Puasa dan Ikhlas (1)

Ibadah puasa Ramadhan merupakan amalan yang langsung antara hamba dengan Allah. Tidak ada yang tau kalau dia lagi puasa terus masuk ke dapur minum atau pergi ke warung remang-remang lalu makan. Yang mengetahui hanya Allah dan orang tersebut. Karena itu motivasi beribadah karena Allah itulah keikhlasan. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu pula qiyamullail atau tarawih:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syarat diterimanya ibadah di sisi Allah itu ada dua kata imam Fudhail bin Iyadh, ketika menafsirkan firman Allah,

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا

“… Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk, 67: 2) bahwa sebaik baik amal itu apabila ikhlas dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad ﷺ,

أخلصه وأصوبه . إن العمل إذا كان خالصا ولم يكن صوابا لم يقبل ، وإذا كان صوابا ولم يكن خالصا لم يقبل .

“Amal yang paling ikhlas dan paling benar. Sesungguhnya suatu amal jika dia dikerjakan dengan ikhlas namun tidak benar maka amal tersebut tidak diterima. Dan suatu amal jika dia dikerjakan dengan cara yang benar namun tidak disertai dengan niat yang ikhlas maka amal tersebut juga tidak diterima.”

Begitu pula tafsir (QS. Al-Bayyinah, 98: 5),

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”

Mukhlisiin itu ikhlas dan hunafa’, artinya mengikuti Rasul ﷺ.

Demikian pula (QS. An-Nisa, 4: 125),

وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan(-Nya).”

aslama wajhahu lillah artinya ikhlas, dan muhsinun itu mengikuti Rasulullah ﷺ. Demikian pentingnya niat itu, sampai Nabi ﷺ menyebutkan:

إنَّما الأعْمالُ بالنِّيّاتِ

“Sungguh seluruh amal itu tergantung niatnya.”

Dalam riwayat Anas, marfu’:

نيَّةُ المؤمنِ أبلَغُ مِن عملِه

“Niat seorang mukmin lebih mengena daripada tindakannya.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Sampai Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata:

تعلموا النية ، فإنها أبلغ من العمل .

“Belajarlah tentang niat karena itu lebih penting dari amal.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab, hal. 70)

Bahkan banyak ulama yang berpendapat bahwa niat itu menempati sepertiga ilmu Islam. Lihatlah pentingnya kedudukan niat itu, sampai para nabi alaihimussalam disebut oleh Allah sebagai hamba yang ikhlas;

Nabi Musa AS

وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ مُوْسٰٓىۖ اِنَّهٗ كَانَ مُخْلَصًا وَّكَانَ رَسُوْلًا نَّبِيًّا

“Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Musa di dalam Kitab (Al-Qur’an). Dia benar-benar orang yang ikhlas, seorang rasul dan nabi.” (QS. Maryam, 19: 51)

Nabi Yusuf AS

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰى بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ

“Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang ikhlas.” (QS. Yusuf, 12: 24)

Nabi Muhammad ﷺ

قُلْ اَتُحَاۤجُّوْنَنَا فِى اللّٰهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْۚ وَلَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُخْلِصُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya kami dengan ikhlas mengabdikan diri.” (QS. Al-Baqarah, 2: 139)

Boleh dikata bahwa niat adalah puncak tertinggi yang paling sulit digapai.

Sufyan Ats-Tsauri menyampaikan pengalamannya:

ما عالَجْتُ شيئاً أشدَّ عليّ من نيّتِي ، لأنها تتقلَّبُ عليّ.

“Tidak ada yang lebih berat bagiku melebihi beratnya mengobati niatku, karena ia selalu berubah-rubah dalam diriku.”

Begitu pula Yusuf Ar-Razi berkata:

أعز شيء في الدنيا الإخلاص ، وكم أجتهدُ في إسقاط الرياء عن قلبي ، فكأنه ينبت على لون آخر .

“Sesuatu yang paling berat di dunia adalah ikhlas. Aku sering menghilangkan riya’ dari hatiku tetapi seolah tumbuh lagi di hatiku dengan warna yang berbeda.”

Karena itu, Ibnul Qayyim punya resep bagus untuk pengendalian niat agar tidak bergeser menjadi riya’ yang berarti gugur nilai amalnya:

Pertama, tanyakan kepada dirimu untuk siapa kamu berbuat? Kalau karena Allah, teruskan. Tapi kalau faktor lain, tinggalkan.

Kedua, ketika sedang mengerjakan amalan itu, jaga jangan sampai dicuri oleh setan atau hawa nafsu.

Ketiga, bila selesai beramal, lupakan jangan disebut-sebut. Tidak mudah. Wallahul Musta’an.

Ada sejumlah tanda bagi orang yang ikhlas:

Pertama, mengharap hanya ridha Allah

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.” (QS. Al-Kahfi, 18: 28)

Makanya Nabi ﷺ membatasi orang yang hanya berjuang di jalan Allah itu yang akan dapat pahala:

مَن قاتَلَ لتَكونَ كَلِمةُ اللهِ هي العُلْيا فهو في سَبيلِ اللهِ

“Barangsiapa yang berperang untuk menegakkan kalimat Allah sebagai kalimat yang paling tinggi, maka dia berada (berjihad) di jalan Allah.” (Muttafaq ‘alaih)

Kedua, orang itu suka beramal tersembunyi. Seperti kata Nabi ﷺ:

« إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ ».

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa (taqiy), kaya hati (ghaniy), dan menyembunyikan amalannya (khafiy).” (HR. Muslim)

Ketiga, penampilan orang itu biasa tapi dalamnya luar biasa

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا (63) وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَامًا (64) وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ اِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (65) اِنَّهَا سَاۤءَتْ مُسْتَقَرًّا وَّمُقَامًا (66) وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا (67(

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “salam,” dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri. Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal,” sungguh, Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar.” (QS. Al-Furqan, 5: 63-67)

Ada cerita Nabi ﷺ yang sangat mengerikan dan penting menjadi pelajaran. Yaitu orang yang ketika di akhirat amalnya banyak sekali sampai seperti gunung Tihamah putih. Tetapi Allah lenyapkan sampai ludes. Mengapa? Nabi ﷺ menjelaskan:

أما إنَّهم إخوانُكُم ، ومِن جِلدتِكُم ، ويأخُذونَ منَ اللَّيلِ كما تأخذونَ ، ولَكِنَّهم أقوامٌ إذا خلوا بمحارمِ اللَّهِ انتَهَكوها

“Mereka adalah saudara-saudara kalian dan sebangsa dengan kalian, mereka juga bangun malam seperti kalian, akan tetapi apabila sendirian (mendapat kesempatan untuk berbuat dosa) mereka melakukannya.” (HR. Ibnu Majah. Shahih)

Keempat, takut amalnya tidak diterima Allah

وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ

“Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (QS. Al-Mukminun, 23: 60)

Penjelasan Nabi ﷺ terhadap ayat itu kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha; bukan orang yang takut karena kemaksiatannya, tapi orang yang shalat, puasa dan bersedekah, tapi takut amalnya itu tidak diterima Allah, kerena itu mereka bergegas dalam kebaikan. (HR. At-Turmudzi. Shahih)

Kelima, orang itu tidak menunggu pujian manusia

وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍۚ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

“Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam.” (QS. Asy-Syu’ara, 26: 109)

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.” (QS. Al-Insan, 76: 9)

Keenam, tidak takut celaan manusia

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”(QS. Al-Maidah, 5: 54)

bersambung …