Ilmu adalah cahaya, tapi tidak setiap cahaya membawa terang.
Ibn al-Jawzi menulis dengan nada sedih tentang orang berilmu yang tidak mengambil manfaat dari ilmunya sendiri.
Baginya, ilmu tanpa takwa adalah bencana bagi hati dan fitnah bagi umat.
Isi Renungan Ibn Al-Jawzi
“Aku melihat banyak orang menuntut ilmu bukan untuk mengamalkannya, melainkan untuk mendapatkan kemuliaan dan penghormatan. Padahal ilmu yang tidak diamalkan justru menjadi saksi atas kebinasaan mereka.” (Ṣaid al-Khāṭir, hal. 312)
Beliau menegaskan bahwa ilmu sejati adalah yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Bukan yang sekadar menambah hafalan, tetapi yang menambah kekhusu’an dalam ibadah.
Ibn Al-Jawzi mengibaratkan orang yang berilmu tapi tidak bertakwa seperti: “Lilin yang menerangi orang lain, tapi dirinya sendiri terbakar.” (Ṣaid al-Khāṭir, hal. 313)
Dalam pandangan beliau, ilmu yang tidak disertai amal akan menjadi beban berat di akhirat.
Karena seseorang akan ditanya bukan hanya apa yang ia tahu, tapi juga apa yang ia lakukan dari pengetahuannya.
Refleksi untuk Pembaca
Menuntut ilmu adalah ibadah besar, namun godaannya pun besar — ingin dikenal, ingin dianggap alim, ingin dihormati. Padahal, ilmu yang tidak membawa perubahan hati hanyalah kumpulan kata tanpa makna.
Tanda ilmu yang bermanfaat adalah:
- Membuat seseorang semakin rendah hati,
- Menjauhkannya dari maksiat,
- Menambah rasa takut kepada Allah.
Jika ilmu menjauhkan dari Allah, maka itu bukan cahaya — tapi hijab.
Penutup
Ibn al-Jawzi menulis dengan peringatan yang mengguncang hati: “Aku berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, karena ia hanya menambah hujjah atas keburukanku.” (Ṣaid al-Khāṭir, hal. 314)
Ilmu yang sejati bukan diucapkan di lisan, tapi dirasakan di hati. Ia tidak menjadikan seseorang tinggi di mata manusia, tetapi rendah hati di hadapan Allah.
Sumber: Ibn Al-Jawzi, Ṣaid Al-Khāṭir, Dār Al-Ma‘rifah, Beirut, hal. 312–314.