Kenapa Kita Riya’?

Bahaya Penyakit Riya Pptx 1 320

Hawa nafsu pasti berusaha memuaskan syahwat dan merengkuh kenikmatan. Kenikmatan tertinggi bagi syahwat adalah kemenangan, penghormatan, keterhindaran dari hal yang menyakiti, dan perolehan segala sesuatu yang menyenangkannya.

Hawa nafsu menyadari bahwa semua manusia entah orang baik, pemaksiat, ataupun raja selaku sosok paling agung di mata manusia pasti menghormati, memuji, dan mendekati orang saleh dengan berbagai cara. Mereka bahkan rela mengorbankan harta dan jiwa demi mengabdi kepadanya. Menyadari hal ini, hawa nafsu menggerakkan seseorang supaya pura-pura menaati Allah Swt. agar dicintai, dihormati, dan didekati orang-orang dengan berbagai cara. Dengan kata lain, supaya perkataannya didengar, perintahnya dipatuhi, kesalahannya dimaafkan, tidak dimusuhi, dan tidak disakiti.

Jadi, ada tiga faktor penyebab ria:

  1. Ingin dihormati dan dikagumi. Inilah penyebab utama yang melahirkan dua penyebab berikutnya.
  2. Ingin meraup keuntungan dan harta dari tangan orang lain.
  3. Menghindari bahaya.

Ada orang yang hanya ingin dihormati dan dikagumi. Ia tidak menerima, bahkan tidak memedulikan materi yang diberikan kepadanya. Ia sadar bahwa dirinya akan dihormati bila berpaling dari materi. Ia juga tidak meminta bantuan siapa pun dalam menepis bahaya, agar ia dianggap hanya membutuhkan Tuhan dan tidak memerlukan bantuan manusia.

Ada yang bersikap ria karena menginginkan materi walaupun hanya sedikit. Ada juga yang ingin terhindar dari bahaya. [Kedua] keinginan ini pasti disertai pula keinginan dihormati dan dikagumi. Adakalanya juga ria termotivasi oleh ketiga faktor sekaligus.

Imam al-Ghazali menjelaskan akibat ria dalam bait-bait indahnya:

Wahai pendamba pujian dan hadiah

atas perbuatan yang dilakukan sia-sia

Allah menolak usaha dan upaya

yang disertai perasaan ria

Orang yang ingin berjumpa Tuhan pasti takut dan ikhlas dalam beramal

Surga dan neraka ada di kedua tangan Cermatilah agar kau berpayah-payah

Manusia tidaklah punya apa-apa

Mengapa engkau melihat dengan gelap mata?

(Lihat Imam al-Ghazali, Minhaj al-‘Abidin ila Jannah Rabb al- ‘Alamin, h. 295)

Sumber: Belajar Ikhlas, Al Harits Al Muhasibi, Zaman, h. 77-81