Hukum Mengambil Upah Dari Pengajaran Al-Qur’an

Pertanyaan: Sahabatku mengkritik para syaikh dan para imam lantaran mereka mengambil imbalan dari apa yang mereka ajarkan. Sahabatku beranggapan bahwa hal itu tidak boleh dilakukan lantaran para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak memberikan upah kepada syaikh dan ulama. Padahal mereka adalah orang yang paling gencar melaksanakan dakwah dan mengajarkan ilmu. Sahabatku juga mengatakan bahwa mengambil upah dari mengajarkan ilmu syar’i tidak ada dalilnya di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Bahkan Al-Qur’an sendiri melarangnya dengan dalil

وَءَامِنُوا۟ بِمَآ أَنزَلْتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوٓا۟ أَوَّلَ كَافِرٍۭ بِهِۦ ۖ وَلَا تَشْتَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِى ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّٰىَ فَٱتَّقُونِ

Artinya: “Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.” (Al-Baqarah 41)

dan firman Allah,

ٱتَّبِعُوا۟ مَن لَّا يَسْـَٔلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ

Artinya: “Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Yasin 21)

Bolehkah seseorang mencari nafkah dengan mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits?

Jawaban

Pertama, Hukum asal dari sebuah ibadah adalah bahwa seorang muslim tidak diperbolehkan mengambil imbalan dari ibadah yang ia kerjakan. Barang siapa yang mencari kehidupan dunia dari ibadah yang ia kerjakan, maka ia tidak mendapatkan pahala di sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak mem­peroleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud: 15-16)

Kedua, jika ibadah yang dikerjakan adalah jenis ibadah yang memberikan manfaat kepada orang banyak, seperti meruqyah atau mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka diperbolehkan mengambil upah darinya menurut jumhur ulama kecuali Hanafiyah.

Pendapat jumhur ini telah dikuatkan oleh hadits nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرُّوا بِمَاءٍ فِيهِمْ لَدِيغٌ أَوْ سَلِيمٌ فَعَرَضَ لَهُمْ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَاءِ فَقَالَ هَلْ فِيكُمْ مِنْ رَاقٍ إِنَّ فِي الْمَاءِ رَجُلًا لَدِيغًا أَوْ سَلِيمًا فَانْطَلَقَ رَجُلٌ مِنْهُمْ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ عَلَى شَاءٍ فَبَرَأَ فَجَاءَ بِالشَّاءِ إِلَى أَصْحَابِهِ فَكَرِهُوا ذَلِكَ وَقَالُوا أَخَذْتَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَجْرًا حَتَّى قَدِمُوا الْمَدِينَةَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخَذَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ أَجْرًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ

Dari Abdullah Ibnu Abbasbahwa beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sumber mata air dimana terdapat orang yang tersengat binatang berbisa, lalu salah seorang yang bertempat tinggal di sumber mata air tersebut datang dan berkata; “Adakah di antara kalian seseorang yang pandai merqiyah? Karena di tempat tinggal dekat sumber mata air ada seseorang yang tersengat binatang berbisa.” Lalu salah seorang sahabat Nabi pergi ke tempat tersebut dan membacakan al fatihah dengan upah seekor kambing. Ternyata orang yang tersengat tadi sembuh, maka sahabat tersebut membawa kambing itu kepada teman-temannya. Namun teman-temannya tidak suka dengan hal itu, mereka berkata; “Kamu mengambil upah atas kitabullah?” setelah mereka tiba di Madinah, mereka berkata; “Wahai Rasulullah, ia ini mengambil upah atas kitabullah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya upah yang paling berhak kalian ambil adalah upah karena (mengajarkan) kitabullah.” (HR Bukhari no. 5405)
Imam An-Nawawi juga mengatakan, “Sungguh telah sangat jelas tentang kebolehan mengambil upah dari ruqiyah dengan surat Al-Fatihah atau dengan dzikir. Dan hukumnya adalah halal dan bukan makruh. Dan seperti itu jugalah hukum mengajarkan Al-Qur’an. Ini merupakan pendapat dari madzhab Syafi’i, Malik, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan yang lainnya dari para salaf.” (Syarhu An-Nawawi 14/188)

