Kisah Sapi yang Berbicara kepada Penunggangnya dan Serigala yang Berbicara kepada Penggembala

Pengantar

Ini adalah berita dari orang yang jujur dan dipercaya, yang tidak berbicara dari hawa nafsu tentang sebuah perkara yang unik dikarenakan ia menyelisihi kebiasaan manusia. Beliau memberitakan bahwa  seekor sapi  berbicara kepada pemiliknya manakala dia menyalahi adat kebiasaan umum. Penunggang itu menaiki punggungnya, dan sapi itu meningkarinya karena dia menyelisihi sunatullah pada dirinya.

Nabi kita juga menyampaikan tentang seekor serigala yang berbicara kepada penggembala yang mengambil seekor domba darinya ketika ia hampir memangsanya.

Percaya kepada berita seperti ini adalah wajib, karena ia termasuk iman kepada yang ghaib di mana orang-orangnya dipuji oleh Allah. "Dan orang-orang yang beriman kepada yang ghaib." (Al-Baqarah: 3). Dan yang dimaksud dengan perkara ghaib adalah perkara ghaib yang disampaikan oleh dalil sharih dari Allah dan rasul-Nya.

Teks Hadis

Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shalat shubuh, kemudian beliau menghadap kepada orang-orang. Beliau bersabda, "Seorang laki-laki menuntun seekor sapi, tiba-tiba menaikinya dan memukulnya. Sapi itu berkata, 'Kami tidak diciptakan untuk ini, tetapi kami diciptakan untuk membajak sawah.' Maka orang-orang berkata, 'Subhanallah, seekor sapi berbicara.'" Nabi bersabda, "Sesungguhnya aku beriman kepadanya, begitu pula Abu  Bakar dan Umar. Padahal keduanya tidak ada di tempat."

 

"Ketika seorang menggembala dombanya, tiba-tiba seekor serigala menyerang dan membawa lari seekor domba. Penggembala itu mengejarnya, sehingga seolah-olah dia menyelamatkannya darinya. Serigala itu berkata kepada penggembala, 'Kamu menyelamatkannya dariku. Lalu siapa yang menyelamatkannya pada hari datangnya binatang buas, pada hari itu tidak ada penggembala kecuali aku?'" Orang-orang berkata, 'Subhanallah, serigala berbicara." Nabi bersabda, "Aku beriman kepada hal ini, begitu pula Abu Bakar dan Umar. Padahal keduanya tidak ada di tempat."

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari di beberapa tempat dalam Shahih-nya yang paling komplit adalah riwayat dalam Kitab Ahadisil Anbiya' (6/512, no. 3471). Diriwayatkan pula dalam Kitab Fadhailush Shahabah, bab sabda Nabi, "Seandainya aku mengangkat seorang kasih." (7/18,  no. 2663).

Diriwayatkan dalam Kitabul Hartsi wal Muzaroah, bab menggunakan sapi untuk membajak, 5/8 no. 2324. Bukhari menyebutkan dalam bab keuatamaan Umar, Kitab Fadhailus Shahabah tentang kisah serigala yang berbicara kepada penggembala (tanpa kisah sapi), 7/42 no. 3690.

