Puasa dan Akhlak (2)

Kita sebagai bangsa yang penduduk muslimnya menempati terbesar di dunia, harus menampilkan akhlak yang mulia. Karena akhlak itu cerminan dari nilai-nilai agama Islam yang mulia yang diserap dalam diri.

Dalam teori etika atau moralitas manusia pada umumnya ada 4 teori:

Pertama, etika itu bersumber dari kearifan budaya.

Kedua, etika bersumber dari intuisi dan perasaan.

Ketiga, etika bersumber dari kenikmatan dan kemanfaatan (pragmatisme) serta kesempatan (oportunisme).

Keempat, etika itu bersumber dari akal.

Itulah kesimpulan tren etika dalam pengalaman umat manusia di luar umat Islam. Bagi umat Islam beda karena sumber akhlak itu adalah wahyu.

Pokok kerusakan akhlak itu ada tiga dari pengalaman manusia utama di awal kiprahnya:

Pertama adalah sombong. Itulah karakter yang dimiliki oleh Iblis.

Kedua adalah tamak. Itulah yang menjadikan Nabi Adam alaihissalam bersama istrinya Hawa diusir Allah dari surga akibat melanggar satu larangan memakan buah yang dilarang karena tamak, padahal seluruh isi surga diperkenankan untuk dilahap.

Ketiga yaitu dengki. Karakter buruk itulah yang menyebabkan Qabil tega membunuh saudaranya sendiri Habil.

Karena itu, menarik untuk disimak kesimpulan Ibnu Hazm tentang pokok utama karakter yang baik dan buruk pada manusia dalam kitab karangannya ‘Al-Akhlak was Siyar’ hal. 59, yaitu;

Pokok-pokok akhlak yang baik itu ada 4: (1) Keadilan, (2) ilmu dan pemahaman, (3) keberanian dan (4) kedermawanan.

Sedangkan lawannya: (1) Kezaliman, (2) kebodohan, (3) sikap pengecut, dan (4) pelit alias kikir.

Sedangkan Ibnul Qayyim dalam kitab Madarijus Salikin, (2/308) menyebut 4 pokok-pokok akhlak mulia, yaitu: (1) Sabar, (2) ‘iffah (bersikap terhormat), (3) berani, dan (4) bersikap adil.

Adapun Imam Sufyan Ats-Tsauri lebih aplikatif dan simpel, ada tiga:

Pertama, berbuatlah yang terbaik.

Kedua, jangan mengganggu orang lain.

Ketiga, senantiasa senyum.

Imam Al-Ajurri menyebutkan akhlak ulama dalam kitabnya ‘Akhlaqul ‘Ulama’, bahwa ulama harus berakhlak tinggi, yaitu:

Pertama, apabila berjumpa dengan ulama yang lebih tinggi ilmunya, dia belajar.

Kedua, apabila berjumpa dengan ulama yang ilmunya sama, maka dia berdialog.

Ketiga, ketika dia bertemu dengan orang yang ilmunya di bawahnya, maka dia mengajarkannya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq mengajarkan kepada kita; “Bila Anda berjumpa dengan orang tua, katakan kepada dirimu bahwa beliau lebih mulia karena faktor umur lebih iman dan amalnya. Bila Anda bertemu dengan anak muda, katakan dia lebih mulia karena sedikit dosa dan maksiatnnya. Sementara diriku lebih banyak dosa dan maksiat.” (Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf, hal. 17)

Akhlak itu luas sekali cakupannya.

Akhlak kepada Allah; mencintaiNya, berharap hanya kepadaNya, takut hanya kepadaNya, menyukuri nikmatNya, bertawakkal kepadaNya, dst.

Akhlak kepada Rasulullah ﷺ; mencintainya, mencintai keluarganya, mengikutinya, berakhlak seperti beliau, memahami dan menjalankan sunnah-sunnahnya, dst.

Akhlak kepada Alqur’an; membacanya, mentadabburinya, mengamalkannya, mengajarkan dan mendakwahkannya, berhukum kepadanya, dst.

Akhlak kepada makhluk pada umumnya; kepada orang tua, kepada saudara, keluarga, tetangga, kepada kaum muslimin dan mukminin bahkan kepada non muslim serta kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan serta alam semesta.

Hidup ini hanya ada dua; kebaikan dan keburukan. Akhlak mulia selalu bersentuhan dengan kabaikan, sedangkan akhlak yang buruk bersinggungan dengan keburukan.

Alangkah indahnya bila perangai kita dihiasi karakter mulia semacam itu. Akan lahir genarasi menakjubkan yang berkarakter mulia sebagai alumni puasa insyaAllah.

إنَّ من أحبِّكم إليَّ وأقربكم منِّي مجلسًا يومَ القيامةِ أحاسنَكُم أخلاقًا ، وإنَّ أبغضَكم إليَّ وأبعدَكم منِّي مجلسًا يومَ القيامةِ : الثَّرثارونَ ، والمتشدِّقونَ ، والمتفَيهِقون . قالوا : يا رسولَ اللَّهِ قد علِمنا الثَّرثارونَ والمتشدِّقونَ ، فما المتفَيهِقونَ ؟ قالَ : المتكبِّرونَ

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaqnya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada hari kiamat kelak adalah ats-tsartsarun, al-mutasyaddiqun dan al-mutafaihiqun.” Sahabat berkata: “Ya Rasulallah, kami sudah tahu arti ats-tsartsarun (banyak omong) dan al-mutasyaddiqun (suka mengganggu), lalu apa arti al-mutafaihiqun?” Beliau menjawab, “Orang yang sombong.” (HR. At-Turmudzi)

_ Wallahul Musta’an._