Kita sering berdoa meminta rezeki, keselamatan, dan kemudahan hidup.
Namun tanpa sadar, dua nikmat terbesar yang sudah kita miliki justru paling sering diabaikan: sehat dan waktu luang.
Ibn Al-Jawzi menulis renungan tajam tentang bagaimana manusia menganggap remeh dua nikmat ini — sampai keduanya pergi.
Isi Renungan Ibn Al-Jawzi
“Aku memperhatikan nikmat sehat dan waktu luang, keduanya sering disia-siakan.
Bila hilang, baru manusia menyesal.” (Ṣaid al-Khāṭir, hal. 144)
Menurut Ibn Al-Jawzi, manusia tidak menyadari nilai waktu dan kesehatan sampai kehilangan keduanya.
Ia menjelaskan bahwa sehat dan waktu luang adalah ladang amal yang sangat luas, tapi banyak orang menggunakannya untuk hal-hal yang tidak berguna.
Beliau menulis: “Setiap hari yang berlalu tanpa amal adalah bagian dari umur yang sia-sia.
Sehat itu seperti modal besar, tapi banyak orang tidak tahu bagaimana mengelolanya.”
Dalam pandangan beliau, penyesalan terbesar manusia di akhir hayat bukanlah karena kekurangan harta, tapi karena menyia-nyiakan waktu.
Refleksi untuk Pembaca
Kesehatan dan waktu adalah dua hal yang tampak biasa,
tapi justru keduanya menentukan nilai hidup seorang mukmin.
Betapa banyak orang berkata, “Andai aku sempat, aku akan beribadah lebih banyak,” padahal waktu sempat itu dulu pernah ada — hanya tidak dimanfaatkan.
Mulailah menghargai waktu dengan amal kecil: dzikir, membaca Al-Qur’an, menolong sesama.
Dan syukuri kesehatan dengan menjaganya agar bisa terus beribadah.
Penutup
Ibn Al-Jawzi mengakhiri nasihatnya dengan peringatan halus:
“Hati-hatilah dengan sehat dan waktu luang, sebab keduanya adalah dua tamu yang akan pergi tanpa kembali.”
Jangan tunggu sakit baru ingin beramal, jangan tunggu sibuk baru menyesal. Karena waktu yang digunakan untuk mengingat Allah tidak pernah sia-sia.
Sumber: Ibn Al-Jawzi, Ṣaid Al-Khāṭir, Dār Al-Ma‘rifah, Beirut, hal. 144.