Pembantaian Muslim di Myanmar Diabaikan

MEIKHTILA (an-najah) – Pembantaian terhadap Muslim di Myanmar terus diabaikan. Warga Muslim di Myanmar masih terus menderita diskriminasi dari pemerintah sekaligus warga Myanmar.

Fokus kali ini ditujukan kepada Muslim di Meikhtila, di mana warga Muslim di sana menjadi sasaran kekerasan dari warga setempat. Hingga saat ini masih tampak sisa-sisa tulang dari korban kekerasan, khususnya di wilayah gelap dibalik puing-puing sebuah madrasah.

Fragmen tengkorak yang sudah hancur tampak jelas terbengkalai di permukaan tanah. Sisa-sisa tulang lainnya tampak berserakan di sebelah sebuah bambu yang digunakan oleh para pelaku penyerangan. Mereka menggunakan bambu itu untuk memukuli korban sebelum akhirnya korban dibakar hidup-hidup.

Insiden di Meikhtila yang terjadi pada Maret lalu, menewaskan sekira 43 orang. Mereka tewas setelah menjadi kekerasan dari warga, setelah seorang biksu terbunuh. Sebagian besar dari korban amukan warga Myanmar itu adalah warga Muslim yang tidak memiliki kaitan dengan peristiwa terbunuhnya biksu tersebut.

Di saat-saat terakhirnya, polisi sempat dikirim untuk menyelamatkan warga Muslim tersebut dari sebuah wilayah yang telah dilalap api dan dikepung massa yang tengah marah. Tetapi ketika polisi muncul, warga Muslim ini justru diperlakukan seperti kriminal dan dipaksa masuk ke empat truk yang diparkir jauh dari lokasi kerusuhan.

Apa yang terjadi Maret lalu, merupakan bentuk sejarah kelam Myanmar yang tengah melakukan transformasi menuju demokrasi. Kondisi yang berlangsung setelah kekerasan itu bahkan lebih parah. Tidak ada keadilan diberikan kepada warga Muslim yang menjadi minoritas.

Associated Press, Rabu (10/7/2013) mempaparkan pengakuan dan fakta di lapangan tentang apa yang terjadi pada saat kerusuhan dan kondisi yang dialami warga Muslim Myanmar saat ini. Menurut kantor berita Amerika Serikat (AS) itu, Presiden Thein Sein tidak pernah datang ke Meikhtila untuk memberikan penghormatan kepada mereka yang tewas dibunuh ataupun mengunjungi mereka yang masih bertahan hidup.

Sementara pihak penyelidik kepolisian tidak pernah menyisir ataupun mengumpulkan bukti dari tindak kekerasan yang mengerikan ini. Meskipun banyak video tentang tindakan kekerasan masyarakat setempat, terhadap siswa madrasah di Meikhtila, polisi tidak pernah menangkap satu tersangka pun.

Kelompok HAM internasional mengatakan, minimnya penegakan hukum membuat warga setempat seperti diberikan kesempatan untuk terus melakukan kekerasan terhadap warga Muslim Myanmar. Kondisi yang terjadi saat ini turut membuktikan bahwa kekuasaan tetap terkonsentrasi pada etnis Myanmar, elitis yang mendominasi Pemerintahan Myanmar.

“Bila aturan hukum benar-benar ditegakan di Myanmar, tentunya hal tersebut tidak hanya akan dinikmati oleh warga Budha di Myanmar. Kami sadar tidak akan keadilan untuk kami,” ujar Thida, yang suaminya terbunuh di Meikhtila, seperti dikutip Associated Press.

Berdasarkan keterangan, Associated Press, mengumpulkan fakta mengenai pembantaian pada 21 Maret lalu berdasarkan kesaksian 10 orang saksi, termasuk tujuh yang berhasil selamat dan bersedia untuk memberikan keterangan tanpa mengungkap identitasnya.

AP juga memeriksa ulang pengakuan tersebut dengan rekaman video yang diambil warga setempat tepat dengan tanggal dan waktunya, serta menggunakan foto dan informasi lainnya. [hilal/okz/annajah]