Tauhidkan Allah Azza wa Jalla

Terkadang manusia acap kali lalai bahwa segala tindak tanduk nya disitu ada Allah yang mengawasi, ada Allah yang membantu, ada Allah yang melindungi dan lain sebagainya.

Soal rizki Allah sudah mengatur dan menjamin rizki hamba-hambanya, tidak ada satu makhluk pun di alam semesta ini yang luput dari rizki Allah. Semuanya Allah sudah jamin.

Akan tetapi rizki yang Allah berikan kepada makhluknya berbeda-beda kadarnya antara satu dengan yang lain. Disinilah kita sebagai manusia di uji oleh Allah apa yang sudah Allah kasih apakah sudah kita syukuri atau justru kita kufuri.

Memang tabiat manusia itu selalu dan selalu merasa kurang. Andaikan mereka mempunyai satu gunung emas pun pasti mereka ingin mempunyai dua gunung emas. Selalu merasa kurang dan kurang. Ini lah salah satu bentuk kufur nikmat sudah di kasih bukannya bersyukur tapi ingin dapat yang lebih dari apa yang di beri oleh Allah Azza wa Jalla.

Telah berkata Syaikh Abdul Qadir Al-Jaelani:

“أخلصوا ولا تشركوا

وحدوا الحق

“Ikhlaslah kalian dalam beramal dan jangan berbuat kesyirikan,,,

Tauhidkanlah al haq (Allah).”

وعن بابه لا تبرحوا

سلوه ولا تسألوا غيره

“Dan terhadap pintu-pintuNya, janganlah kalian tinggalkan

Mintalah pada-Nya, Jangan kalian minta pada selain-Nya.”

استعينوا به ولا تستعينوا بغيره

توكلوا عليه ولا تتوكلوا على غيره

Minta tolonglah kalian hanya pada-Nya…

Jangan memohon pertolongan pada selain-Nya…

Bertawakallah hanya pada-Nya…

Jangan bertawakal kepada selain-Nya.”

Bergantung kepada Allah adalah kewajiban seorang mukmin. Mukmin yang hakiki tidak akan bergantung kepada sesuatu selain daripada Allah. Inilah adalah bukti tauhid yang benar, menyerahkan segala urusan yag tidak bisa kita selesaikan, masalah yang bertubi-tubi datang tak luput-luput dari hidupnya maka sudah seharusnya ia menyerahkannya kepada Allah.

Tidak meminta kecuali meminta kepada Allah. Tidak meminta pertolongan kecuali meminta pertolongan kepada Allah. Tidak meminta perlindungan kecuali meminta perlindungan kepada Allah dan tidak meminta rizki kecuali hanya meminta rizki kepada Allah.

 

 

Sumber: Fathu Ar-Rabbanii oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jaelani