Larangan Menolak Minyak Wangi Apabila Diberikan Kepadanya

Dari ‘Azrah bin Tsabit al-Anshari r.a, ia berkata, “Aku menemui Tsumamah bin ‘Abdillah lalu ia memberikan minyak wangi, ia berkata, ‘Anas r.a. tidak pernah menolak hadiah minyak wangi.’ Anas mengatakan bahwa Rasulullah saw. tidak pernah menolak hadiah minyak wangi,” (HR Bukhari [2582]).

Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa diberikan kepadanya raihan (minyak wangi), maka janganlah menolaknya. Karena minyak wangi itu ringan dibawa dan harum baunya’,” (HR Muslim [2253]).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsiapa ditawarkan kepadanya minyak wangi,” (Shahih, HR Abu Dawud [4172], an-Nasa’i [VIII/189], Ibnu Hibban [5109]).

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Tiga pemberian yang tidak boleh ditolak: bantal, minyak wangi dan susu’,” (Shahih, HR at-Tirmidzi [2790], Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [3173], Ibnu Hibban dalam kitab ats-Tsiqaat [IV/110], Abu Nu’aim dalam Akhbaar Ashbahaan [I/99], Abu Syaikh dalam Thabaqaat al-Muhadditsiin bi Ashbahaan [III/217/457].

Kandungan Bab:

  1. Menerima hadiah minyak wangi dan tidak menolaknya. Karena hadiah minyak wangi tidak terlalu memberatkan apabila diterima. Dan juga saling menghadiahkan minyak wangi sudah menjadi kebiasaan. 
  2. Seorang Muslim hendaklah harum baunya dan selalu memakai minyak wangi. Dan hendaklah ia menawarkan minyak wangi kepada saudara-saudaranya saat hadir di tempat umum, tempat pertemuan atau perkumpulan. Oleh sebab itu, Rasulullah saw menyamakan teman yang shalih itu seperti seorang yang membawa minyak wangi. Karena hal tersebut akan membawa rasa cinta dan kasih sayang di antara kaum Muslimin.

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 2/409-410.