Larangan Berkhalwat dengan Wanita Lain Mahram

Dari Sa’id bin Al-Musayyab dia berkata, “Tidaklah Allah mengutus
seorang nabi, melainkan dia tidak merasa aman dari gangguan Iblis, yang
merusaknya melalui perantara seorang wanita.”
Dari Fudhail bin lyadh, dia berkata, “Sebagian syaikh kami
memberitahukan bahwa Iblis yang dilaknat Allah mendatangi Musa saat
beliau sedang bermunajat kepada Allah. Seorang malaikat berkata kepada
Iblis, “Celaka kamu, apa yang kamu harapkan dari Musa selagi dia sedang
bermunajat kepada Rabbnya?”

Iblis menjawab, “Aku mengharapkan darinya seperti yang kuharapkan dan bapaknya, Adam, saat dia berada di surga.”

Dari Abdurrahman bin Ziyad, dia berkata, “Tatkala Musa sedang duduk di majlisnya, tiba-tiba muncul Iblis sambil mengenakan mahkota yang dicat warna-warni. Ketika sudah dekat, Iblis melepas mahkotanya dan meletakkannya. Dia mendekat ke arah Musa dan berkata, ”Assalamu ‘alaika wahai Musa.”

“Siapa engkau ini?” tanya Musa.

“Aku Iblis,” jawab Iblis.

“Kalau begitu Allah tidak mau menerima kedatanganmu. Apa maksud kedatanganmu?”

‘Aku datang untuk menyerah kepadamu, mengingat kedudukanmu di sisi Allah dan kehormatanmu di mata-Nya,” jawab Iblis.

“Apa yang engkau lihat pada dirimu?” tanya Musa.

“Aku akan menyambar hati anak keturunan Adam,” jawab Iblis.

“Apa yang dilakukan manusia ketika engkau mengalahkannya?” tanya

Musa.

“Saat dia merasa takjub terhadap dirinya sendiri, menganggap amalnya banyak dan lupa dosa-dosanya. Kuperingatkan kepadamu tentang tiga perkara; Pertama, janganlah sekali-kali engkau berkhalwat dengan wanita yang tidak halal bagimu, karena selagi seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita yang tidak halal baginya, maka aku menjadi rekannya satu-satunya, hingga aku membujuknya untuk berhubungan dengan wanita itu. Kedua, janganlah engkau berjanji kepada Allah melainkan engkau harus memenuhi janji itu.

Sebab setiap kali seseorang berjanji kepada Allah, maka aku menjadi rekannya satu-satunya, hingga aku menjadi penghalang antara dirinya dan janjinya.

Ketiga, sekali-kali janganlah berniat mengeluarkan shadaqah melainkan engkau harus langsung mengeluarkannya. Sebab setiap kali seseorang berniat mengeluarkan shadaqah dan dia tidak segera mengeluarkannya, maka aku menjadi rekannya satu-satunya, hingga aku menjadi penghalang antara dirinya dan kehendak untuk bershadaqah.”

Setelah itu Iblis berbalik sambil berkata tiga kali, “Benar-benar celaka!”

Karena dengan begitu Musa dan anak keturunan Adam tahu apa yang harus diwaspadai.

Dan Hasan bin Shalih, dia berkata, “Aku pernah mendengar setan berkata kepada wanita, “Engkau adalah separoh pasukanku, engkau adalah anak panah yang kuluncurkan dan aku tidak pernah salah sasaran. Engkau adalah penyimpan rahasiaku dan engkau adalah utusanku jika aku membutuhkan.”

Ibnu Mu’aqqal berkata, “Aku pernah mendengar Wahb bin Munabbih berkata, “Seorang rahib bertanya kepada setan yang muncul di hadapannya, “Sifat anak keturunan Adam macam apakah yang paling mudah membantumu?” Iblis menjawab, “Marah. Sebab jika seseorang marah, maka kami bisa membolak-baliknya sebagaimana anak kecil yang membolak-balik bola.”

Dari Tsabit, dia berkata, “Tatkala Nabi diutus Allah sebagai rasul, maka Iblis mengirim setan-setan untuk menemui para sahabat beliau. Setan-setan itu datang sambil membawa lembaran catatan yang masih kosong. Lalu Iblis bertanya kepada setan-setan itu, “Mengapa kalian tidak mengganggu mereka?”

Mereka menjawab, “Kami tidak pernah berhadapan dengan suatu kaum seperti halnya mereka.” Tetapi mereka berkata lagi, “Tetapi sebentar. Siapa tahu dunia dibukakan kepada mereka, sehingga kita bisa mengganggu mereka.”

Dari Abu Musa, dia berkata, iblis menyebarkan para prajuritnya ke bumi, maka dia berkata, ‘Siapa yang bisa menyesatkan orang Muslim, maka di kepalanya akan disematkan mahkota.”

Di antara prajurimya itu ada yang melaporkan hasil usahanya, “Aku bisa mengganggu Fulan sehingga dia menceraikan istrinya.”

Dijawab, “Toh dia bisa menikah lagi.”

Yang lain melapor, ‘Aku dapat mengganggu Fulan sehingga dia durhaka.’

Dijawab, “Toh dia bisa berbuat kebajikan lagi.”

Yang lain melapor, “Aku dapat mengganggu Fulan sehingga dia berzina.

Dijawab, “Bagus.”

Yang lain melapor, “Aku dapat mengganggu Fulan sehingga dia minum khamr.’

Dijawab, “Bagus.

Yang lain melapor, “Aku dapat mengganggu Fulan sehingga dia membunuh.

Dijawab, “Bagus, bagus.”

Sumber: Talbis Iblis, Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Pustaka Al Kautsar, h. 53 – 56