Penjelasan Hadis

Di dalam hadis ini Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyampaikan kepada kita tentang sebagian keajaiban dan keunikan yang terjadi pada sebagian orang pada masa umat sebelumnya. Beliau menyampaikan tentang seorang laki-laki yang menaiki punggung seekor sapi sebagaimana orang-orang menunggang punggung kuda, keledai, dan baghl. Sapi ini ogah-ogahan, maka penunggangnya memukulinya agar berjalan lebih cepat. Tiba-tiba sapi itu menolak kepadanya, lalu berkata kepadanya dengan ucapan manusia yang mengingkari perbuatannya yang menyalahi sunnatullah pada makhluknya, "Kami tidak diciptakan untuk ini, tetapi kami diutamakan untuk membajak sawah." Seolah-olah sapi ini berkata kepada pengendara, "Kamu telah berbuat zhalim kepadaku dengan mengendaraiku, karena kamu telah menggunakanku untuk sesuatu di mana Allah menciptakanku bukan untuk hal itu." Kezhaliman adalah meletakkan sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Para sahabat takjub. Kisah ini memang mengundang ketakjuban. Mereka berkata, "Subhanallah, seekor sapi berbicara." Ucapan mereka ini bukan merupakan sikap mendustakan Rasulullah. Tidak mungkin mereka mendustakan. Akan tetapi, para sahabat mendengar sesuatu di luar adat kebiasaan yang terlihat. Maka Nabi menjelaskan lagi berita ini dan menetapkannya dengan mengatakan bahwa dirinya beriman kepada hal itu, begitu pula Abu Bakar dan Umar. Pada saat beliau menyampaikan hadits ini Abu bakar dan Umar sedang tidak hadir  di masjid bersamanya. Nabi mengucapkan hal ini ketika keduanya tidak hadir. Beliau mengetahui besarnya kepercayaan keduanya kepada Allah dan besarnya keyakinan dan iman keduanya terhadap kodrat Allah di atas segala sesuatu, termasuk atas sapi yang berbicara ini.

Nabi juga menceritakan kisah lain di mana pelakunya adalah seekor serigala. Serigala ini menyerang domba milik seorang penggembala. Ia mengambil seekor domba. Penggembala ini adalah seorang yang kuat dan berani. Dia pun mengejar serigala itu dan menyelematkan domba itu darinya. Maka serigala itu memandang penggembala  dan mengingkari perbuatannya yang mengambil domba darinya. Serigala ini berkata, "Kamu menyelamatkan domba ini dariku. Lalu siapa yang akan menyelamatkannya pada hari datangnya binatang buas di mana pada hari itu tidak ada penggembala selainku?" serigala ini mengisyaratkan hari datangnya binatang buas di masa yang akan datang. Para hari itu ternak-ternak dibiarkan bebas, maka binatang-binatang buas menyerangnya dan merusaknya karena tidak ada yang menjaga dan melindunginya. Sepertinya hal ini terjadi menjelang datangnya kiamat pada saat puncak fitnah.

Sebagaimana orang-orang takjub terhadap seekor sapi yang berbicara, mereka juga takjub terhadap seekor serigala yang berbicara. Mereka mengucapkan apa yang mereka ucapkan dan nabi menjawab mereka dengan jawaban yang sama.

Sesuatu yang aneh bagi para sahabat adalah berbicaranya hewan kepada manusia dengan bahasa manusia. Adapun manusia berbicara dengan hewan dengan bahasanya, ini perkara lain. Nabiyullah Sulaiman mengerti bahasa burung dan hewan. Allah telah menyampaikan bahwa ketika pasukan Sualiaman mendatangi lembah semut, "…Berkatalah seekor semut, 'Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari'; maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu…"  (An-Naml: 18-19).

Ketika Sulaiman memeriksa bala tentaranya di mana salah satunya adalah pasukan burung, dia tidak melihat hud-hud, salah seorang bala tentaranya. Sulaiman mengancam akan menyembelihnya jika ia pulang tanpa memeberi alasan yang benar tentang ketidakhadirannya. Ketika hud-hud hadir dan berdiri di depannya, dia berkata kepada Sulaiman, maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan Dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.'"(An-Naml: 22-23). Dan seterusnya seperti yang dikatakan kepada Sulaiman.

Hud-Hud menyampaikan berita tentang ratu Saba' dan rakyatnya, juga kesyirikan mereka. Lalu Sulaiman memintanya agar menyampaikan suratnya kepada ratu Saba' dan meminta balasan ratu Saba' atas surat Sulaiman.

Sebagian binatang ada yang berbicara kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan beliau mengerti apa yang mereka katakan. Seekor unta pernah mengadu kepada beliau tetang perlakuan buruk majikannya yang selalu memukulinya.

