiap hari membaca minimal 2 halaman kitab,
    • Setiap pekan menghafal 4–6 baris matan,
    • Setiap selesai kajian, menulis 1–3 poin penting yang dipahami.
    Target yang terlalu besar biasanya sulit dijaga. Mulailah dari yang kecil tapi konsisten.
  3. Siapkan Waktu Khusus Belajar
    Pilih waktu ketika hati sedang paling tenang, misalnya:
    • Setelah Subuh,
    • Atau malam setelah Isya.
    Imam Az-Zarnuji menjelaskan bahwa waktu-waktu tertentu lebih berkah untuk belajar, di antaranya waktu pagi. Karena itu, banyak ulama memulai pelajaran sejak habis Subuh.
  4. Kurangi Hal-hal yang Mengganggu Fokus
    Seperti:
    • Terlalu lama bermain media sosial,
    • Menunda-nunda dengan alasan “sebentar lagi”,
    • Menggabungkan terlalu banyak aktivitas dalam satu waktu.
    Jika serius ingin memperbaiki kualitas ilmu, maka harus ada yang dikorbankan dari kebiasaan sia-sia.

Penutup: Seriuslah, Karena Ilmu Itu Mahal

Pelajaran dari Bab 4 Ta’limul Muta’allim mengajarkan bahwa:

  • Ilmu adalah karunia besar yang tidak akan diberikan kepada orang yang malas.
  • Kesungguhan (jidd) dan kontinuitas (muwāẓabah) adalah kunci utama keberhasilan penuntut ilmu.
  • Menuntut ilmu bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling sabar dan paling istiqamah.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang:

  • Bersungguh-sungguh di jalan ilmu,
  • Menjaga waktu dan kesempatan dengan baik,
  • Dan dimudahkan untuk terus istiqamah sampai akhir hayat.

Sumber:  Az-Zarnuji, Ta’limul Muta’allim Thariq at-Ta’allum, Dar al-Fikr, Beirut.