Gugatan Syiah pada MUI, Langkah Awal Perlawanan Syiah pada Ahlu Sunnah

SOLO (voa-islam.com) – Terkait gugatan kelompok sesat Syi’ah terhadap Fatwa Sesat Syi’ah yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Ustadz Abu Fati’ah Al-Adnani mengingatkan umat Islam untuk mewaspadai hal tersebut.

Gugatan yang dilayangkan kalangan Syi’ah Gugatan yang dilayangkan kalangan Syi’ah di Pengadilan Negeri (PN) Pusat Jakarta itu, dinilai penulis best seller buku-buku bertemakan akhir zaman ini sebagai sebuah langkah awal perlawanan kaum Syi’ah di Indonesia terhadap Ahlu Sunnah.

Dirinya menambahkan, gugatan tersebut dijadikan kelompok Syi’ah untuk mengukur sejauh mana respon ahlu sunnah. Selain itu, dengan “uji coba” tersebut juga akan digunakan kelompok Syi’ah sebagai tolak ukur kekuatan muslim sunni di Indonesia.

“Iya jelas. Ini sebuah langkah awal perlawanan secara terang-terangan kelompok Syi’ah,” katanya kepada voa-islam.com pada Selasa (4/6/2013) di Solo Jawa Tengah.

Salah satu pengajar Ponpes Darusy Syahadah Simo Boyolali ini menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh diam saja dengan sikap “permusuhan” yang ditunjukkan kelompok Syi’ah tersebut. Umat Islam, kata Ustadz Abu Fatiah harus melakukan perlawanan guna menghadang laju perlawanan kelompok Syi’ah yang lebih besar lagi.

Namun dirinya menghimbau, sikap perlawanan muslim sunni di Indonesia jangan menggunakan bentuk fisik. Jika untuk saat ini fisik yang digunakan, maka umat Islam akan mendapatkan madhorotnya. Sebab, sekarang ini kalangan Syi’ah dilihat mempunyai peran untuk mengontrol opini di masyarakat yang cukup kuat melalui media massa.

Apalagi, saat ini muslim sunni di Indonesia meskipun mayoritas hidup di negara yang bukan di atur dengan sistem Islam. Jika fisik yang digunakan, meskipun tindakan ahlu sunnah itu benar, tetap saja akan di beritakan dan di opinikan salah dan jelek.

“Kalau perlawanan (dari umat Islam -red) ya harus. Namun kita sekarang inikan hidup di negara Demokrasi, maka perlawanan dalam bentuk menyampaikan hujjah saat ini sudah cukup untuk melawan mereka,” terangnya.

“Coba kita lihat kasus pembubaran dan penutupan tempat kegiatan Ahmadiyah. Meskipun umat Islam sudah menggunakan cara dan jalur yang benar, proses mediasi sudah dilalui, tetap saja kan, media memberitakan yang buruk-buruk. Ini karena orang-orang Syi’ah punya power mengontrol opini publik di masyarakat,” tandasnya.