Adapun binatang berbicara kepada manusia dengan bahasa manusia, hal itu telah terjadi sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah dalam hadits ini. Abu Nuaim meriwayatkan dalam Dalailin Nubuwah, bahwa hal ini terjadi pada seorang sahabat yang bernama Uhban bin Aus. Seekor serigala menyerang dombanya. Serigala itu menerkam seekor domba. Uhban berteriak, lalu serigala itu duduk di atas ekornya. Serigala itu berbicara kepadanya, "Siapa yang akan menjaganya di hari ketika kamu sedang sibuk darinya? Kamu telah menghalangiku mendapatkan rizki dari Allah." Uhban berkata, "Lalu aku menepuk tanganku. Aku berkata, 'Demi Allah aku tidak melihat sesuatu yang lebih aneh dari ini." (Hal ini terjadi setelah nabi diangkat menjadi nabi). Serigala itu berkata, "Ada yang lebih aneh dari itu, seorang utusan Allah di tempat yang ditumbuhi kurma, dia mengajak kepada Allah." Lalu Uhban datang kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam ia menceritakan hal itu dan masuk Islam.

Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah menyampaikan bahwa  kiamat tidak terjadi hingga binatang buas berbicara kepada manusia  dengan bahasa mereka. Ini pasti terjadi karena nabi telah menyampaikannya.

Walaupun kita takjub bahwa ada binatang yang berbicara kepada manusia dengan bahasanya, kita tetap beriman dan mempercayai berita nabi Shallallahu Alahi wa Sallam, orang yang jujur dan terpercaya. Kita tetap percaya kepada kodrat (kekuasaan) Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan Allah telah memberitakan bahwa  anggota tubuh manusia pada hari kiamat akan berbicara  dan menjadi saksi atasnya. "Dan mereka berkata kepada kulit mereka,  'Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?' Kulit mereka menjawab, 'Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, …'"(Fusshilat: 21).

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis

  1. Anjuran memberi nasihat dengan peristiwa-peristiwa yang menunjukkan besarnya kodrat Allah. Rasulullah menyampaikan hadis ini kepada para sahabat setelah shalat shubuh.
  2. Boleh memberi nasihat ba'da shubuh.
  3. Keagungan kodrat Allah dalam makhluknya. Allah mampu mengajarkan hewan untuk berbicara dengan bahasa manusia.
  4. Seorang muslim harus mempercayai berita-berita yang disampaikan oleh Al-Qur'an atau hadis dengan sanad yang shahih kepada Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, walaupun berita-berita itu aneh. Dalam hal ini tidak  ada perbedaan antara hadits mutawatir dan hadits ahad. Adapaun kisah-kisah palsu, dusta, dan hadisnya tidak shahih, maka tidak boleh diriwayatkannya kecuali untuk menjelaskan kelemahan dan kepalsuannya.
  5. Tidak boleh menggunakan hewan untuk sesuatu di mana Allah tidak menciptakannya untuk itu, seperti menggunakan kambing untuk membajak sawah atau sapi untuk ditunggangi dan membawa beban. Allah telah menciptakan binatang untuk menunaikan tugas yang sesuai dengan penciptaan dan kemampuannya.
  6. Keutamaan Abu Bakar dan Umar. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam telah menyampaikan bahwa iman keduanya begitu besar, keyakinan keduanya begitu kuat, pengetahuan keduanya terhadap besarnya kekuatan dan sempurnanya kodrat Allah begitu sempurna. Keduanya membenarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam tanpa maju mundur, walaupun keduanya tidak hadir saat shalat shubuh tersebut. Dan biasanya keduanya tidak pernah tidak hadir kecuali jika keduanya sedang tidak berada di kota Madinah bergabung dengan pasukan yang diutus oleh Rasulullah atau mengemban tugas lain yang dibebankan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Telah diketahui dari kehidupan Abu  Bakar dan Umar bahwa kedua orang ini tidak pernah tertinggal shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam jika keduanya sedang berada di dalam kota.

Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 226-231.