Cara Membina Diri Sendiri

Barangsiapa yang mengetahu bahwa dirinya masih jauh dari kesempurnaan dan masih penuh dengan kekuarangan, maka sejatinya ia telah melangkah untuk membina dirinya sendiri. Kesadaran ini lah yang akan mendorong seseorang untuk membina dan memperbaiki dirinya. Di antara taufik yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah bersegera untuk merubah dan memperbaiki diri. Allah berfirman,

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’du: 11)

Percayalah, barangsiapa yang berubah karena Allah, pasti Allah membantu dirinya untuk merubah dirinya menjadi lebih baik.

Manusia diberikan tanggung jawab atas dirinya sendiri secara individu, dan ia akan ditanya dan dihisab oleh Allah secara individu sebagaimana firman Allah

إنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَانِ عَبْدًا لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا

“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada (Allah) Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba.  Dia (Allah) benar-benar telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari Kiamat.” (Maryam: 93-95)

Walaupun seseorang melihat sebuah kebaikan, belum tentu ia bisa mengambilnya jika tidak ada dorongan dari dalam dirinya sendiri. Lihatlah kisah istri nabi Luth dan Nuh, keduanya tinggal satu atap dengan utusan Allah. Lihatlah bagaimana suami mereka berdua bekerja begitu keras untuk mendakwahkan kebenaran kepada mereka. Mereka berdua telah melihat kebenaran, dan mendapat kesempatan yang begitu besar untuk meraihnya. Namun, selagi keduanya tidak mendorong diri mereka sendiri untuk meraih kebenaran, maka mereka tidak mendapatkan dirinya berubah menjadi lebih baik. Pada akhirnya, Allah memasukkan mereka ke dalam neraka. Allah berfirman,

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِيْنَ

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (At-Tahrim: 10)

Bandingkanlah keadaan mereka berdua dengan istri Fir’aun, ia tinggal satu atap dengan salah satu pendosa paling besar yang mengklaim atas dirinya sendiri bahwa dirinya adalah tuhan. Namun istri Fir’aun dijadikan sebagai teladan bagi orang-orang beriman karena pada dirinya terdapat pembinaan diri sendiri. Maka marilah kita membina diri kita untuk bisa menerima kebenaran yang telah dibawa oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Di bawah ini adalah wasilah yang bisa menghantarkan kita untuk membina diri.

  1. Melanggengkan peribadatan kepada Allah ta’ala dan senantiasa tunduk dan patuh kepada-Nya. Yaitu dengan melaksanakan kewajiban seraya membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain-Nya.
  2. Memperbanyak membaca Al-qur’an, mentadaburinya dan menyelami rahasia-rahasia di dalamnya.
  3. Membaca buku-buku yang berisi nasehat yang akan bermanfaat untuk mengobati hati, seperti kitab “Tahzib Madarijus salikin” dan kitab “Mukhtasor Minhajul Qasidin.”
  4. Hadirilah majelis ilmu, karena majelis ilmu adalah taman surga yang disediakan di dunia. Maka barangsiapa yang hadir di dalamnya, maka ia akan dididik untuk menjadi penghuninya. diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

 إذا مررتم برياضِ الجنةِ فارتعوا، قيل : يا رسولَ اللهِ وما هي رياضُ الجنةِ؟ قال : حلَقُ الذكرِ

 “Jika kalian melewati taman-taman Surga, nikmatilah”, para sahabat bertanya: “Apa yang dimaksud taman-taman Surga?”, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda: “Yaitu majlis-majlis dzikir (majlis yang digunakan untuk mendalami agama Allah).” (Hadits riwayat At-Tirmidzi 350 dan Ahmad 12545)

  1. Berteman dekat dengan orang-orang shalih yang akan membantu dalam kebaikan. Karena orang shalih adalah mereka yang mengamalkan firman-Nya,

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah: 2)

  1. Merealisasikan ilmu yang didapatkan dalam amal yang nyata. Ini adalah pembiasaan yang membutuhkan kesabaran, sabar dalam menuntut ilmu dan sabar dalam merealisasikan ilmu yang di dapat. Barangsiapa yang terbiasa merealisasikan ilmu yang didapat sekecil apapun, maka ia akan mendapi dirinya berubah ke arah yang lebih baik.
  2. Senantiasa meluangkan waktu dalam sehari untuk bermuhasabah. Melihat kembali amalan dan perbuatan yang telah dikerjakan. Maimun bin Mahran rahimahullah berkata,

 لَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يَكُوْنَ لِنَفْسِهِ أَشَدُّ مُحَاسَبَةً مِنَ الشَّرِيْكِ الشَّحِيْحِ لِشَرِيْكِهِ

“Tidaklah seorang hamba menjadi bertaqwa sampai dia melakukan muhasabah atas dirinya lebih keras daripada seorang teman kerja yang pelit yang membuat perhitungan dengan temannya”. (Ighatsatul Lahfan Min Mashayidisy Syaithan 1/133)

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang terus bergerak ke arah yang lebih baik. Kita semua memohon pertolongannya, karena hanya dengan pertolongan-Nya, kita mampu membina dan mendidik diri sendiri.

Wallahu A’lam bish-shawab