Larangan Memakai Cincin dari Besi Murni

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwasanya Nabi saw. pernah melihat sebagian sahabat memakai cincin emas, lalu beliau berpaling dari mereka. Maka para sahabat membuang cincin itu dan menggantikannya dengan cincin dari besi. Lantas Rasulullah saw. bersabda, “Cincin itu lebih jelek dan merupakan perhiasan penghuni neraka,” (Shahih lighairihi, HR Bukhari dalam Adabul Mufrad [1041]).

Lalu mereka membuang cincin tersebut dan memakai cincin dari perak sementara Rasulullah saw. tidak memberikan komentarnya.

Kandungan Bab:

  1. Haram hukumnya memakai cincin dari besi karena beliau mengatakan cincin besi lebih jelek daripada cincin emas. Diantara yang berpendapat haramnya cincin besi adalah Umar bin Khattab r.a. Ia pernah melihat seseorang memakai cincin emas dan memerintahkan orang itu untuk membuangnya. Kemudian orang itu berkata, “Ya amirul mukminin, yang aku pakai ini cincin besi.” Lalu umar berkata, “Cincin besi lebih busuk, lebih busuk,” (Shahih, HR Abdurrazaq [19473]).

    Termasuk yang berpendapat haramnya cincin besi adalah Imam Malik. Ibnu Wahb berkata, “Malik bin Anas berkata kepadaku tentang cincin besi dan tembaga, ‘Aku masih mendengar bahwa cincin besi itu dibenci. Adapun selain itu tidak’,” (lihat al-Jami‘ [601], karya Ibnu Wahb).

    Demikian juga Imam Ahmad, Ishaq bin Rohawaih sebagaimana yang tertera dalam kitab Masa’il al-Marwazi (424).

    Ishaq bin Manshur al-Marwazi bertanya kepada Imam Ahmad, “Apakah cincin emas dan besi itu dibenci?” Dia menjawab, “Benar, demi Allah.” Ishaq juga berkata sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad.

    Maksud para Imam dari kata dibenci adalah diharamkan. Allahu a’lam.

  2. Apa yang tertera dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Shal bin Sa’id tentang kisah wanita yang menghibahkan dirinya dan nabi saw. bersabda kepada seorang laki-laki yang ingin meminang wanita tersebut tetapi tidak memiliki mahar, “Cari apa saja yang dapat dijadikan mahar walaupun sebentuk cincin besi.” Bukan berari pembolehan memakai cincin besi, sebagaimana yang dikatakan al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (X/323), “Adapun berdalilkan dengan hadits ini untuk membolehkan memakai cincin besi merupakan pendalilan yang keliru. Sebab dibolehkannya mengambil cincin besi menjadi mahar tidak berarti dibolehkan memakainya. Kemungkinan beliau bermaksud dengan adanya cincin besi tersebut si wanita dapat memanfaatkan hasil penjualan cincin itu.”

    Saya katakan, “Ini merupakan bukti diharamkannya bagi kaum laki-laki memakai cincin emas namun dibolehkan memanfaatkan hasil penjualannya sebagaimana yang telah disinggung.”

  3. Adapun hadits Mu’aqib r.a, bahwa ia berkata, “Cincin Nabi saw. terbuat dari besi yang dibalut dari perak.” Ia juga berkata, “Terkadang cincin tersebut ada di tanganku.” Ibnu Harits berkata, “Waktu itu Mua’qib adalah orang yang dipercaya memegang cincin beliau.” tidak bertentangan dengan hadits bab. Sebab pengharaman tersebut jika cincin ini terbuat dari besi murni (bukan campuran).

    Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Baari (X/232), “Jika hadits ini shahih maka hadits yang menunjukkan larangan diartikan jika cincin tersebut terbuat dari besi murni.”

    Hadits Abu Sa’id al-Khudri dengan sanad yang marfu’, “Cincin apa yang harus aku pakai.” Beliau menjawab, “Cincin besi atau perak.” adalah hadits dhaif. Didhaifkan oleh al-Hafidz Ibnu Rajab dan syaikh kami.

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 3/257-259.