Kaidah dan ketentuan dalam hiburan dan permainan

Pngtree set of multimedia and entertainment doodle element vector illustration in cute png image 5317955

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Wahai hamba-hamba Allah, negeri akhirat itulah kehidupan yang sesungguhnya — seandainya manusia mengetahui. Adapun dunia hanyalah permainan dan kesenangan yang melalaikan, sesuatu yang tidak bermanfaat. Sebagian besar manusia tenggelam dalam kesia-siaan, permainan, dan tipu daya dunia. Mereka menghabiskan waktu hanya untuk bersenang-senang, seolah dunia ini hanyalah mimpi yang berlalu cepat. Dunia hanyalah seperti mimpi orang tidur — apa guna hidup yang tidak kekal?

Inilah dunia yang membuat manusia terlena dan sombong. Nabi ﷺ bersabda, “Ketahuilah, dunia itu terlaknat, dan terlaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah dan apa yang mendukungnya, serta orang alim dan penuntut ilmu.” Maka segala sesuatu di dunia tercela, kecuali yang mendatangkan ingat kepada Allah dan membantu untuk itu.

Karena itu, orang-orang cerdas memahami nilai dunia: mereka menjadikannya ladang untuk akhirat. Maka mencela dunia secara mutlak adalah keliru. Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه pernah menegur seseorang yang mencela dunia, “Dunia adalah tempat yang jujur bagi siapa yang jujur padanya, tempat keselamatan bagi siapa yang memahaminya, dan tempat kekayaan bagi siapa yang mengambil bekal darinya.”

Allah berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling bermegah dan berlomba dalam harta dan anak-anak.” (QS. Al-Hadid: 20).

Dunia ini seperti permainan anak-anak, hiburan para pemuda, perhiasan wanita, kebanggaan antarsaudara, dan perlombaan para penguasa — semuanya cepat berlalu.

Namun banyak manusia berkata, “Kami punya waktu luang, kami bosan.” Padahal Allah berfirman, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Para salaf tidak mengenal istilah waktu luang — waktu mereka dipenuhi zikir dan amal. Mu’adz bin Jabal berkata kepada Abu Musa, “Aku tidur dan aku bangun malam, aku berharap pahala dari tidurku sebagaimana aku berharap pahala dari bangunku.”

Mereka menjadikan amal saleh sebagai kapal di samudra dunia yang bergelombang oleh syahwat dan perhiasan, untuk berlayar menuju pantai akhirat dengan selamat. Allah berfirman, “Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162).

Maka seorang muslim tidak mengenal kata lalai. Diriwayatkan bahwa hakim Syuraih melihat orang-orang bermain dan berkata, “Apa yang kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Kami sedang bersantai.” Ia berkata, “Orang yang beriman tidak diperintah untuk bersantai.”

Pada masa kini, hiburan dan permainan telah berubah bentuk — ada banyak jenis “rekreasi” baru yang tidak dikenal oleh para salaf. Kemajuan teknologi membuat manusia memiliki lebih banyak waktu luang, tapi ke mana waktu itu pergi?

Setelah Perang Dunia II, di Barat muncul ilmu baru bernama Sosiologi Waktu Luang karena banyaknya waktu kosong akibat kemajuan industri. Lalu waktu itu diisi dengan hiburan, hingga lahirlah industri raksasa bernilai miliaran dolar.

Apakah hiburan itu tercela? Tidak semuanya. Nabi ﷺ bersabda kepada Hanzhalah, “Wahai Hanzhalah, sesungguhnya jika kalian terus dalam keadaan seperti di sisiku dan terus berzikir, niscaya malaikat akan menyalami kalian di jalan-jalan dan di tempat tidur kalian. Tetapi, wahai Hanzhalah, sesaat begini dan sesaat begitu.” Maksudnya bukan sesaat taat dan sesaat maksiat, melainkan sesaat untuk ibadah dan sesaat untuk istirahat yang halal.

Manusia diberi sifat pertengahan — tidak seperti malaikat yang selalu taat, dan tidak seperti setan yang selalu durhaka. Maka jam pertama digunakan untuk beribadah, jam kedua untuk memenuhi hak tubuh dan keluarga dalam hal-hal yang mubah. Nabi ﷺ biasa bermain dengan cucu-cucunya, berlomba dengan istrinya, dan bercanda dengan sahabatnya tanpa keluar dari kebenaran.

Aisyah رضي الله عنها pernah berkata bahwa beliau menonton orang Habasyah bermain tombak di masjid sementara Rasulullah ﷺ menutupi beliau dengan kainnya. Canda itu mubah selama tidak berlebihan. Tetapi menjadikan hiburan sebagai kebiasaan terus-menerus adalah kesalahan besar.

Zaman ini, hiburan telah menjadi industri yang menghabiskan miliaran dolar, sementara jutaan manusia kelaparan. Gaji pemain hiburan bisa mencapai 50 juta dolar, sementara ilmuwan dan dokter tidak sampai 1% dari itu. Dunia benar-benar berubah arah: waktu dan harta terbuang untuk hiburan semata.

Allah berfirman: “Katakanlah: Kesenangan dunia hanyalah sedikit, dan akhirat lebih baik bagi orang yang bertakwa.” (QS. An-Nisa: 77).

Maka hiburan dibolehkan hanya jika tidak mengandung hal-hal berikut:

  • Syirik, sihir, ramalan, atau perdukunan.
  • Melalaikan dari zikir dan salat.
  • Mengandung musik haram, gambar makhluk bernyawa, atau pornografi.
  • Mengandung perjudian, taruhan, atau unsur haram lainnya.
  • Menimbulkan ikhtilat (percampuran laki-laki dan perempuan tanpa batas).
  • Menjadikan hati terpaut dan lalai dari akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap permainan seorang muslim adalah sia-sia, kecuali melempar panah, melatih kudanya, dan bermain dengan keluarganya.” (HR. Tirmidzi).

Ali bin Abi Thalib berkata, “Istirahatkan hati kalian sesekali, karena bila dipaksa terus, ia akan buta.”

Para sahabat Nabi ﷺ juga pernah bercanda dengan semangka, namun bila berbicara tentang agama, mereka serius seperti singa. Mereka tahu bagaimana menyeimbangkan antara keseriusan dan hiburan yang mubah.

Akhirnya, wahai hamba Allah, ketahuilah bahwa waktu adalah nikmat besar. Dunia hanyalah tempat singgah, bukan tujuan. Maka gunakanlah waktu luang untuk zikir, ilmu, amal saleh, dan ketaatan — bukan untuk kelalaian dan dosa.

Semoga Allah membantu kita untuk selalu mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan beribadah dengan baik.

Wallahu A’lam

Sumber: Diterjemahkan dan diringkas dari https://almunajjid.com/speeches/lessons/141