Hukum Silaturrahmi kepada Kerabat Kafir

Pertanyaan:

Seorang warga Jerman bertanya, “Apa ketentuan silaturahmi?”,   “Kepada siapa saja silaturrahmi itu dilakukan bila dilihat dari tingkatan kekerabatan?”, karena kebanyakan dari kerabatku tidak beriman atau mereka tidak shalat, puasa dan berzakat. Secara nama mereka Islam, tapi secara praktek tidak. “Apakah aku harus bersilaturahmi kepada mereka atau hanya kepada kerabat muslim saja?”

 

Jawaban:

Derajat terdekat kerabat yang seorang muslim wajib untuk menyambungnya adalah kedua orang tua, bapak, ibu, kakek dan nenek. Kemudian anak-anak, baik laki maupun perempuan dan yang dibawahnya(cucu laki laki dan perempuan). Kemudian saudara kandung dan anaknya (keponakan). Kemudian paman dan bibi dari saudara laki dan perempuan dari orang tua. Kemudian anak-anak mereka baik laki maupun perempuan (sepupu laki dan perempuan).

Nabi shallallahu ‘alahi wa salam bersabda, ketika ditanya seseorang, “Ya Rasulullah, kepada siapa aku harus berbuat baik?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?”. Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasulullah bersabda, “Bapakmu, kemudian yang terdekat lalu yang terdekat. (HR Muslim)

Dalam riwayat  yang lain disebutkan ada seseorang yang bertanya, “Wahai Rasulullah siapakah orang  yang paling berhak aku berbuat baik kepadanya?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Kemudian Ia bertanya , “Lalu siapa?”. Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Kemudian ia bertanya, “Lalu siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Kemudian ia bertanya, “Lalu siapa lagi?” Rasulullah bersabda, “Bapakmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa salam  bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturrahmi.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman

 فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ  . أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

(محمد: 22 -23)

“Maka Apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? mereka Itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS. Muhammad: 22-23)

( أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ( لقمان:14

“Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”  (Lukman: 14)

( وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا [الإسراء:23

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS Al Isra: 23)

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ.. [النساء:36

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin…” (QS An-Nisa’ : 36)

Seorang muslim wajib bersilaturrahmi kepada kerabatnya sesuai dengan kemampuannya. Meskipun  hanya dengan ucapan yang baik. Bila kerabatnya miskin, ia bisa membantunya dengan  harta, bila ada. Bersilaturahmi kepada yang terdekat kemudian yang terdekat, meskipun dengan telepun dan surat. Tetap bersilaturahmi dan berusaha menyambung kepada mereka, meskipun mereka memutuskan hubungan. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa salam bersabda,

    ليس الواصل بالمكافي، ولكن الواصل الذي إذا قطعت رحمه وصلها

“Orang yang menyambung (tali silaturahmi) bukanlah orang yang membalas, tetapi orang yang menyambung tali silaturrahmi adalah orang yang apabila rahimnya diputus, ia menyambungnya.” (HR Bukhari)

Inilah orang yang menyambung yang sempurna, yang menyambung mereka  ketika mereka memutuskannya.

Adapun kepada kerabat kafir, maka  tidak wajib bersilaturrahmi kepada mereka. Tetapi bila kamu bersilaturahmi  kepada mereka, itu hal yang baik. Karena bisa jadi,  dia mendapatkan petunjuk dengan sebab (silaturahmi)mu. Kalau kamu punya saudara kafir, paman kafir atau sepupu kafir dan kamu bersilaturahmi kepada mereka, itu baik bagimu. Ini dari sebab-sebab hidayahnya.

Adapun kepada dua orang tua, maka kamu tetap bersilaturahmi kepada mereka, meskipun keduanya kafir.   Kedua orang tua memiliki hak yang besar. Kamu tetap berbuat baik kepada mereka, bersilaturahmi  kepada keduanya meskipun kedua kafir, dan mengajak keduanya untuk berbuat baik. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ  ( لقمان: 14

Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

وصاجبهما في الدينا معروفا (لقمان : 15

Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik  (Lukman: 15)

Adapun kepada selain mereka (berdua) perkaranya lebih mudah lagi. Kalau kamu bersilaturahmi kepada mereka(kerabat kafir), ini hal yang baik dari sisi dakwah kepada Allah dan menganjurkan mereka berbuat kebaikan. Sebaliknya, bila tidak bersilaturrahmi kepada mereka (juga tidak  mengapa) karena itu tidak wajib  bagimu. Karena kekafiran telah memisahkan antara kamu dengan mereka. Kamu tidak wajib untuk menyambung mereka dan berinfak kepada mereka. Tetapi bila kamu bersilaturrahmi kepada mereka dan berbuat baik kepada mereka karena berharap kepada Allah agar mereka mendapat petunjuk bukan karena cinta kepada mereka tapi dalam rangka untuk menyambung tali silaturahmi dan semoga Allah  memberi petunjuk dengan sebab itu, ini adalah hal yang baik.

Sumber : https://binbaz.org.sa/fatwas/10335/مقومات-صلة-الرحم-ودرجاتهم-وحكم-صلة-الكفار-منهم