Meminta Barakah

Bagaimana hukumnya perkataan orang awam, “tabarakta ‘alaina” dan “zaratna al-barakah?”

Jawaban:

Perkataan orang awam, “tabarakta ‘alaina” tidak dimaksudkan kepada Allah, melainkan mereka memaksudkan bahwa kami mendapatkan barakah dari kedatanganmu dan barakah boleh dinisbatkan kepada manusia. Asyad bin Hudhair ketika turun ayat tentang tayamum karena hilangnya tali leher Aisyah dia berkata, “Ini bukanlah keberkataan pertama yang diberikan kepadamu wahai keluarga Abu Bakar.” (Ditakhrij oleh Al-Bukhari dalam kitab At-Tayamum (334) dan Muslim dalam kitab Al-Haidh bab At-Tayammum (289)).

Meminta barakah tidak boleh lepas dari dua hal:

Pertama, meminta barakah kepada sesuatu yang diperintahkan oleh syariat yang dikenal, seperti Al-Qur’an. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan dengan penuh berkah.” (Al-An’am: 92).

Di antara barakah Al-Qur’an adalah siapa yang mengambilnya dan bersungguh-sungguh maka dia akan mendapatkan kemenangan, lalu Allah menyelematkan dengannya umat-umat yang banyak dari syirik. Di antara barakahnya adalah bahwa membaca satu huruf diberi pahala sepuluh kebaikan sehingga hal ini mendorong manusia untuk bersungguh-sungguh dan memanfaatkan waktunya.

Kedua, merinci barakah melalui sesuatu yagn bisa diketahui secara fisik, seperti ilmu, maka orang bisa mencari berkah melalui ilmu dan seruannya kepada kebaikan. Asyad bin Hudhair berkata, “Ini bukanlah keberkatakan pertama yang diberikan kepadamu wahai keluarga Abu Bakar” karena Allah kadang menjalankan melalui tangan sebagian manusia perkara-perkara yang baik yang tidak dijalankan melalui tangan orang lain.

Namun ada pula barakah yang meragukan lagi batil, seperti keberkatan yang dianggap oleh para dajjal bahwa soerang mayit yang dianggap wali bisa memberikan barakah dan sebagainya. Ini adalah keberkatan yang batil yang tidak ada pengaruhnya. Namun kadang-kadang syetan ikut bermain di dalamnya, dia berkhadam kepada syekh itu sehingga hal itu menjadi fitnah bagi mereka.

Lalu bagaimana cara mengetahui apakah ini termasuk barakah yang batil ataukah yang benar? Hal itu bisa diketahui melalui keadaan seseorang, jika dia termasuk waliyullah yang bertakwa dan mengikuti sunah serta menjauhi bid’ah, maka Allah akan memberikan kebaikan dan barakah dari kedua tangannya yang tidak bisa dilakukan orang lain, sedangkan jika dia menentang Al-Kitab dan sunah atau menyeru kepada kebatilan, maka barakahnya diragukan, bisa jadi barakah itu dibantu oleh syetan karena kebatilannya.

Sumber: Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm. 206-207.