Larangan Menolak Hadiah atau Hibah dari Seorang Muslim

Dari Khalid bin ‘Adi al-Juhani r.a, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa sampai kepadanya sesuatu yang baik dari saudaranya seislam tanpa memintanya dan tanpa mengharap-harapnya, hendaklah ia menerimanya dan jangan menolaknya. Karena itu adalah rizki yang Allah berikan kepadanya’,” (Shahih, HR Ahmad [IV/320-321], Ibnu Hibban [3404] dan [5108], al-Hakim [II/62], ath-Thabrani [4124], Abu Ya’la [925]).

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Penuhilah undangan, jangan tolak hadiah dan jangan memukul kaum Muslimin’,” (Shahih, HR Ahmad [I/404-405], Bukhari dalam al-Adabul Mufrad [157], Ibnu Hibban [5603], al-Bazzar [1243], ath-Thahawi dalam Musykilul Aatsaar [3031], ath-Thabrani [104444] dan Ibnu Abi Syaibah [VI/555]).

Kandungan Bab:

  1. Larangan menolak hadiah yang diberikan. 
  2. Ia boleh menerima hadiah jika tidak disertai dua hal meminta dan mengharap-harapnya. 
  3. Apabila ia dalam kesulitan, maka ia boleh mengambil hadiah tersebut meskipun ia meminta dan mengharap-harapnya, wallaahu a’lam.

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 2/408-409.