Dan bolehnya mengambil upah dari mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits juga merupakan pendapat dari para ulama yang terkumpul di dalam lajnah daimah lil ifta’, di antaranya adalah Syaikh Abdul Aziz bin Bazz, Syaikh Abdur Razaq Afifi, Syaikh Abdullah bin Ghadyan, dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud. Mereka berkata,

يجوز لك أن تأخذ أجراً على تعليم القرآن ؛ فإن النبي صلى الله عليه وسلم زوَّج رجلا امرأة بتعليمه إياها ما معه من القرآن ، وكان ذلك صداقها ، وأخذ الصحابي أجرة على شفاء مريض كافر بسبب رقيته إياه بفاتحة الكتاب ، وقال في ذلك النبي صلى الله عليه وسلم : ( إن أحق ما أخذتم عليه أجرا كتاب الله ) أخرجه البخاري ومسلم ، وإنما المحظور : أخذ الأجرة على نفس تلاوة القرآن ، وسؤال الناس بقراءته

“Diperbolehkan bagimu untuk mengambil upah dari mengajarkan Al-Qur’an. Karena sesungguhnya Rasulullah pernah menikahkan seseorang dengan mahar mengajarinya Al-Qur’an. Dan para sahabat juga mengambil upah atas sembuhnya orang kafir dengan sebab ruqiyah yang ia bacakan untuknya. Dan nabi Muhammad bersabda berkenaan dengan hal itu, “Sesungguhnya upah yang paling berhak kalian ambil adalah upah karena (mengajarkan) kitabullah.” Yang tidak diperbolehkan adalah mengambil imbalan dari bacaannya sendiri atau meminta manusia untuk membaca Al-Qur’an untuk dirinya, kemudia mereka diberi upah.” (Fatawa Lajnah Daimah 15/96)

Ketiga, adapun dalil yang dikemukakan berkenaan dengan haramnya mengambil upah dari ayat-ayat Allah, maka dalil itu tidak bisa diterapkan untuk mengaramkannya. Hal itu karena makna dari ayat tersebut bukanlah untuk mengharamkan upah dari mengajarkan Al-Qur’an, Hadits dan ilmu syar’i lainnya. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa terdapat beberapa ulama yang mengharamkan upah mengajarkan Al-Qur’an menggunakan dalil tersebut. Akan tetapi, dalil tersebut tidak bisa diterima dengan beberapa alasan, diantaranya adalah:

Pertama, maksud tsaman dalam surat Al-Baqarah ayat 41 tersebut adalah kepuasan hawa nafsu, bukan mengambil upah dari pengajaran Al-Quran. Thahir bin ‘Asyur rahimahullah berkata, “Maksud dari tsaman adalah keridhoan dari kaumnya, yaitu mereka merubah hukum-hukum agama dengan sesuatu yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Atau mereka membuat-buat ilmu dan hukum untuk diri mereka sendiri, sedangkan pada dasarnya mereka adalah orang-orang bodoh. Maka mereka meletakkan dalam kitab-kitab mereka kisah-kisah yang remeh dan palsu, dan ilmu-ilmu yang pada hakekatnya tidak bermanfaat. Sehingga dengan itu, mereka bisa menyombongkan diri di kalangan mereka sendiri. Sungguh mereka adalah orang yang akalnya tidak bisa mendapati ilmu yang shahih, sehingga mereka membuat sebuah kebohongan demi kebohongan agar mereka mendapat keridhoan dari kaumnya.” (At-Tahrir wa At-Tanwir 1/577)

Berkata Imam al-Qurtuby, “Para ulama telah berbeda pendapat karena ayat ini dan apa yang terkandung di dalamnya tentang bolehnya mengambil upah dari pengajaran Al-Qur’an dan ilmu syar’i. Adapun yang melarang untuk mengambil upah dari pengajaran Al-Qur’an adalah pendapat Zuhri dan Ahnaf, mereka berkata, ‘Tidak diperbolehkan mengambil upah dari pengajaran Al-Qur’an, karena hukum mengajarkannya adalah kewajiban yang harus ada di dalamnya, niat untuk mendekat kepada Allah dan keikhlasan. Seperti halnya shalat dan puasa.’

