Untuk Menjadi Wartawan yang Baik tak Perlu Atheis atau Kafir

Hidayatullah.com–Seseorang bisa menjadi Muslim sekaligus wartawan yang baik pada saat yang sama. Artinya, untuk mendai wartawan yang baik tidak perlu jadi kafir atau Atheis.

Demikian pernyataan Dr Adian Husaini menanggapi wartawan senior The Jakarta Post Endy Bayuni yang mengatakan, seorang jurnalis seharusnya melepaskan identitas agama yang dianut ketika hendak menggali dan menulis sebuah berita.

“Seorang Muslim tidak perlu terjebak oleh cara berpikir seperti itu,” demikian ujar Adian Husaini, yang juga Direktur Institut Jurnalistik Attaqwa ini kepada hidayatullah.com, Senin (10/05/2013).

Menurut Adian, orang yang melepas keimanannya itu jelas dihukumi kafir, walau sesaat. Menurutnya, cara pandang netral agama dalam memandang berbagai masalah kehidupan adalah tradisi lokal Barat yang terbentuk akibat proses sejarah yang traumatik terhadap agama (Kristen).

Dr Adian Husaini mengatakan, seseorang tidaklah mungkin pernah netral, sebab semua orang pasti berpihak.

“Seorang tidak mungkin netral dalam arti sebenarnya. Dia pasti berpihak. Misalnya wartawan dengan identitas Muslim pasti tidak memihak koruptor, pembunuh, perampok, pezina, dan penganjur kemunafikan,” ujar pria yang juga penulis buku “Penyesatan Opini : Sebuah Rekayasa mengubah Citra” ini.

Sementara pimpinan redaksi Jurnal Islamia, Dr. Hamid Fahmi Zarkaysi, MA, mengatakan, pemikiran yang disampaikan Endy Bayuni biasanya hanya diambil oleh orang yang berpaham liberal. Sementara dalam Islam, melepas keimanan walau sekejab, sudah termasuk kafir.
“Kalau iman dilepas dia tidak netral juga karena dia akan akan jadi kafir dan cara pandangnya pun jadi Atheis, “ ujar pria yang baru meluncurkan buku “Misykat: Refleksi Tentang Islam, Westernisasi & Liberalisasi” ini.

“Di dunia ini tidak ada yang netral, karena manusia ada pada ruang dan waktu,” ujar anak kandung dari (alm) KH. Imam Zarkasy, salah satu dari tiga pendiri PP Modern Darussalam Gontor.

Ukurannya Haq dan Bathil

Seperti diketahui, saat peluncuran buku “Jurnalisme Keberagaman: Sebuah Panduan Peliputan”, yang diterbitkan oleh Serikat Jurnalis Keberagaman (Sejuk), di Jakarta, Rabu, (08/05/2013), wartawan senior The Jakarta Post Endy Bayuni mengatakan, seorang jurnalis seharusnya melepaskan identitas agama yang dianut ketika hendak menggali dan menulis sebuah berita, sehingga informasi yang disampaikan benar-benar fair, tanpa dipengaruhi oleh keyakinan yang ia miliki. Kalau perlu, mengabaikan iman mereka saat menulis.

Menurut salah satu pendiri Perhimpunan Internasional Jurnalis Agama (International Association of Religion Journalists, IARJ) itu, banyak jurnalis gagal menegakkan prinsip good journalism ketika meliput berita yang berkaitan dengan agama, sehingga jatuh dalam kecenderungan menghakimi.

Menurut Sekretaris MUI Jawa Timur, Mohammad Yunus persoalan iman dan kafir itu dalam Islam adalah hal serius dan saling berhadap-hadapan. Iman dalam Islam itu bukan perkara main-main.

Karena itu, menurutnya, jika seseorang ingin melepas iman walau sekejab, tetap saja masuk yang kufur. Selanjutnya ia menyarankan aga jika menjadil wartawan yang dibela ukurannya kebenaran, bukan netralitas. Dalam hal ini, kebenaran (al Haq), bukan netralitas.*