Saat Hati Terlalu Sibuk dengan Dunia

Kesibukan dunia sering kali membuat hati kita lelah tanpa arah. Kita berlari mengejar waktu, pekerjaan, dan pencapaian, tapi lupa bertanya: apakah semua itu mendekatkan kita kepada Allah, atau justru menjauhkan?
Ibn al-Jawzi, seorang ulama besar abad ke-6 Hijriah, menuliskan renungan yang sangat dalam tentang hal ini dalam kitab terkenalnya, Ṣaid Al-Khāṭir.

Isi Renungan Ibn al-Jawzi
“Aku memperhatikan manusia, dan kulihat kebanyakan mereka sibuk dengan sesuatu yang fana. Mereka seakan tidak sadar bahwa waktu terus berjalan dan ajal semakin dekat. Maka aku bertekad untuk menjadikan waktuku berharga — setiap nafasku untuk ilmu, amal, atau renungan.” (Ṣaid Al-Khāṭir, hal. 37–38)

Dalam catatan ini, Ibn Al-Jawzi mengajak kita merenung tentang nilai waktu dan arah hidup.
Beliau melihat bahwa kebanyakan manusia menyia-nyiakan usia untuk mengejar dunia, padahal dunia hanyalah persinggahan sementara.

Menurutnya, manusia yang bijak adalah mereka yang menghitung waktu seperti menghitung harta: tidak ingin hilang sia-sia. Setiap detik harus memiliki makna — entah dengan ibadah, belajar, atau berbuat baik.
Beliau juga menulis di bagian lain:
“Betapa banyak waktu hilang karena kelalaian. Aku sadar bahwa kerugian terbesar adalah saat-saat yang terbuang tanpa amal.”

Pesan ini terasa sangat relevan di era sekarang. Kita mudah sibuk oleh hal-hal kecil: notifikasi, urusan pekerjaan, hiburan, hingga lupa menyisakan waktu untuk Allah.

Refleksi untuk Pembaca
Waktu tidak menunggu siapa pun.
Kita bisa kehilangan satu hari, satu minggu, bahkan satu tahun tanpa sadar — bukan karena maksiat besar, tapi karena kelalaian kecil yang terus menumpuk.

Ibn Al-Jawzi mengajarkan bahwa setiap hari adalah peluang baru untuk memperbaiki arah.
Jika hari ini belum diisi dengan amal saleh, maka masih ada waktu untuk memulai — selama napas masih berhembus.

Renungkanlah:
Apakah aku hari ini lebih dekat kepada Allah dibanding kemarin?
Ataukah justru lebih sibuk dengan dunia yang fana?

Penutup
Kesibukan bukan dosa, tapi kesibukan tanpa arah adalah kerugian.
Jadikan dunia sebagai jalan menuju Allah, bukan tujuan yang menenggelamkan.
Karena pada akhirnya, seperti kata Ibn al-Jawzi,
“Waktu adalah modal terbesar manusia — dan yang paling banyak merugi adalah mereka yang tidak menyadarinya.”

Sumber: Ibn Al-Jawzi, Ṣaid Al-Khāṭir, Dār Al-Ma‘rifah, Beirut