“Dan Malik, Syafi’i, Ahmad, Abu Tsaur dan kebanyakan ulama berpendapat akan bolehnya mengambil upah dari pengajaran Al-Qur’an. Mereka berdalil dengan hadits nabi, “Sesungguhnya upah yang paling berhak kalian ambil adalah upah karena (mengajarkan) kitabullah.” (HR Bukhari no. 5405)

“Adapun orang yang mengharamkan upah dari mengajarkan Al-Qur’an, ketika mereka menggunakan dalil bahwa pengajaran Al-Qur’an diqiyaskan dengan shalat dan puasa, maka qiyas itu fasid atau rusak. Hal itu lantaran manfaat shalat dan puasa adalah khusus untuk yang mengerjakannya, sedangkan pengajaran Al-Qur’an memiliki manfaat yang bersifat umum, baik yang mengajarkannya maupun yang diajarkan, sehingga dibolehkan untuk mengambil upah.

“Ayat tersebut hanya dapat menjerat orang yang berkewajiban untuk memberikan pengajaran Al-Qur’an atau ilmu syar’i, sedangkan ia menolak kecuali diberikan kepadanya upah. Sedangkan jika seseorang tidak menuntut upah atau upah tersebut tidak ditentukan sebelumnya, maka ia dibolehkan untuk mengambilnya.” (Tafsirul Qurthubi 1/335)

Kedua, adapun yang menggunakan dalil dari surah Yasin ayat 21, “Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Maka berkata Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi, “Disimpulkan dari ayat ini dan ayat yang semisalnya, bahwa menjadi kewajiban bagi pengikut para rasul dari kalangan ulama dan yang lainnya untuk mencurahkan ilmu yang mereka miliki tanpa meminta upah, dan tanpa meminta ganti dari ilmu yang mereka berikan. Karena sesungguhnya tidak layak untuk mengambil upah dari mengajarkan ayat-ayat Allah, aqidah, haram dan haram, dan ilmu-ilmu syar’i lainnya.” (Adhwau Al-Bayan 2/179)

Kemudian Syaikh Asy-Syinqithi melanjutkan, “Adapun yang paling jelas menurut kami –Wallahu A’lam– bahwa seseorang jika tidak didesak oleh kebutuhan yang benar-benar penting, maka yang lebih utama adalah tidak mengambil upah dari pengajaran Al-Qur’an, aqidah, dan halal haram dalam Islam. Namun jika ia didesak oleh kebutuhan, maka dia mengambil upah tersebut sesuai dengan kadar kebutuhannya dari baitul mal yang dikelola oleh kaum muslimin. Karena baitul mal ketika memberikan sesuatu, bukan karena memberikan upah dari pengajaran Al-Qur’an, melainkan untuk menolong dan mempermudah tegaknya ta’lim dan dakwah.” (Adhwau Al-Bayan 2/182)

Kesimpulan

Tidak terdapat dalil yang jelas di dalam Al-Qur’an maupun Hadits yang menjelaskan akan haramnya mengambil upah dari mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu-ilmu syar’i yang lain. Adapaun pengambilan kesimpulan dari dua dalil yang disebutkan di atas, maka pengambilan kesimpulan tersebut banyak sekali pertentangan. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa diperbolehkan bagi seseorang untuk mengambil upah dari pengajaran Al-Qur’an atau ilmu-ilmu yang lain.

Akan tetapi disini terdapat penekanan, bahwa yang paling utama bagi orang yang dicukupi oleh Allah sehingga tidak memiliki kebutuhan yang mendesak adalah dengan menyucikan diri dengan tidak mengambil apapun dari pernak-pernik dunia sebagai pengganti dari apa yang telah ia ajarkan.

Wallahu A’lam

Diterjemahkan secara ringkas dari Islamqa.info